Chapter 30

159 15 2
                                        

Perbatasan kota, Hustown
Bulan Oktober, tengah malam

Malam ini tidak seperti malam-malam sebelumnya. Angin berhembus kencang dari arah berlawan hingga menerpa tubuh seorang gadis yang sedang melangkah cepat di sisi jalan.

Tidak ada seorang pun atau kendaraan yang lewat di jalan tersebut, sebab waktu sudah menunjukan tengah malam. Semua penduduk kota pastinya sudah terlelap bersama mimpi-mimpi mereka.

Gadis itu memeluk dirinya sendiri, matanya sibuk menelisik. Rasanya hampir seluruh tubuhnya mati rasa sampai tak berdaya untuk berlari kencang, sejauh ini ia sudah kehabisan tenaga dan ingin sekali segera menghilangkan rasa haus yang menyiksa tenggorokan.

Pada akhirnya ia melewati sebuah gang kecil dengan pencahayaan remang. Mendadak tangan hingga tubuhnya mulai gemetar, matanya yang sendari tadi merah pekat memandang lapar.

Seorang pria pun muncul dari balik kegelapan. Terlihat mabuk berat dan membenturkan dirinya di dinding kanan gang sambil meminum sebotol bir.

Gadis itu pun perlahan melangkah mendekat, sampai si pemabuk itu memberinya tatapan menggoda. Karena sudah tidak bisa mengendalikan diri, gadis itu menerjang pemabuk itu hingga kembali membentur dinding gang lumayan keras. Lalu mengeluarkan taringnya.

Dan pria pemabuk itu berteriak kencang saat gadis itu berhasil menembus hingga merobek kulit lehernya secara brutal, menghisap darahnya sampai tak tersisa. Pada akhirnya tubuh pemabuk itu memucat dan ambruk ke jalan berlapis beton itu.

Merasa sangat puas, gadis itu lantas menyeka sudut-sudut bibirnya dan kembali menghisap darah yang menempel di jari-jarinya. Kehausan darah selalu membuatnya kehilangan kendali, tidak peduli siapapun. Tapi kadang ia merasa menyesal telah membunuh orang-orang tak berdosa.

“Hei!”

Tiba-tiba seseorang mengagetkannya. Gadis itu pun menoleh sekilas dan kembali memalingkan wajahnya. Ia melihat segerombolan orang berjalan menghampirinya, segera ia berlari untuk menghindar.

Saat menyebrangi jalan, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dan nyaris menabraknya. Mobil  berjenis sedan hitam tersebut kini berhenti tepat di hadapannya. Lalu ia memperhatikan orang yang sedang mengemudikan mobil tersebut. Ia tidak bisa melihat dengan jelas karena terhalang sinar lampu led.

“Hei jangan lari!” Lagi-lagi segerombolan orang itu berteriak. Segera ia berlari menjauh hingga melesat ke semak-semak untuk bersembunyi.

Terlihat mobil tadi kembali melaju dan kini orang-orang yang sempat memergoki aksi brutalnya kebingungan mencari keberadaannya.

Perlahan ia bergerak menjauh dan seketika seseorang membekap mulutnya dari belakang dan menyeretnya sangat jauh. Ia tidak tahu siapa yang melakukan ini dan mencoba untuk melepaskan diri. Sontak tubuhnya dihempas oleh orang itu dan membentur batang pohon sangat keras. Ia pun meringis kesakitan.

Orang itu pun mendekatinya sembari menyeringai. “Akhirnya aku menangkap satu vampire pengacau,” katanya.

“Apa maumu?” tanyanya berusaha bangkit. Orang di hadapannya ini rupanya adalah seorang hunter.

“Tentu saja menghabisimu,” balasnya sembari mengeluarkan senjata dari balik jaketnya. Lalu mencengkram leher gadis itu dengan kuat sampai tak bisa mengeluarkan suara.

Ia pun mencari cara agar bisa terlepas. Kemudian mengeluarkan taring vampirnya dan menggigit tangan lelaki hunter itu sampai membuatnya mengerang kencang.

Inilah kesempatannya untuk melarikan diri. Ia melesat ke arah hutan dan tidak tahu apakah jalan yang diambilnya ini benar atau salah. Yang terpenting sekarang ia lepas dari kejaran lelaki hunter itu.

DOPPELGÄNGER [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang