Chapter 5

273 31 5
                                        

Setelah Sean berhasil memarkirkan mobilnya, Anne terburu-buru turun dan berlari menyebrangi taman menuju bangunan kampus. Sean sampai terheran, karena gadis berambut panjang itu terlihat sangat panik.

Mungkin karena kelasnya sudah dimulai, sebab tadi Anne terus saja menggedor pintu kamarnya agar ia cepat bersiap. Sean tahu dirinya memang selalu merepotkan gadis itu. Tapi Anne tidak pernah mempermasalahkannya dan tetap menjaganya dengan baik.

Lalu tampak segerombol gadis lewat sambil cekikikan saat Sean turun dari mobil. Sungguh ia tidak tahu seberapa tampan dirinya sampai mereka bertingkah seolah berhadapan dengan seorang selebriti.

Waktu itu taman kampus dipadati oleh banyak orang, sebagian dari mereka duduk melingkar di atas rerumputan dengan alas piknik, sebagiannya lagi terlihat berdiri sembari mengobrol.

Namun ada yang berbeda, terlihat seorang gadis berambut hitam legam duduk sendirian di bawah pohon rindang sembari membaca sebuah buku. Jelas sekali itu adalah Maddie.

Gadis itu mengenakan jaket parka berwarna hitam serta kaos putih polos dan celana jeans hitam. Dia juga memakai sneakers yang pas dengan penampilannya. Sean bisa melihat perbedaan yang sangat kontras antara Maddie dan Elena, jelas mereka orang yang berbeda. Tapi baginya Elena masih menjadi gadis unik dan menarik dari gadi-gadis yang pernah ditemuinya.

Kaki Sean pun melangkah ke arah gadis itu yang masih tampak serius membaca buku sampai mengabaikan hal-hal di sekelilingnya.

Ketika Sean sampai di hadapannya, sehelai daun kering jatuh di atas rambut hitam Maddie. Membuat gadis itu mendongakan kepalanya. Tepat saat itulah mata mereka bertemu.

Sean tersenyum. “Maaf, biarku bantu.” Ia sedikit membungkuk sambil mengulurkan tangan menyingkirkan daun kering itu dari rambut Maddie.

“Terimakasih, duduklah!” Maddie meminta Sean untuk duduk di sebelahnya.

“Apa rumput itu tidak basah?” tanya Sean karena Maddie tidak menggunakan kain atau semacamnya untuk alasnya duduk.

“Matahari sedang terik pagi ini, semua tetesan embunnya kering, jadi kau tidak perlu khawatir pakaianmu basah atau kotor,” balas Maddie meyakinkannya.

“Baiklah.” Sean bergabung duduk di atas rerumputan.

“Aku perhatikan wajahmu lebih cerah hari ini,” komentar Maddie sambil mengamati wajah Sean lamat-lamat.

“Yeah, aku merasa sedikit bebas, setidaknya untuk hari ini.” Lalu menyandarkan punggungnya pada batang pohon di belakangnya dan menatap awan dari celah dedaunan rimbun.

“Bebas dari apa atau mungkin siapa?”

“Kelly,” sahut Sean menoleh sekilah ke arah gadis itu yang tampak menatapnya tanpa ekspresi.

“Bukankah seharusnya kau senang melihat pacarmu setiap hari? Tapi, mengingat kemarin dia mengkhianatimu, aku rasa kau pantas mengakhiri hubungan kalian secara sepihak.” Maddie memberitahu, Sean pun hanya bisa menghela napas gusar.

“Aku tidak bisa, hanya Kelly yang bisa menentukan hubungan kami.”

“Kenapa begitu? Kau juga memiliki hak atas hubungan itu.” Dahi Maddie pun seketika mengkerut. “Apa Kelly mengancammu?”

Sean menggeleng. “Aku rasa hubunganku dan Kelly tidak penting untuk dibahas,” sergahnya. “Lalu bagaimana denganmu? Kau punya pacar atau seseorang yang kau sukai?” tanyanya ingin tahu lalu kembali menegakan tubuhnya.

Tatapan mata Maddie jatuh pada buku di pangkuannya lalu ditutupnya perlahan. Bisa dilihat judul buku itu Killers of the Flower Moon. Sean menjadi tak asing dengan buku itu karena Elena juga pernah membacanya. Mungkinkah mereka berdua memiliki selera yang sama?

DOPPELGÄNGER [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang