Fantasy - Romance (18+)
•
Sequel from ROSE DEATH
•
Tidak cukup dengan kematian Rose, kini datang kembali kematian tak terduga yang dialami oleh Elena Rosabelle setelah penikahannya dengan James Alexander.
Diduga kematiannya yang misterius...
Butuh waktu lama bagi Elena untuk memperhatikan makhluk yang baru saja ia tangkap. Rupanya peri itu benar-benar ada, bukan hanya sekedar tertulis dalam buku dongeng anak-anak. Elena mulai menyakini penulis dongeng-dongeng itu pasti sudah pernah melihatnya, mana mungkin mereka bisa menuliskan wujud peri tanpa pernah melihat peri sebelumnya.
Peri kecil di dalam botol selai itu mengetuk-ngetuk dari dalam, meninju dan menendang. Elena masih tidak mau mengeluarkannya karena ia tidak mau si kecil itu menganggunya lagi. Beberapa menit kemudian peri itu terlihat terengah-engah seolah kehabisan napas. Elena berdecak dan menatapnya dekat sambil menyeringai.
“Kehabisan napas, uh?”
“Aku akan mengeluarkanmu kalau kau pergi dan tidak mengangguku.” Elena bermurah hati dan segera membuka tutup selai untuk mengeluarkan peri kecil itu.
Begitu terbuka, peri itu langsung melesat naik dengan sayap mengepak cepat dan berkilauan. Elena kembali duduk sambil menarik buku sejarah penyihir. Tiba-tiba saja peri itu kembali muncul, mendarat di atas buku sembari menatap Elena garang dan berkacak pinggang. Peri itu sepertinya sungguh marah padanya.
“Apa? Sudah kubilang jangan ganggu aku!” tekan Elena mengibaskan buku hingga peri menyebalkan itu terpental.
Lagi-lagi si peri kecil menghampirinya, terbang mendekati wajahnya. Entah peri itu mengerti bahasanya atau tidak, atau memang ingin menjahilinya. Dan Elena sangat tidak suka diganggu seperti ini di waktu suasana hatinya sedang buruk.
“Menyebalkan!”
Buuk…
Elena menjepit peri itu di dalam buku, menekannya kuat-kuat agar mati saja sekalian. Tidak peduli semanis apa wujud peri itu, siapapun yang membuatnya jengkel akan segera ia habisi detik itu juga.
Namun, Elena merasakan bukunya sedikit memberontak, ada suara cicitan kecil seperti seekor tikus. Masih belum mati rupanya, Elena pun membukanya hingga si peri melesat terbang. Tidakkah itu cukup memberinya pelajaran agar tidak menganggunya lagi? Tapi sepertinya peri kecil itu tidak kapok-kapok. Kembali mendarat di meja dan menatap Elena sengit.
Peri itu kemudian menunjukan sebuah pergerakan, bibirnya bergerak komat-kamit seolah sedang berbicara padanya. Tapi yang terdengar hanya cicitan kecil seperti suara tikus. Bagaimana mungkin Elena bisa memahaminya. Ia berpikir kalau si kecil itu sedang memberitahunya sesuatu.
Elena mendekatkan wajahnya, peri itu memiliki rambut coklat bergelombang dengan mahkota ranting menghiasinya, serta bintik-bintik merah di wajahnya. Pakaiannya terbuat dari kelopak-kelopak bunga yang sudah memudar hitam kehijauan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan,” ujar Elena.
Peri itu memutar bola mata dan mengetuk jidat. Lalu melangkah menaiki salah satu buku mantra dan menghentak-hentakan kaki di atasnya. Elena mengeryit, sepertinya peri itu ingin ia membukanya. Segera Elena mengambilnya dan menatap si peri lagi yang kini terbang di depan wajahnya. Tangan peri itu pun menunjukan angka tujuh kemudian enam, yang artinya Elena harus membuka halaman 76. Setelah membukanya si peri kemudian menunjuk salah satu mantra.