Eren!
Levi Ackerman membuka matanya mendadak. Selama beberapa detik dia masih berbaring dengan seluruh tubuh gemetar dan terengah-engah di atas tempat tidur yang berantakan. Berjuang melepaskan diri dari jeratan mimpi buruk, sampai suara ketukan angin di jendela menariknya tersadar penuh. Dipandanginya cat kelabu yang melapisi dinding kamar sederhananya. Levi agak kesal pada dirinya sendiri, bisa-bisanya dia bermimpi seperti itu setiap malam selama tujuh tahun ini.
Ingin mengusir bayangan mimpi itu dari kepalanya, Levi memutuskan bangkit dan mandi sebelum turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Hari masih sangat pagi, Ren dan Rivaille masih meringkuk lelap di bawah selimut hangat mereka di kamar. Levi hanya mengintip sebentar dari celah pintu sambil tersenyum tipis.
Pertama, dia membersihkan ruangan yang masih rapi lalu mulai memeriksa isi kulkas. Matanya menangkap daging ayam beku dan sayuran segar. Untuk awal musim dingin seperti ini, cuaca akan sangat membekukan dan makanan terbaik untuk menghadapinya adalah sup kaldu ayam. Levi segera mengambil bahan-bahan yang dibutuhkan kemudian mulai memotong sayuran sementara daging ayam direbus sebentar.
"Mama?" panggil sebuah suara kecil.
Levi menunduk pada si kecil Rivaille yang kini berdiri di sampingnya. Anak manis itu tampak berantakan dengan rambut hitam yang kusut dan kantuk masih menggelayuti wajahnya. "Sayang, di mana Ren?" tanya Levi, satu tangannya sibuk mengaduk sup sedangkan tangan yang lain mengusap lembut kepala Rivaille penuh kasih.
Alih-alih menjawab, anak lelaki itu malah merapatkan tubuh ke pinggang ibunya, memeluknya erat dan diam selama beberapa saat. Levi terengah pelan, sedikit kaget melihat tingkah Rivaille yang tidak seperti biasanya. Levi memutar kenop kompor hingga api biru padam. Lalu melepaskan lengan-lengan mungil itu dan merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan tinggi Rivaille. Dipegangnya kedua bahu kecil dan tersenyum hangat padanya.
"Hei, ada apa, Baby?"
Butuh waktu selama dua detik penuh sebelum Rivaille mengeluarkan suaranya. "Di mana Papa?"
Pertanyaan singkat itu terdengar seperti ledakan bom di telinga Levi. Selama ini baik Ren maupun Rivaille tidak pernah sekali pun melontarkan pertanyaan itu. Levi juga sudah melakukan banyak hal agar mereka tidak memikirkan tentang ayah kandung mereka yang entah berada di mana sekarang. Termasuk membiarkan sahabatnya, Erwin Smith mengisi peran ayah bagi mereka. Tapi kini ketakutan itu telah menjadi nyata. Apa yang harus dikatakan Levi? Mengingat sosok bajingan itu saja dia enggan.
"Mengapa bertanya seperti itu?" Levi berusaha selembut mungkin mengatakannya, menahan geraman amarah yang membuncah dalam dadanya tatkala mengenang pria alpha yang terlibat cinta satu malam dengannya.
"Gabi selalu dijemput Paman Reiner saat pulang ... aku juga ingin seperti itu," Rivaille melirih nyaris terdengar merengek.
Sendu memancar di kedua mata biru gelap Levi. Warna yang memang sudah sekelam malam itu tampak semakin kelam melihat Rivaille yang menunduk sedih. Sekilas dia menangkap mata yang persis dengannya itu berkaca-kaca. Setiap hari sepulang bekerja, Levi memang selalu datang menjemput mereka, tetapi dia adalah seorang ibu bukan ayah. Tentu saja berbeda dan Levi bisa memahaminya karena dia pun merasakan kesedihan itu.
Pada hari-hari di mana dia hanya menghabiskan waktu bersama ibunya dan tidak pernah mengenal siapa ayah yang seharusnya turut menyalurkan kasih sayang dan mendidiknya. Levi sudah menjalani masa-masa itu dan menyaksikan bagaimana nasib pahit yang sama juga menimpa anak-anaknya, sesungguhnya itu menyayat hatinya. Levi mengerjap menyingkirkan air mata yang hampir mencair dan memaksa tersenyum. "Tetapi kalian selalu senang saat bersama Paman Erwin, 'kan?" ujar Levi berusaha menghiburnya.
"Paman Erwin bukan papa, Mama."
Levi tak pernah menyangka anak sekecil ini akan bisa berpikir sejauh itu. Rivaille masih sangat muda untuk menyadari bahwa pria yang selama ini dekat dengannya bukanlah sang papa yang sesungguhnya. Bibirnya terbuka hendak mengatakan sesuatu namun sebelum satu kata keluar, suara lain menginterupsi dari ambang pintu.
"Rivaille, giliranmu mandi sebelum sarapan."
Ren berdiri di sana, tampak jelas dia baru selesai mandi. Tetapi ada yang aneh dengan ekspresinya. Entah mengapa tatapannya terkesan agak dingin dan muram. Ada apa dengan anak-anaknya pagi ini? Dengan wajah cemberut, Rivaille menuruti kakak kembarnya. Meninggalkan Levi yang masih termenung di tempatnya berlutut.
Levi merasakan dadanya yang bergemuruh dan sudut matanya menitikan air mata yang menandakan kesedihan mendalam. Sampai tiba-tiba sepasang tangan mungil tapi kokoh merengkuh bahunya, membuatnya terhenyak sesaat sebelum menyadari bahwa Ren kini memeluknya, memberinya kekuatan untuk bertahan dalam situasi ini.
"Rivaille tidak akan bertanya lagi," janji Ren di telinganya.
Levi menarik kedua ujung bibirnya, tersenyum getir akan betapa tangguhnya Ren. Bahkan melebihi dirinya yang masih begitu rapuh dan lemah. Diresapinya bau tubuh sang anak yang hampir mirip seperti aroma ayahnya. Levi mengernyit, kemudian beralih pada rambut Ren yang menguarkan harum sampo beraroma anggur, mengabaikan unsur Eren yang menurun padanya.
Rivaille kembali usai mereka selesai menata mangkuk-mangkuk berisi sup di meja makan. Tampangnya masih sedikit murung, namun dia tampak segar sehabis mandi. Levi mencium pipi Ren dan Rivaille bergantian. Rasa sakit itu masih bercokol di hatinya, tetapi demi kedua malaikat kecilnya, Levi rela berjalan menghadapi dunia ini dengan pontang-panting.
"Ayo makan, lalu kita jalan-jalan keluar!"
~¤~
"Ada apa?"
Pria itu membalik tubuhnya malas saat mendengar pintu kamarnya berderit dibuka. Meski dalam kondisi remang-remang, mata sehijau zamrud itu masih mampu menangkap sebentuk bayangan ramping yang baru saja menyelinap masuk. Angin menerobos kaca jendela yang terbuka. Hawa dingin seolah tidak mempan menyambar tubuhnya yang setengah telanjang. Sejak sore tadi dia hanya menggeliat di tempat tidur, merasakan kehampaan yang menelannya selama tujuh tahun terakhir. Hatinya mendebas setiap kali rasa rindu itu menyerang.
"Saya melihatnya di kedai teh hari ini," kata orang itu.
Pria alpha itu tersentak lalu menyeringai. Tubuhnya yang atletis dengan otot-otot yang padat berisi itu pun bergerak bangkit. Rambut coklat gelapnya yang halus tergerai acak-acakan dan jatuh di atas bahu lebarnya, sejumput helainya menutupi salah satu mata. Namun penampilannya yang sedikit kacau itu sama sekali tidak merusak kesan jantan seorang alpha yang melekat padanya.
"Apakah dia orang yang penting bagi Anda?"
Pria alpha itu kini berdiri menghadap jendela, pandangannya menantang langit malam musim dingin yang ditaburi bintang. "Jawabannya sangat jelas," ujarnya dalam suara berat bernada rendah, dipenuhi ambisi dan keinginan kuat yang tak mungkin sanggup dihalangi.
Selangkah lagi, aku mendapatkanmu kembali.
"Ya, Anda tak pernah sekeras ini ketika menginginkan sesuatu," sekali lagi orang itu menyeletuk, "lalu sekarang Anda ingin saya melakukan apa?"
Pria itu menyelipkan tangan ke dalam saku celana, lalu berbalik membalas tatapan orang kepercayaannya itu. Kedua matanya yang tajam menyorotkan perintah yang mustahil dibantah. "Tetap awasi dia. Aku ingin lebih banyak informasi tentangnya," sang alpha bertitah.
***
Jangan lupa dukung fanfiksi ini dengan vote and comment setiap usai membaca. Thanks, dear!
Jepara, 26 Januari 2021
With love,
中原志季
Nakahara Shiki
Edited : Jepara, 2 Agustus 2021
KAMU SEDANG MEMBACA
The Coordinate : Perfect Sword and Shield
Random[Fanfiction of Shingeki no Kyojin by Isayama Hajime. Mainship : Eren Jaeger x Levi Ackerman] Start : January 26th, 2021 End : April 6th, 2021 Alpha dan Omega Sempurna diturunkan sebagai pengendali konflik antarras di dunia. Mereka diberkati anugerah...
