Chapter 35

165 15 1
                                        

Kenyataannya Trudy salah, gadis itu sama sekali tidak lengah, bahkan peluru yang ia tembakkan hancur karena kekuatan yang gadis itu aktifkan.

"Kita tidak bisa melawannya Trudy, gadis itu terlalu kuat. Kita akan hancur berkeping-keping bila memaksakan diri," bisik salah satu anak buahnya yang berdiri tepat di sampingnya, terlihat jelas merasa gentar.

Namun Trudy tidak akan menyerah secepat itu. Sesuatu yang diincarnya berada di depan matanya, sebisa mungkin ia harus mendapatkannya. Diliriknya gadis itu dengan sengit sembari mengeluarkan sebuah bola air.

Maddie pun menaikan salah satu alisnya melihat apa yang dikeluarkan oleh wanita itu. "Senjata apa lagi yang ingin kau gunakan untuk melawanku?" tanyanya.

"Diamlah! Dan terima ini!"

Trudy melempar benda di tangannya ke arah gadis itu dengan sekuat tenaga. Dalam sekejap Maddie berhasil mengancurkannya menggunakan kekuatannya. Alhasil air dari dalam bola itu terpercik ke mana-mana.

Dalam hitungan detik netra abu-abu Maddie membulat sempurna dan spontan memekik kesakitan ketika air itu menyentuh kulitnya. Rasa panas dan terbakar perlahan ia rasakan seolah menyengat. Tubuhnya luruh di tanah dan bersimpuh menopang tubuhnya menggunakan lutut dan tangan.

"Elena," lirih Edward panik. Napas gadis itu kini memburu dengan ekspresi yang begitu kesakitan.

Trudy menyunggingkan senyuman licik. "Itulah akibatnya kalau menghalangiku," ujarnya sambil menodongkan pistol dan diikuti oleh anak buahnya.

Edward bergeming saat itu juga, keadaan mereka sudah sangat terdesak. Lima hunter itu kapan saja bisa menembaknya. Ia harus mencari cara untuk kabur.

"Serahkan pedang itu!" Trudy menggertak.

"Tidak akan," sergah Edward, mengambil dan menggenggam pedangnya erat-erat.

"Baiklah kalau kau mau mati." Trudy melangkah mendekat dengan pistol yang ditodongnya ke kepala Edward, membuat pria itu semakin bergeming.

Maddie pun berdecak kesal. Meskipun dirinya sekarang merasa kesakitan karena air sialan itu, setidaknya ia masih punya tenaga untuk bergerak. Dengan perlahan Maddie bangkit dan menggenggam tangan Edward sebelum Trudy menarik pelatuk pistolnya.

DOR

"Aaargghh...,"

Edward memekik tertahan mengetahui dirinya telah tertembak, dan itu terjadi sangat cepat sebelum Maddie sempat membawanya melesat. Pria bermanik hijau itu pun tak kuasa menopang tubuhnya hinga jatuh kepelukan Maddie, bahkan pedang yang digenggamnya lepas dari tangannya. Melihat begitu banyak darah merembes keluar dari tubuh Edward, Maddie benar-benar sangat panik.

Nyatanya suara tembakan itu bukan berasal dari pistol Trudy, tapi berasal dari salah satu anak buah hunter-nya. Pantas saja Maddie tidak menyadarinya karena terlalu fokus kepada Trudy yang menodongkan pistol ke arah Edward. Memang sungguh di luar dugaan.

Trudy pun mendekat dan memungut pedang itu. Namun Maddie tidak bisa mencegahnya karena kini ia lebih mengkhawatirkan keadaan Edward. Pria itu terlihat merintih sakit sembari memegangi luka tembakan di tubuhnya.

"Selamat tinggal tikus kecil," celetuk Trudy sambil menyunggingkan senyuman getir.

Wanita hunter itu kemudian berbalik pergi membawa pedang berdarah itu, membuka portal berbentuk lingkaran kuning keemasan hanya dengan mengulurkan telapak tangannya. Satu-persatu para hunter itu pun menghilang setelah memasukinya. Dan kini hanya tinggal Maddie bersama Edward yang kondisinya semakin mengkhawatirkan.

DOPPELGÄNGER [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang