Chapter 18

232 19 13
                                        

WARNING! 18+

WARNING! 18+

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ä


Bibir basah dan berkilauan milik Sean tepat berada dekat di atasnya. Maddie terpejam dan berjinjit untuk menggapainya, menyentuhnya dengan ringan seolah takut bibir itu akan rapuh. Hanya bertahan beberapa detik di sana sudah membuat getaran di dadanya semakin cepat. Tidak bisa ia bayangkan betapa ciuman ini terasa lebih intim.

“Sean,” lirih Maddie sembari mencengkram lengan pemuda itu. Ia sungguh ingin menuntaskan ini, ingin menikmati getaran gairah yang kian bermunculan ketepian.

Sean mengangkat sedikit kepalanya, memangut bibir atas milik Maddie sembari menyesapnya perlahan seiring rintik air membahasi kepala dan tubuh mereka. Spontan Maddie membuka mulut seakan memberi akses lebih pada pemuda itu. Lidah Sean kini telah berhasil tenggelam sepenuhnya dan lidah mereka saling bertautan, juga sentuhan hangat pada rongga mulutnya yang dingin.

Sensasi ini membuat Maddie benar-benar menggila, ia sungguh akan gila. Tangan Sean yang berada di balik kaos basahnya senantiasa membelai punggungnya lembut sampai membuat tubuhnya meremang. Beberapa saat hal tersebut terasa sangat memabukkan sebelum Sean meninggalkan bibirnya. Entah mengapa hatinya merasa kecewa seketika itu terjadi.

Terlihat Sean terengah-engah dengan mata tersorot tajam. Pemuda itu tak bersuara dan malah melepaskan tubuhnya. Maddie tidak bisa menyuarakan tuntutan pada Sean untuk segera melanjutkannya lagi.

Sean mendadak merasa bimbang karena mengingat Anne masih marah padanya karena kesalahpahaman. Dan sekarang ia hampir melakukan kesalahan itu pada Maddie. Tapi, ada bagian lain dari dirinya yang tak tertahankan. Setelah ciuman panasnya tadi Sean tidak bisa berhenti sampai di sini.

Kembali diraihnya tubuh Maddie untuk membunuh jarak di antara mereka. Lantas tangannya kembali bergerak menggapai ujung kaos gadis itu dan menariknya melewati kepala, kemudian dilemparnya ke bawah. Matanya kini menatap tubuh bagian atas Maddie yang sialnya masih menyisakan bra hitam, tapi hal itu membuat gadis itu terlihat sangat seksi.

Sejenak Maddie memperhatikan pandangan mata Sean terjatuh pada dadanya, lalu kembali naik menatap matanya. Akhirnya ia kembali terpejam kala wajah Sean mendekat, lalu dirasakannya lagi bibir itu membelai, melumat hingga sesapan lembut tepat di permukaan bibirnya. Menggoda dengan ringan dan sentuhan jemari pemuda itu pada sisi tubuhnya.

Bibir Sean kemudian turun menyentuh dagunya sampai Maddie menengadahkan kepala agar pemuda itu benar-benar lebih turun menemukan lehernya. Lidah panas Sean kian menjadi-jadi dan terus menjejakinya.

Ahh...,” desahan terlepas begitu saja dari mulut Maddie ketika Sean menghisap kuat dan menekan bibirnya di sana. Sesuatu yang membakar dirinya semakin besar, sesuatu yang tidak ingin ia padamkan. Bahkan Sean semakin gencar menurunkan ciumannya. Ia tidak ingin pemuda itu berhenti lagi.

DOPPELGÄNGER [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang