Fantasy - Romance (18+)
•
Sequel from ROSE DEATH
•
Tidak cukup dengan kematian Rose, kini datang kembali kematian tak terduga yang dialami oleh Elena Rosabelle setelah penikahannya dengan James Alexander.
Diduga kematiannya yang misterius...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Elena mendapati dirinya berada di tempat yang asing, di dalam sebuah rumah bermaterial kayu dengan furniture yang cukup mewah, ada tungku perapian dan juga sofa-sofa. Elena pun menoleh ke arah pintu kaca di dekatnya sambil melangkahkan kaki, suasana di luar sana masih gelap. Perlahan tiba di sebuah teras samping yang terdapat meja bundar serta beberapa kursi, cukup terkejut karena di sekeliling rumah tersebut ditumbuhi oleh pepohonan rimbun dan juga semak-semak belukar. Elena tidak tahu pasti di mana letak rumah itu, dan juga bertanya-tanya mengapa ayahnya mengirimnya ke sana.
“Elena,” lirih seorang pria membuat gadis yang berdiri di balkon itu menoleh.
“James,” ucap Elena sembari berjalan mendekatinya. “Jadi Ratu Irina juga mengirimmu ke sini,” lanjutnya.
“Ya.”
“Di mana Sean?” Elena berharap pemuda itu juga ikut bersama mereka.
“Entahlah, Paman Stefan yang membawanya. Kurasa dia sudah kembali pulang,” beritahu James. Matanya menatap lekat-lekat gadis di depannya.
Elena menghela napas samar, ia sungguh ingin Sean terus bersamanya, tapi memang lebih baik pemuda itu pulang ke rumah dan tidak terlibat dalam urusan ini. Semakin lama Elena melibatkannya, maka semakin besar ancaman yang datang kepada pemuda itu. Ia juga tidak mau Sean terluka atau mengalami hal yang lebih parah.
“Aku ingin melihat-lihat rumah ini,” putus Elena sembari melangkah melewati tubuh tinggi James. Tiba-tiba saja pria itu menahan lengannya. Elena pun memberi tatapan yang tajam.
“Kau masih istriku ‘kan Elena?” James bertanya penuh harap
“Iya, secara teknis. Tapi aku masih tidak mau kau menyentuhku secara berlebihan, apalagi memiliki keturunan denganmu,” kata Elena menekan dan menarik perlahan tangannya dari cengkraman James, lalu melanjutkan langkahnya.
“Kau berubah,” ucap James membuat langkah Elena kembali berhenti dan mereka sama-sama berbalik untuk saling berhadapan.
“Kalau begitu aku minta maaf karena telah berubah, tetapi bukan berarti aku tidak lagi menyayangimu James,” ucap Elena kehabisan kesabaran. Ia sungguh tidak ingin berdebat lagi tentang hal itu.
Perlahan James melangkahkan kakinya untuk mendekati Elena lagi, sorot matanya kali ini tajam dan dingin. “Jika kau menyayangiku mengapa kau tidak pernah membalas perasaanku?” tanyanya.
“Aku tidak bisa,” ujar Elena cepat.
Di detik itu pun James langsung menangkup erat kepala Elena dengan raut wajah mengeras. Hal itu berhasil membuat Elena terkejut hingga ia bisa merasakan kepalanya terjepit oleh kedua tangan James. Mata mereka kini beradu dan cukup dekat, masing-masing menunjukan sorot mata yang berbeda. James dengan kemarahannya dan Elena dengan rasa keterkejutannya.
“James?” panggil Elena karena perlahan bisa merasakan kepalanya memanas.
Begitu James tahu telah menyakitinya gadis itu, pelahan ia melonggarkan tangkupannya. Entah mengapa amarah selalu menguasainya ketika keinginan hatinya menolak untuk dimiliki. Seperti Elena yang sungguh tega tidak mau membalas perasaannya. Seharusnya James tahu itu tidak akan pernah terjadi meskipun seberapa keras ia menginginkannya.