Jemari lentiknya menjumput secarik kertas dan menunduk membaca tulisan yang tertera di sana.
Bagaimana kabarmu, Sayang? Jangan mencoba bersembunyi dariku.
Ini sudah kesekian kali Levi membaca surat kecil itu dan entah mengapa niat untuk membuangnya ke tempat sampah tiba-tiba lenyap tak berbekas. Levi mendesah dan menjatuhkan kertas itu ke meja. Sekadar menarik napas saja sudah terasa sangat menyesakan.
Levi mencoba mengingat apa yang terjadi tujuh tahun lalu, waktu dia masih tinggal di sisi lain Prancis dan menjadi bartender di sebuah bar. Saat itulah dia bertemu Eren Jaeger sebagai pelanggannya selama tiga hari. Eren Jaeger adalah seorang pria alpha yang tampan dan dengan beraninya mencuri ciuman pertamanya di depan banyak orang dan ... heat sialan!
Dia mengutuk demam yang menyerangnya malam itu ketika hendak mencapai pintu apartemennya dan entah kebetulan atau apa, dia justru berakhir ditemukan Eren dan terbangun dengan sekujur tubuh lengket oleh keringat dan sperma pada keesokan harinya. Bersamaan dengan perginya pria itu tanpa sepatah kata seakan-akan mereka tidak pernah bertemu.
Levi tidak sepenuhnya sadar ketika mereka berhubungan intim malam itu, namun Levi mendengar suara pria itu yang berbisik di telinganya, samar-samar menyuruhnya untuk mendesahkan namanya. Eren ... Eren Jaeger ...
"Astaga, apa yang kupikirkan?" gerutunya seraya mengetuki pelipisnya dengan ujung jari.
Demi Tuhan, Levi tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi. Waktu tujuh tahun telah menggerus perasaannya akan sosok ayah dari anak-anaknya, alpha yang turut andil dalam keberadaan Ren dan Rivaille. Akan tetapi, tidak dengan ingatannya. Levi bahkan masih memimpikan pria itu hampir setiap malam dan itu sangat menyebalkan.
Satu-satunya hal yang membuatnya sangat ingin menangis detik ini adalah membayangkan nasib anak-anaknya yang sama sekali belum mengerti sistematika dunia dan bahkan masih membutuhkan pembimbing supaya mendorong mereka menentukan nasib. Kadang Levi juga berpikir untuk membawa mereka lari apabila pria itu muncul lagi.
Kejam memang, namun Levi tidak ingin berharap banyak bahwa alpha itu akan datang dan membayar tanggung jawab yang diempaskannya selama ini. Selain itu, fakta bahwa pria itu menghilang tanpa jejak setelah kesalahan yang mereka lakukan sudah cukup meyakinkan Levi bahwa Eren bukan pria yang baik untuknya.
Ke mana saja kau selama ini?
"Mama?" Suara itu membuat Levi tersentak. Dia menoleh.
Levi tersenyum menatap Ren dengan sorot mata membara. Bocah lelaki itu segera menghambur padanya ketika Levi merentangkan lengan. Dengan mudah diangkatnya bocah itu ke pangkuan dan mengusap lembut rambut seharum anggur segar. "Kau belum tidur?"
Bocah itu menggeleng sambil memainkan anak rambutnya yang terselip di belakang telinga Levi, "Rivaille belum selesai, Paman Erwin menemaninya belajar."
Levi mengecup singkat keningnya lalu memandangi wajah Ren dalam. Kerutan samar muncul tiba-tiba di keningnya, lalu semakin lama semakin jelas. Levi mengerjap sebelum kembali mencermati wajah anaknya dengan teliti, dia terengah. Garis wajahnya terlihat lebih jantan. Pipi tembamnya agak menyusut dan menyisakan rahang tegas, ditambah sorot mata yang arogan. Levi tersentak.
Ya, Tuhan! Levi terlalu sibuk bekerja sehingga tidak menyadari bahwa semakin hari Ren semakin tidak mirip dengannya. Bocah itu benar-benar mewarisi wajah Eren Jaeger! Sangat mirip seolah wajah itu tercetak di sana, bahkan warna rambutnya pun sama persis.
"Ren," Erwin memanggil dari ambang pintu, "Rivaille sudah selesai, waktunya tidur."
Levi mengecup kedua pipinya sekali lagi lalu menarik napas berat ketika kaki-kaki kecil itu beranjak meninggalkan kamarnya setelah Erwin menciumnya di sisi yang tak tersentuh bibir Levi. Ketika punggung bocah itu menghilang, Erwin masih berdiri di sana sambil menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Lalu dia masuk, mengambil alih surat kecil itu lalu membacanya sekilas.
"Sekarang apa?" Erwin bertanya.
Embusan napas terdengar sebelum Levi menjawab, "aku akan membawa anak-anak pergi dari sini."
Lelaki pirang menaikan satu alis tebalnya, memandang Levi dengan sorot penasaran, "ke mana kalian akan pergi?"
"Ke mana saja asalkan kami menjauh darinya."
"Cepat atau lambat dia pasti akan menemukan kalian lagi."
"Aku akan menghadapinya saat itu," Levi menggumam.
Erwin mendesah berat. "Mengapa bukan sekarang saja dan katakan bahwa kau tidak ingin berhubungan dengannya?"
"Itu akan melibatkan Ren dan Rivaille," ucap Levi dengan kening mengernyit, "mereka masih terlalu kecil. Selain itu, dia pasti tidak akan melepaskanku jika berhasil menangkapku."
"Tidak diragukan, tampaknya dia sangat terobsesi padamu."
Levi mendecih dan menggerutu, "yang benar saja."
Omega bermata kelam itu kembali larut dalam pikirannya. Jika Ren semirip itu dengan ayahnya, tidak akan butuh waktu lama agar dia menemukan mereka. Eren bahkan tahu di mana Levi berada, pria itu pasti sedang mengawasinya saat ini. Di suatu tempat di luar sana ... bagai serigala yang mengincar mangsa. Apa yang sedang kaulakukan?
Erwin menyadari keanehan di mata Levi. "Sesuatu mengganggu pikiranmu?"
Levi terperangah dan menatapnya dengan mata penuh binar sekaligus putus asa. "Aku akan membawa mereka ke Rudesheim, secepatnya."
~¤~
"Kau sudah menemukan mereka, berbahagialah!"
Eren Jaeger menyugar rambutnya yang basah ke belakang. Pria 32 tahun itu baru saja keluar dari kamar mandi ketika lelaki pirang memasuki kamarnya, Zeke Jaeger dan menyorakan selamat untuknya. Eren telah melampaui satu langkah maju. Dengan menggunakan nama mendiang pamannya, dia berhasil memenangkan hati anak-anaknya.
Zeke membawa segelas red wine di tangan dan duduk di meja yang terletak di sudut ruangan. Disesapnya cairan merah pekat nan harum itu lalu memandang adiknya yang hanya mengenakan celana jins tanpa pakaian lain untuk menutupi badannya yang berotot sekal. "Aku tak akan menghalangi jika kau ingin kembali pada mereka," ujar Zeke lirih, "tapi kau harus menghadapi ayah sebelum itu."
Hanya ada keheningan yang memisahkan kedua Jaeger bersaudara itu. Eren berdiri di sebelahnya dengan kedua tangan menumpu pada birai jendela yang tertutup. Jaeger yang lebih muda menatap tajam dan lurus ke luar sana pada bentangan langit malam. Warna yang selalu mengingatkannya kepada Levi. Hah! Terakhir kali dia melihat mata lelaki cantik itu yang tengah menatapnya dengan berderai air mata dan begitu sayu.
Tatapan yang menyiratkan permohonan, kenikmatan, dan hasrat yang begitu panas menggelora. Eren telah begitu lama merindukan tubuh kecil itu bergetar di bawah kungkungannya. Dia berhasrat membuat Levi menangis sebab dominasinya dan mengerang nikmat disela-sela mendesahkan namanya. Itu akan sangat indah.
"Hei, ada apa denganmu?" Suara Zeke membuyarkan fantasi liarnya. Alpha berjenggot itu menatapnya kesal, "aku sedang berbicara tapi kau malah tersenyum mengerikan, seperti predator yang akan melahap mangsanya. Ah! Bodoh sekali, tentu saja kau sedang membayangkan bercinta dengan omega itu, 'kan?"
Zeke tak mampu menahan tawa menyadarinya, ya, dia seratus persen benar di sini. Lagi pula, Eren tidak pernah sekeras ini menginginkan sesuatu. Selama ini adiknya itu tidak pernah menatap orang lain sama seperti saat dia memandangi foto lelaki itu dengan penuh gairah.
Levi Ackerman, apa yang telah kaulakukan pada adikku?
***
Jangan lupa dukung fanfiksi ini dengan vote and comment setiap usai membaca. Thanks, dear!
Jepara, 2 Februari 2021
With love,
中原志季
Nakahara Shiki
Edited : Jepara, 2 Agustus 2021
KAMU SEDANG MEMBACA
The Coordinate : Perfect Sword and Shield
Rastgele[Fanfiction of Shingeki no Kyojin by Isayama Hajime. Mainship : Eren Jaeger x Levi Ackerman] Start : January 26th, 2021 End : April 6th, 2021 Alpha dan Omega Sempurna diturunkan sebagai pengendali konflik antarras di dunia. Mereka diberkati anugerah...
