Chapter 4

234 29 2
                                        

Setelah berjalan keluar dari dalam club, Maddie melihat Max tampak sedang kebingungan di parkiran. Dan pemuda pirang itu pun melihatnya, disitulah Max langsung merasa lega. Maddie segera menghampirinya.

"Ohh Maddie akhirnya kau datang juga. Bisakah kau mengendarai mobilku?" tanyanya, Maddie pun mengeryit sambil menatapnya heran.

"Aku harus mengantar Sean ke apartemennya, dan aku tidak bisa meninggalkan mobilku di tempat ini," balas Max yang tahu maksud dari tatapan Maddie.

"Ya baiklah." Max melempar kunci mobilnya dan langsung ditangkap oleh gadis itu.

Ketika Max ingin masuk ke dalam mobil Sean. Ia teringat sesuatu. "Oh ya, bagaimana dengan Kelly?"

"Aku rasa tidak ada yang perlu dicemaskan tentangnya. Seseorang pasti bersedia untuk mengantarnya. Kau bisa mengetahui keadaannya nanti," balas Maddie. Terdapat senyuman kecil di bibirnya.

"Ya, kau benar. Aku yakin Kelly akan baik-baik saja, dia cukup banyak memiliki kenalan di tempat ini," timpal Max dan memasuki mobil Sean. Sementara Maddie menuju mobil Max yang terpakir di sebelahnya.

Beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya sampai juga di apartemen Sean. Maddie yakin hanya orang yang memiliki banyak uang yang bisa menyewa tempat tinggal di sini. Apartemen tersebut terlihat mewah dan luas. Tak heran banyak mobil mewah terparkir di sana.

"Oh shit! Kau sungguh merepotkan!" ucap Max mengeluh setelah berhasil membawa Sean ke kamar. Lalu melempar tubuh pemuda itu ke atas ranjang sampai terkurap.

Beberapa saat kemudian, Maddie datang. "Ini kunci mobilmu," katanya sambil melemparnya pada Max.

"Terima kasih kau telah bersedia membawa mobilku kemari," balasnya mengedipkan mata. Maddie hanya menghiraukan maksud dari kedipan mata jelalatan itu

Lalu suara dering ponsel mengagetkan keduanya, yang ternyata berasal dari saku celana milik Max. Pemuda pirang itu langsung merogohnya dan mengangkat panggilan itu.

"Hai, apakah aku mengenalmu?" tanya Max sedikit kesal, karena tidak tahu siapa yang telah melakukan panggilan mendadak ke ponselnya.

Tiba-tiba mata Max terbelalak mendengar balasan dari orang di sebrang sana. "Apa? Kelly di rumah sakit? Apa yang terjadi dengannya?" tanyanya mendadak panik dan cemas. Di sebelahnya, Maddie tampak menyembunyikan sebuah senyuman.

"Baiklah, aku akan segera ke sana." Max segera mematikan sambungan dan menatap Maddie.

"Jika kau tidak keberatan, aku mohon jaga Sean sampai temanku datang." Maddie pun mengangguk kecil sebagai balasannya. Max pun pergi, tapi ia kembali membalik tubuhnya.

"Oh ya, aku juga memohon padamu untuk tidak mengejutkan temanku karena wajahmu ya, tolong berikan perjelasan padanya bahwa kau bukan Elena. Dan maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang, kau bisa pulang sendiri 'kan?"

"Ya, tidak masalah," balas Maddie santai. Max pun tersenyum dan terburu-buru pergi dari sana.

Kaki Maddie pun mulai melangkah mendekati ranjang. Di sana Sean tidur terkurap dengan wajah hampir melekat sempurna di permukaan bantal. Takut pemuda itu sesak napas, Maddie berinisiatif untuk membalik tubuhnya. Lalu menatap lamat-lamat wajah pemuda itu.

"Kenapa aku merasa telah berbuat jahat padamu?" gumam Maddie menduduki tepi ranjang tanpa memutus pandangannya dari wajah Sean.

"Jahat?" Tiba-tiba Sean juga bergumam dengan matanya yang setengah terbuka. "Aku memang jahat padamu Elena," sambungnya. Rupanya alkohol masih meracuni pikiran Sean.

Setelah itu terlihat Sean kembali bergeming. "Elena, kembalilah padaku!" katanya sampai menyentuh tangan Maddie di sampingnya.

Melihat keadaan Sean, Maddie merasa iba, perlahan ia menarik tangannya dari genggaman Sean.

DOPPELGÄNGER [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang