Chapter 25

243 13 3
                                        

Gadis itu melangkah bingung sampai berhenti di depan sebuah pintu besar yang menjulang tinggi. Sebab ketika membuka kedua mata dirinya sudah berada di tempat seperti ini, terasa sedang terjebak di dalam sebuah istana yang besar.

Dibukanya pintu besar itu perlahan, terlihatlah sebuah kamar yang luas dengan ukuran ranjang yang besar. Gadis itu perlahan memasukinya sembari menatap sekeliling, tampak familier. Lantas terdengar suara tawa yang membuatnya menoleh ke arah sumber suara tersebut.

Tampak seorang pria dan wanita menghadap ke luar balkon, mereka berpakaian layaknya seorang raja dan ratu. Senyuman yang merekah di bibir mereka masing-masing tertuju pada sesuatu yang berada di gendongan sang ratu, tampaknya itu bayi mereka.

“Lihatlah, dia tersenyum padaku,” seru sang raja dan menyentuh bayinya.

“James, jangan mencubitnya,” cegah sang ratu yang masih setia menggendong bayi mungil itu.

“Kalau begitu bolehkah aku menggendongnya, Elena?”

Deg

Gadis yang sedari tadi berdiri tak jauh dari mereka langsung terkejut. Mendengar pembicaraan bahagia itu, membuatnya seketika merasa terhunus. Jangan katakan ini adalah gambaran masa depan. Dan juga jangan katakan hal inilah yang seharusnya terjadi sejak dulu. Hanya karena satu orang ingin melawan takdir, kebahagiaan yang lainnya hancur.

Tidak!

Ia tidak bisa melihat hal itu lebih lama lagi. Gadis itu lantas pergi dari sana, ini hanyalah tipuan, hanya ilusi dalam bayang-bayang mimpi buruk. Ia telah meninggalkan itu semua demi mengejar keegoisan. Ya, terkadang kita harus egois dan mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan kebahagiaan sendiri meskipun rasanya tidak adil.

Kini diterobosnya pintu keluar itu, tiba-tiba mendapati dirinya berada di suasana yang berbeda. Hutan yang gelap dengan pepohonan yang rimbun. Kebingungan kembali menghampirinya, suasana hatinya mendadak kacau. Semua ini benar-benar membingungkan, tidak ada jalan keluar yang bisa dilaluinya.

Kau!”

Tiba-tiba terdengar suara memanggilnya, gadis itu menatap sekeliling. Ketika berbalik, barulah ia bertatapan dengan seorang perempuan cantik dengan rambut perak. Wajahnya yang lembut mengambarkan kemarahan.

 Wajahnya yang lembut mengambarkan kemarahan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Perempuan itu kini mendekatinya. Mendesaknya dengan kemarahan yang amat besar. Gadis itu hanya terdiam karena semakin tersuduti. Semua hal ini mungkin tercipta karena ulahnya.

“Pergi! Pergi dari pikiranku!” usir gadis itu membentak sembari terus bergerak mundur seiring perempuan itu mendekatinya.

Sontak ia tersandung sesuatu dan akhirnya terjungkal ke belakang. Ia mendapati seonggok tubuh pucat seorang pemuda. Langsung ia membekap mulutnya sendiri sambil menyeret dirinya mundur perlahan-lahan.

Ia bersandar pada batang pohon mendekap dirinya sendiri karena melihat mayat Sean tergeletak di atas tanah. Tidak, ini tipuan. Tapi air matanya seketika mengalir lalu disekanya dengan cepat. Ia berharap segera bangun dari mimpi buruk ini. Hal-hal yang menyakitkan kini menggerogoti dadanya, membuatnya sesak dalam hitungan detik.

DOPPELGÄNGER [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang