Sean memang sudah keterlaluan nekad. Pemuda itu sekarang sudah bergegas untuk memburu Kelly bersama Max yang terus-terusan mengoceh tidak jelas. Tiba-tiba ponsel Sean bergetar dan berbunyi dari balik saku hoodienya.
Sembari terus menyetir, Sean akhirnya mengangkat panggilan itu, tertera nama Kelly di layar ponselnya. Dengan senang hati Sean pun mengangkatnya. “Ada apa? Mengapa kau menelponku?” tanyanya.
“Baiklah, aku juga ingin bertemu denganmu,” ucap Sean setelah mendengar jawaban dari Kelly. Gadis itu bilang ingin bertemu dengan Sean di rumahnya.
Sean pun mematikan sambungan telepon dan memasukan kembali ponselnya ke saku hoodie. Lalu membanting stir ke kiri melewati tikungan jalan.
“You are crazy!” kata Max berkali-kali mendesis tidak percaya. Bahkan dirinya mengikuti tindakan bodoh dari sahabatnya itu.
“Aku tahu ini gila Max. Tapi aku hanya ingin memberinya sedikit pelajaran,” sahut Sean.
“Sedikit?” Max menatap pemuda itu. “Sean, kau akan membunuhnya. Kau bahkan membawakannya senjata berbahaya.”
“Lihat saja nanti, kau akan terkejut.”
Kesabaran Max sampai habis karena menasihati pemuda keras kepala itu, ia lantas menatap keluar kaca mobil. “Aku tidak mau ikut, turunkan aku! Kau benar-benar sudah gila.”
Tidak ragu Sean pun menepi dan menatap Max datar. “I don't need you anymore, Maxim,” tekannya.
“Fine!” Max pun keluar dari mobil Sean. “Jangan salahkan aku bila terjadi sesuatu padamu. Itu kesalahanmu sendiri Peterson,” katanya kesal lantas membanting pintu mobil Sean cukup keras.
Sean tidak mengatakan apa-apa lagi dan menginjak gas meninggalkan sahabat pirangnya itu. Sementara Max memaki-maki sendirian di tepi jalan sembari melihat kepergian Sean. Ia mondar-mandir dan merasa cemas dan kesal di waktu yang bersamaan.
“Sial,” Max mengumpat sambil mencengkram rambut pirangnya.
Beberapa detik setelahnya, Max melihat sebuah mobil Chevrolet Camaro LZ1 hitam dengan plat nomor yang terlihat familier. Max memperhatikan mobil itu mendekat dan ternyata dugaannya benar, mobil itu milik Maddie. Ia pun melambaikan tangannya, siapa tahu gadis itu bisa membantunya membujuk Sean.
“Max?” tanya Maddie heran setelah menepi. Tapi pemuda itu malah masuk ke dalam mobilnya.
“Dengar! Sean ingin membunuh Kelly,” beritahu Max terlihat tidak tenang.
Salah satu alis Maddie pun terangkat dengan raut bertanya. “Ya, terus?”
“Astaga, kenapa kau tidak cemas mendengar pacarmu ingin membunuh seseorang? Ayolah, Sean akan melakukan pembunuhan. Ini tidak baik untuknya. Kau mau punya pacar seorang kriminal?” jelas Max semakin jengkel dengan keadaannya. Bahkan gadis yang berstatus sebagai pacar Sean itu tidak memiliki reaksi apapun terhadap masalah ini.
“Oke, tenanglah Max. Sean pasti tidak serius,” balasnya yakin.
Raut wajah Max semakin frustasi karena jawaban Maddie yang sama sekali tidak membantu. “Sean membawa senjata untuk membunuh Kelly. Apakah sekarang kau yakin dia tidak serius? Dia pasti sudah membunuhnya sekarang.”
Akhirnya Maddie mengalah. “Baiklah Max, ke mana kita pergi?” tanyanya.
“Cepat kita ke rumah Kelly, aku tidak ingin sahabatku sampai berurusan dengan hukum,” kata Max meminta Maddie agar cepat bergegas. Ia sudah sangat khawatir, harap-harap Sean berubah pikiran.
Maddie pun segera menuju rumah Kelly dengan Max yang menjadi petunjuk arahnya. Sekitar 5 menit dalam perjalanan, dan sampailah mereka di depan rumah bergaya modern kontemporer yang identik dengan kemegahan. Tidak heran karena keluarga Boyd memang terkenal kaya raya.
KAMU SEDANG MEMBACA
DOPPELGÄNGER [Completed]
RomantizmFantasy - Romance (18+) • Sequel from ROSE DEATH • Tidak cukup dengan kematian Rose, kini datang kembali kematian tak terduga yang dialami oleh Elena Rosabelle setelah penikahannya dengan James Alexander. Diduga kematiannya yang misterius...
![DOPPELGÄNGER [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/240090082-64-k885556.jpg)