Chapter 7

212 26 0
                                        

Mata James sontak melebar ketika jendela mobil itu turun sepenuhnya. Ia seakan membeku di tempatnya berdiri tanpa berani mengedipkan mata. Gadis itu hanya menatapnya bingung.

"Well, seberapa parah mobilmu aku hancurkan? Jika perlu aku akan membelikan mobil model baru untukmu," balas gadis itu tersenyum miring sambil melirik mobil James, seolah sedang melakukan penghinaan terhadap hidupnya yang sederhana.

Mendengar perkataan yang keluar dari mulut gadis itu, James benar-benar tidak menduga. Dari caranya berbicara bahkan berpakaian, sangat jelas gadis itu bukan Elena. Perasaan terkejutnya perlahan lenyap begitu saja. Sekarang rahang James mengeras menatap gadis sombong itu.

Tangannya terangkat memegang pintu mobil dan mendekatkan wajah, mentap sengit kedua mata abu-abu milik gadis itu. "Aku tidak peduli seberapa kaya dirimu sampai ingin membelikanku mobil. Tapi, kau harus lebih berhati-hati mengendarai mobil mewahmu ini, kau bisa saja membahayakan orang lain atau bahkan dirimu sendiri. Kau aku maafkan atas keteledoranmu nona," terang James membebaskan gadis itu dari amukan yang hampir tidak bisa ia kendalikan.

Bibir gadis itu membentuk sebuah seringaian. "Tadinya aku pikir kau pria pemarah. Tapi aku merasa harus bertanggung jawab. Lebih baik aku memperbaiki bagian mobilmu yang rusak," balasnya. "Sayangnya aku tidak bisa sekarang, aku harus cepat pulang sebelum ibuku membuat telingaku sakit."

Gadis itu merogoh tasnya dan mengeluarkan kartu tanda pengenal lalu menyodorkannya pada James. "Sebagai jaminan, di sana ada nomor telponku, kau bisa menghubungiku besok."

James mengambil kartu itu dan melihatnya. Tertulis pemiliknya adalah Maddison Roflia Harlow berserta poto gadis itu. "Baiklah nona, aku tunggu kau besok di bengkel," balasnya sambil menyimpan kartu itu di dalam saku kemeja.

"Alright, aku harus pergi." Gadis itu memutar stir ke samping lalu menjalankan mobilnya.

James hanya bisa menatap mobil itu perlahan menjauh hingga menghilang. Ia tidak menyangka ada orang semirip itu dengan Elena. Sekarang kepalanya seakan semakin berat melihatnya. Berpikir, bagaimana jika tadi yang dilihatnya itu hanya ilusi? Tapi melihat keadaan lampu led mobilnya pecah, membuktikan kejadian tadi bukan sekedar fatamorgana. Bukan pengaruh kabut ataupun kelelahan.

Akhirnya James menghela napas untuk menenangkan dirinya, entah mengapa ia merasa gelisah. Lalu memutuskan untuk tidak memikirkannya. Lebih baik sekarang ia cepat menuju apartemen Sean sebelum hari semakin gelap, dan sepertinya badai akan segera datang karena angin berhembus kencang serta suara kilatan petir saling bersahutan di langit.  Apalagi lampu led mobilnya sudah tidak bisa di gunakan lagi.

Sesampainya di apartemen, ternyata pintu tak terkunci, itu artinya Sean berada di dalam. James membukanya sembari membawa kotak kardus berisi barang-barang masuk. Terlihat Sean berada di dapur sembari menuang soda ke dalam gelas.

"Kau kembali lebih cepat," ujar Sean menoleh sekilas.

"Ya, aku takut kau berbuat hal gila, seperti mengurung diri di kamar mandi," balas James agak menyindir sembari melangkah mendekat dan meletakan barang-barangnya di meja.

"Aku bukan anak kecil yang harus mendapat penjagaan dari orang tua sepertimu, aku bisa menjaga diriku," katanya lalu meminum sodanya. "Kau mau?" tanya Sean menyodorkan sebotol soda putih ke arah James.

Tapi James menggeleng. "Berapa botol yang telah kau habiskan?" tanyanya.

"Tidak banyak," Sean membalas lalu kembali menuangkan soda ke dalam gelas dan meneguknya sampai habis.

"Ayolah jangan berbohong padaku!" pinta James memeriksa lemari di bawah meja dapur. Ada empat botol soda yang telah kosong di sana. Lalu ia memeriksa lemari es, ia menemukan yang lainnya lagi tapi masih penuh.

DOPPELGÄNGER [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang