Chapter 49

108 13 2
                                        

James kembali dari dapur dan menduduki ruang sofa depan, masih dengan kemejanya yang tak terkancing

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

James kembali dari dapur dan menduduki ruang sofa depan, masih dengan kemejanya yang tak terkancing. Ia tidak terlalu mengurusinya karena tidak punya kemeja lain untuk dipakai. Tuan Albert hanya menyediakannya satu untuknya waktu pertama datang ke sini. Bodohnya ia merusaknya hanya demi meluapkan hasratnya.

Ia cukup kalut kemarin malam, meski sempat mencurigai sikap Elena, tapi kecurigaannya tidak cukup membuatnya berhenti ataupun tersadar. Kecuali waktu itu Elena menamparnya lebih dulu sebelum ia berhasil menanggalkan semua pakaiannya. Kegiatan itu masih terbayang-bayang di ingatannya. Entah harus senang karena berhasil menembusnya atau bersedih karena Elena yang kemarin itu bukanlah Elena yang ia pikirkan. Kini James merasa jauh lebih kalut dan ling-lung.

Beberapa saat duduk di sana, James menyadari ada sesuatu tergeletak di karpet berbulu. Sebuah lampu petromax yang kaca pelindungnya sedikit retak. James memungut dan memperhatikannya dengan kernyitan. Mengapa ada lampu di sana? Ia pun meletakannya di atas meja sembari memikirkan sesuatu.

Sesaat kemudian Sean datang dengan rambut basah sambil mengusapnya dengan handuk kecil berwarna putih. Pemuda itu pun menghempaskan tubuhnya di sofa single. “Aku tidak menemukan pengering rambut di sini,” keluhnya.

James tidak menghiraukan dan sibuk melamun. Sean pun melempar handuknya ke arah James hingga pria itu mengerjap dan melototinya ketika handuk itu menampar wajahnya.

“Kau sedang memikirkan apa? Apakah ada kabar tentang Duvland lagi?” tanyanya karena tidak ada alasan lain yang membuat orang-orang di rumah ini cemas selain keadaan Duvland yang sedang diporak poranda oleh penyihir aliran hitam.

James menggeleng. “Apakah Elena dapat keluar ke hutan tadi malam?”

“Tidak, terakhir aku meninggalkannya sendirian di ruang bawah tanah. Kurasa dia tidak akan pergi ke mana-mana,” sahut Sean sedikit mengeryit heran. Ia menatap lampu petromax di atas meja, itu lampu yang dilihatnya kemarin di ruang bawah tanah. “Apa lampu itu membuatmu curiga dan mengira Elena keluar malam-malam?”

Langsung James menghela napas, ia tidak tahu harus mengatakannya bagaimana tentang kecurigaannya pada Elena tadi malam. Haruskah James beritahu Sean soal kegiatan intim itu? Rasanya tidak perlu karena perasaan Sean terlalu sensitif jika bersangkutan tentang Elena. Ia peduli dengan sepupunya dan ia juga peduli dengan istrinya. Meski pun James ingin membuat mereka berpisah, tapi ia tidak akan sejahat itu menghancurkan hati mereka. Ia mengerti Sean dan Elena saling mencintai.

“Elena bersikap sedikit aneh. Kurasa dia sudah meminum sesuatu di ruang bawah tanah itu,” ungkapnya.

“Aneh bagaimana? Dia tidak mabuk.” Sean membantah.

“Aku tahu, Elena pasti meminum ramuan tertentu sampai dia kehilangan sebagian dirinya. Tidakkah kau sadar sikapnya tadi? Dia tersenyum—maksudku menyeringai,” kata James berusaha menyakinkan Sean tentang perubahan sikap Elena.

DOPPELGÄNGER [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang