A New Family

1.1K 152 23
                                        

Zeke Jaeger, kakak tiri Eren dari istri pertama ayahnya, Levi mengeluarkan seluruh udara dari paru-parunya lalu menghirup lagi. Udara di sini berbau apel segar dari mesin penyemprot di atas rak buku.

"Jujur saja ini mengejutkan, kau adalah Omega yang telah membakar jiwa pemberontak adikku," Zeke membetulkan letak kacamatanya lantas menatap Levi tanpa ekspresi yang bisa dibaca.

"Apa kau menyalahkanku karena itu?"

Entah bagaimana Levi langsung menganggap Zeke begitu mengintimidasi dalam setiap kesempatan mata mereka bertemu. Sesekali si Pirang itu menatap Ren dan dibalas dengan tatapan sengit yang akan membuatnya ... tercengang, hampir sedikit takjub. Kalau Rivaille pasti langsung menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Levi jika beradu pandang dengan Zeke.

"Tidak, menurutku kau malah membuatnya merasa lebih hidup dan bebas," Zeke menyandar pada punggung sofa dan bersedekap, "dia juga menyebutmu begitu.

Asal kau tahu, Eren bicara terlalu banyak tentangmu dan setelah melihatmu secara langsung, tak mengherankan mengapa dia sungguh tergila-gila padamu. Kau jauh lebih cantik dari Omega mana pun yang pernah kutemui sejauh ini, terlepas dari statusmu sebagai Omega Sempurna.

Apalagi dengan anak-anak yang menggemaskan walau mereka Beta, kurasa Eren tidak mempermasalahkan hal itu," Zeke berdeham pelan membersihkan suaranya, "Eren pasti sangat mencintai kalian."

Lebih dari siapa pun, imbuh Levi dalam hati. "Zeke, apa kau tahu di mana Eren?"

Wajah Zeke berubah, dia terdengar lelah dan aneh saat berbicara, "aku tidak tahu. Malam itu kami bertemu di padang rumput besar, tetapi dia tidak pernah menyebut ke mana tujuannya setelah itu."

"Kalian bertemu diam-diam?!" Suara Levi meninggi satu oktaf, sekelebat ingatan sewaktu Eren keluar tengah malam sebelum mereka- oh, ya Tuhan! Jadi, Eren pergi menemui kakaknya saat itu?

Eren tidak pernah berdusta, dia hanya tidak membiarkan orang lain tahu rencananya. Eren bahkan mengatakan dengan sangat jelas mengenai kepergiannya namun betapa bodohnya Levi sama sekali tidak memahami maksud sesungguhnya di balik perkataan Eren. Andai Levi menyadarinya, dia tak akan membiarkan Eren pergi begitu saja.

"Begitulah," Zeke menarik turun kacamatanya lantas mengusap wajahnya yang digelayuti stres sembari mendesah jengkel, "anak itu ... selalu saja bertindak sendiri. Ceroboh."

Levi terdiam karena heran dan bertanya tanpa menatap lawan bicaranya. "Lalu apa yang kalian bicarakan?"

Tangannya bergerak naik dan turun di punggung Rivaille yang menggeliat tak nyaman. Sementara Ren menguap lebar ketiga kali, perjalanan panjang hari ini membuatnya mengantuk sekarang. Levi juga sangat letih namun rasa penasarannya memaksa agar tetap duduk mendengarkan.

"Awalnya aku menginginkan dirimu," jawab Zeke, tanpa kacamata bundarnya, garis wajah dan sorot matanya tampak lebih tajam dua kali lipat. Dia menatap Levi dari seberang meja kemudian menumpahkan seluruh isi percakapannya dengan Eren dalam pertemuan rahasianya malam itu.

"Saat dia tahu rencanaku yang sebenarnya, dia sangat marah, langsung menolaknya mentah-mentah. Aku sangat mengerti perasaannya, Eren tidak mungkin rela kau dikorbankan dalam rencana ini, karena ..."

"Karena apa?"

Zeke menahan napas sedetik sebelum meneruskan. "Karena nyawamu adalah taruhannya."

Levi seperti disambar petir. Pernyataan Zeke mau tidak mau memaksanya untuk menatap pria itu dengan wajah penuh teror dan napas yang tersangkut tepat di tenggorokan. Itu merupakan pukulan bagi Levi.

"Maaf, Levi, itu satu-satunya cara yang bisa kupikirkan waktu itu, tetapi sepertinya Eren punya rencana yang lebih gila, dengan membantai ras Alpha dan Omega secara massal."

The Coordinate : Perfect Sword and ShieldTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang