Chapter 36

131 19 3
                                        

“Maddie, berhenti!” tegur Sean berlari kecil mengejar gadis berambut hitam yang berjalan cepat di depannya. Merasa sedikit heran karena Maddie terlihat begitu sedih dan tersiksa setelah mendengar kematian Edward, atau mungkin hanya merasa sangat bersalah karena gagal melindungi pria itu.

“Maddie!” ujar Sean lagi. Pada akhirnya ia dapat meraih tangan Maddie dan menariknya hingga tubuh mereka nyaris bertabrakan.

Maddie yang merasa sangat kacau memilih untuk menundukan kepalanya, menghindari kontak mata dengan pemuda di hadapannya itu. Karena tahu sekarang ini Sean tengah mencurigai tingkahnya yang begitu mencemaskan Edward.

Hey, look at me!” titah Sean sembari menangkup sisi wajah Maddie dan sedikit mendongakannya agar gadis itu bisa menatapnya. “Apapun yang kau rasakan saat ini, tolong jangan abaikan aku!” pintanya.

Mata Maddie menatap nyalang, lagi-lagi rasa bersalah tumbuh di benaknya. “Aku tidak bermaksud begitu,” ucapnya pelan.

Sean pun beralih mengusap wajah Maddie dan menatap mata abu-abunya dalam-dalam agar gadis itu merasa tenang. “It's okay to care about everyone, but don't run away from me!” ujarnya.

Maddie mengangguk pelan dengan kedua tangan Sean yang masih menangkup sisi wajahnya. “I'm sorry,” balasnya.

Kemudian Sean memeluk gadis itu dan mengusap bahunya, mengalirkan ketenangan ke dalam hatinya. Sean mungkin tidak bisa lakukan apapun dalam keadaan ini, tapi ia percaya mereka berdua bisa melampaui setiap masalah.

“Aku tidak bisa berdiam diri Sean. Aku harus selamatkan Edward.” Maddie melepaskan pelukan Sean di tubuhnya lantas mendongak menatap pemuda itu.

“Tapi bagaimana?”

“Batu rubinya. Aku yakin itu bisa membuat Edward hidup lagi. Dan sekarang aku harus merebutnya kembali dari Trudy,” ucap Maddie bertekad.

Raut wajah Sean seketika ingin memprotes. “Tidak Maddie, itu berbahaya. Bagaimana jika kita mengalami hal yang sama seperti Edward dengan pergi ke tempat wanita itu?”

“Tidak Sean, hanya aku yang pergi. Aku tidak ingin membahayakanmu lagi. Maafkan aku karena telah melibatkanmu sejauh ini,” ujar Maddie sembari membawa dirinya mendekat. Memeluk pemuda itu lagi tanpa adanya penolakan.

“Aku mohon jangan tinggalkan aku,” tukas Sean.

“Maaf, tapi kau harus tetap tinggal di sini!”

Seketika Sean mendapatkan sebuah kecupan lembut di lehernya, kemudian dapat dirasakan dua benda tajam menusuk dan merobek pembuluh darahnya.

Aahkk .... Maddie, you hurt me!” Sean mengerang sembari mencengkram gadis itu berupaya untuk melepaskan diri. Namun tubuhnya terlebih dulu melemas hingga terhempas dan membentur lantai. Saat itulah penglihatannya memburam, perlahan-lahan kegelapan pun datang menghampirinya dalam beberapa detik.

Sementara Maddie terlihat menyeka sisa darah di bawah bibirnya sambil menatap tubuh Sean yang tergeletak di lantai. Perlahan Maddie pun bersimpuh dan mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah pemuda tampan itu.

“Aku mencintaimu dan aku tidak akan membiarkanmu dalam bahaya. Tidurlah selama beberapa saat sampai aku kembali,” gumamnya. Ada sedikit rasa bersalah dalam benaknya karena telah menyakiti pemuda itu. Namun inilah yang harus ia lakukan agar Sean tidak keras kepala.

“Maafkan aku,” ucapnya lagi. Lalu memakai tudung jubahnya sembari bangkit berdiri.

Baru disadari, rupanya seseorang sedari tadi sedang bersembunyi di belokan lorong. Segera Maddie beranjak pergi karena mengetahui siapa orang yang berdiri sana. Lalu mencari sebuah pintu di sisi lorong dan membukanya. Terdapat tangga kecil menuju ke bawah yang minim penerangan. Dengan cepat gadis itu menuruninya hingga menemukan pintu besi.

DOPPELGÄNGER [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang