Chapter 33

147 16 2
                                        

Setelah mendengar suara tembakan senjata, Edward, Damien, dan Sean terburu-buru menuju ke arah sumber suara tersebut. Terlihat sudah ada banyak orang berkerumun di salah satu gang sambil membicarakan apa yang terjadi di sana. Damien yang waktu itu hendak mendekat, mendadak berhenti karena mencium aroma darah dari kerumunan itu. Sementara Edward dan Sean tetap menerobos untuk melihat kondisi duvel yang sepertinya terluka parah akibat tembakan senjata manusia.

“Oh yang mulia pangeran!” seru para duvel yang sedang mengerumuni duvel yang terluka, lantas membuka jalan bagi Pangeran Edward.

Edward melihat seorang duvel laki-laki tergeletak mati bersimbah darah serta luka tembak di bagian dada. Ia kemudian menatap sekeliling mencari hal yang sekiranya mencurigakan.

“Kalian melihat orang yang menembaknya?” tanya Edward pada orang-orang yang ada di sana.

“Maaf yang mulia, kami tidak melihat siapa pun saat kami tiba di sini,” beritahu salah satu duvel perempuan yang terlihat shock.

Edward pun menghela napas kasar. “Baiklah, segera angkat mayat itu! Aku tegaskan, dalam keadaan darurat ini tidak boleh ada yang berkeliaran, mengerti?” tegasnya.

“Baik yang mulia,” ucap mereka semua sembari menunduk. Satu persatu dari mereka kemudian beranjak pergi. Dua orang dari mereka tampak mengurus mayat duvel itu.

“Aku tidak percaya ini.” Edward mendesis kasar sembari mengusap wajahnya. “Manusia-manusia itu membantai penduduk Duvland. Apakah mereka ingin berperang?” tanyanya sambil menoleh ke arah Sean.

Pemuda itu menggeleng. “Mereka datang untuk mencari sesuatu,” jawabnya.

“Apa?”

“Kita tidak bisa bicara di tempat terbuka seperti ini,” sela Damien yang datang mendekat.

“Baiklah. Ikut aku ke istana!” balas Edward dengan nada memerintah lantas melangkahkan kakinya.

Sean pun mulai menyadari kalau Maddie tidak ada di antara mereka. “Tunggu, di mana Maddie?” tanyanya. Edward dan Damien pun ikut tersadar dan menatap sekeliling.

“Aku di sini!” lirih Maddie yang tiba-tiba muncul dari arah belakang mereka. Gadis itu mendekat.

“Kau dari mana?” tanya Damien.

“Aku mengikuti seseorang,” jawabnya.

Tadi saat orang-orang sedang berkerumunan, Maddie tak sengaja melihat seseorang keluar dari kerumunan itu. Orang tersebut berpakaian sama seperti para duvel, hanya saja memakai jubah mantel berwarna hijau tua. Karena terlihat mencurigakan, Maddie menutuskan untuk mengikutinya secara diam-diam.

Diikutinya orang itu hingga ke sebuah gang lain yang sepertinya menghubungkan ke arah belakang istana. Maddie kemudian melihat orang itu mengulurkan tangannya ke depan dan lingkaran kuning keemasan muncul di depannya. Orang itu pun lenyap saat memasuk ke dalam lingkaran itu. Sontak membuat Maddie terkejut dan tidak percaya. Bagaimana manusia bisa membuat portal jika yang melakukannya bukan penyihir?

“Aku akan mengatakan sesuatu, tapi jangan di sini. Mungkin saja hunter lain melakukan penyamaran di sekitar kita,” ujar Maddie. Yang terlihat dari gadis itu hanya bibir yang berbicara, sementara mata dan rambutnya tertutup tudung jubah.

“Kalau begitu cepatlah ikut aku ke istana,” kata Edward lagi.

Mereka bertiga kemudian mengikuti langkah Edward lagi hingga sampai di depan gerbang istana. Bisa dilihat di samping kerajaan terdapat hutan yang menghubungkan ke wilayah Kerajaan Morgan. Di dalam hutan tersebut juga terdapat portal yang mengantarkan ke hutan Alfosh yang berada di bumi.

DOPPELGÄNGER [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang