A Man's Rebellion

2.4K 346 46
                                        

Usai berbincang singkat bersama ayahnya dan pria pendek bernama Rod Reiss, Eren memilih pergi ke balkon luar untuk menyegarkan pikirannya yang kacau. Orang-orang berlalu-lalang, setiap kali Eren melewati mereka, mata mereka tak pernah putus mengekorinya hingga punggungnya lenyap dari pandangan. Itu sangat mengganggu.

Balkon itu sepi, hanya ada beberapa orang yang mengobrol di dekat pintu. Eren memilih pojok yang cukup jauh dari mereka lalu akhirnya bersandar di pinggiran balkon sembari melihat langit luas yang membentang kelam. Keningnya yang tertutup helaian tipis mengerut, ke manakah bintang-bintang malam ini?

Aroma khas bunga yang bermekaran di musim semi tiba-tiba menyapa indra penciumannya. Eren mendengar bunyi langkah kaki menghampirinya. Tanpa menolehkan kepalanya pun pria itu tahu Historia yang datang ke arahnya.

Eren sudah bertemu dengannya tujuh tahun lalu sebelum berangkat ke Prancis. Waktu itu mereka hendak dijodohkan orang tua mereka, namun Historia secara mentah-mentah menolak rencana itu dengan membawa kekasihnya, Ymir. Kabarnya wanita alpha itu mengalami kecelakaan lalu lintas bersama Historia enam tahun yang lalu dan hanya Historia korban yang selamat.

"Eren, bisa kita bicara sebentar?" tanya wanita itu saat berdiri di sebelah Eren.

"Katakan saja." Eren menatap kosong ke bawah sana pada semak-semak mawar yang menghiasi pekarangan hotel. Menunggu Historia mengeluarkan isi kepalanya.

"Bagaimana menurutmu tentang perjodohan ini?" Historia bertanya ragu-ragu. "Juga ... tentang yang waktu itu, aku benar-benar minta maaf."

Angin malam membawa hawa musim dingin melewati mereka. Eren masih termenung dan larut dalam persepsinya sendiri. "Untuk apa kau minta maaf?" Eren memiringkan badannya hingga menghadap anak bungsu keluarga Reiss itu dan menatapnya dingin.

Dalam hatinya, dia merasa jengkel dengan status omega yang seringkali merenggut kebebasan orang-orang yang menyandangnya. Bahkan omega dari kalangan atas seperti Historia pun masih menanggung beban sebagai aset yang bisa digunakan sesuai keinginan pemiliknya, orang tuanya sendiri.

"Kau pergi ke Prancis setelah aku mengacaukan segalanya dan sekarang," Historia mengambil jeda sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya, "kita dihadapkan pada situasi yang sama lagi."

Eren paham maksud wanita itu dan ucapan Historia amat menggelikan baginya. Pria itu pun tertawa dan berkata, "kalau kau berpikir aku langsung patah hati karena penolakanmu lalu kabur setelahnya, maka kau salah besar, Nona Reiss."

Bahu Historia tersentak mendengar kata-kata Eren. Wanita itu lantas mengangkat dagunya dan menatap Eren tidak percaya. "Lalu mengapa kau pergi setelah itu?"

"Itu hanya karena aku ingin melepaskan diri dari kekangan ayahku." Eren kembali bersandar dan menghirup udara malam yang sejuk. "Aku paling benci diperlakukan seperti hewan ternak yang selalu digiring penggembala. Yang kulakukan waktu itu adalah menunjukan pada ayahku bahwa aku bebas atas hidupku."

Pengakuan Eren secara telak mengejutkan Historia. Selama ini dia mengira Eren membencinya karena dia menolaknya saat itu sehingga dia berusaha menjauh dari pria alpha itu bahkan setelah kematian Ymir. Entah bagaimana dia mengklaim perasaannya saat ini, antara lega dan sedih karena ternyata Eren tidak pernah menaruh hati padanya meski mereka pernah berteman dekat sewaktu kecil.

"O-oh, begitu, a-aku lega mendengarnya," gumam wanita pirang itu dengan menunduk dalam, "lalu apa yang terjadi di sana, apa kau bertemu seseorang?"

Bola mata Eren langsung berbinar seakan bintang-bintang yang lenyap dari langit malam ini karena telah berpindah ke sana. "Ya, aku bertemu cintaku di sana. Historia, kau wanita yang terhormat dan pria brengsek sepertiku sama sekali tidak cocok denganmu."

The Coordinate : Perfect Sword and ShieldCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang