TWO DAYS LATER
Hospital, Sindy
Sean merasakan nyeri di kepalanya sambil membuka mata, tangannya meraba ke atas dan sebuah perban membalut kepalanya. Samar-samar ia melihat ruangan yang putih dan bersih. Di nakas ada sebuket bunga anyelir layu di dalam sebuah pot kaca. Menoleh ke samping Sean mendapati seorang wanita tertidur di sofa, terlihat letih, pucat dan berantakan. Pintu terbuka dan menampilkan sosok pria berjas biru tua.
"Son...," lirih pria itu menghampirinya. "Gracie, putra kita siuman," beritahunya.
"Ayah?" tanyanya sambil berusaha untuk bangkit.
"Tetap di situ," pintanya.
Gracie yang baru terbangun dari tidurnya langsung terkesiap bahagia dan cepat-cepat memeluk putranya. "Oh, thank you miracle. I waited so long," lirihnya bersyukur.
"Kenapa aku bisa di sini?" tanya Sean.
"Ibu juga tidak mengerti, pihak rumah sakit bilang ada beberapa orang berpakaian hitam-hitam membawamu ke mari. Sebenarnya apa yang sudah menimpamu?" tanya Gracie, wajahnya penuh tanda tanya.
"Aku...." Sean tidak tahu harus menjelaskan bagaimana karena ia merasa kurang mengingatnya, semakin ia paksakan kepalanya terasa nyeri. Hanya sekelabat bayangan yang ia ingat, seorang gadis.
"Gracie, kita bicarakan nanti. Sean baru siuman, tidak mungkin menjawab pertanyaanmu terlalu cepat," tutur Stefan. "Aku akan memanggil dokter untuk memeriksanya lagi." Ia kemudian beranjak pergi.
"Maafkan Ibu, Sean," kata Gracie duduk di kursi samping ranjang dan menggengam tangan putranya itu.
"Aku senang melihatmu, aku merindukanmu. Maaf jarang menelponmu selama aku di Hustown, aku hanya mengalami masa sulit dengan beberapa mata kuliah," kata Sean.
"It's okay darling," kata Gracie tersenyum bahagia dan mengecup jemari Sean.
"Hey little brother," seru seorang pemuda berambut pirang membuka pintu dengan heboh. Disusul oleh seorang gadis berambut panjang dan berwajah manis sambil membawa sebuket bunga anyelir.
"Hey guys." Sean tersenyum semangat melihat kedua sahabatnya.
"Hey Bibi Gracie." Anne menghampiri Ibu Sean dan memberikan buket bunga yang di bawanya.
"Terima kasih Anne sayang," katanya dan mengganti bunga anyelir layu di atas nakas dengan yang baru. "Oh ya, aku akan memesan makanan, kalian tunggu di sini. Jaga Sean dengan benar, terutama kau Max. Jangan menjahili orang yang baru siuman," ingat Gracie menunjuk si biang kerok lalu tersenyum kecil.
Max tertawa. "Aye, aye, captain," katanya sambil memberi hormat ala tentara.
Setelah Gracie pergi, Anne langsung berhambur memeluk Sean. "Kenapa kau tiba-tiba ada di sini?" Lalu melepas pelukan.
"Maaf aku tidak mengingat apapun kejadian yang terakhir kali menimpaku," balas Sean sambil berusaha untuk bangkit terduduk. Anne membantunya menegakakan bantal di belakangnya untuk ia bersandar.
"Oh, apa kau hilang ingatan?" Max membulatkan matanya, setelah itu kelegaan menghampiri dadanya. "Syukur kau masih ingat pada kami," katanya.
"Paman Stefan memberitahu kami kau mengalami cerdera otak, tapi untunglah tidak terjadi cacat permanen. Kami sangat khawatir padamu," jelas Anne. "Kami tidak sabar kau memberitahu kami semua yang telah menimpamu ini," tambahnya.
"Terakhir kali yang kuingat hanyalah Elena," balas Sean. Sekelebat bayangan gadis itu muncul dalam ingatannya.
Kedua sahabatnya langsung mengeryit dan heran memandang Sean.
KAMU SEDANG MEMBACA
DOPPELGÄNGER [Completed]
RomanceFantasy - Romance (18+) • Sequel from ROSE DEATH • Tidak cukup dengan kematian Rose, kini datang kembali kematian tak terduga yang dialami oleh Elena Rosabelle setelah penikahannya dengan James Alexander. Diduga kematiannya yang misterius...
![DOPPELGÄNGER [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/240090082-64-k885556.jpg)