A Cursed Fate

1.3K 186 20
                                        

Eren telah melihat begitu banyak kesenjangan antara alpha dan omega. Dalam jarak dekat, dia melihat sosok Historia sendiri. Meskipun dia keturunan bangsawan dan lahir dalam kemewahan serta bermartabat, omega tetaplah omega. Tak pernah dianggap lebih berharga dari sekadar mesin penghasil keturunan dan alat untuk mencapai ambisi keluarganya.

Di dunia yang tatanannya rumit seperti ini, nasib omega yang ada di luar sana bisa jadi lebih buruk dari Historia. Sebagian besar kaum omega dipekerjakan sebagai kupu-kupu malam yang bertugas menghibur dan mendesah untuk para bajingan yang membayar demi menikmati tubuh mereka. Jika ada pekerjaan yang lebih terhormat dari itu, pastilah sebatas pelayan restoran, penjaga toko, atau tenaga pengajar.

Mayoritas perkantoran lebih memilih beta sebagai wakil pimpinan alpha dan mesin penggerak operasionalnya. Tak ada yang mau menerima omega. Kalau pun ada, mungkin mereka akan diberi posisi rendahan seperti cleaning service. Sungguh miris nasib mereka karena menjadi bahan intimidasi dan perbudakan ras lainnya.

"Jika saja tak ada sub-gender di dunia ini, pasti jadi lebih baik dan kehidupan akan berlangsung damai."

Eren termangu mendengar perkataan Zeke. Malam itu hampir larut. Saat semua orang sudah terlelap di atas ranjang hangat mereka, Jaeger bersaudara itu diam-diam bertemu di padang rumput besar yang menjadi pemisah pemukiman warga dengan hutan.

"Apa kau tahu? Omega sempurna jauh lebih kuat dari yang kita bayangkan," ujar Zeke dengan pandangan menerawang ke langit, "dia mampu menyembuhkan dengan feromonnya serta mengotak-atik hormon dan struktur genetik. Aku mengetahuinya dari buku catatan Keluarga Jaeger dan sejujurnya, aku sedang memikirkan sesuatu yang menarik dari fakta ini. Kau mau mendengarku?"

Eren menjawabnya dengan anggukan ringan. Pikirannya kini melayang pada Levi-nya yang tertidur pulas ketika dia menyelinap keluar dan menemui Zeke. Dia berharap kekasihnya itu tak menyadari kepergiannya.

"Kita bisa menggunakan kekuatannya itu untuk mengubah alpha dan omega menjadi beta," kata Zeke, dia tampak berpikir sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya, "dengan cara itu, maka tidak akan ada lagi perbudakan antarras dan dunia akan berjalan di atas keadilan manusia."

Eren tersentak. Sekali lagi mencoba mencerna kata-kata Zeke dengan kening berkerut dalam. Angin tengah malam meniup helaian tipis rambut coklatnya hingga jatuh di pelipis. Memanfaatkan kekuatan omega sempurna ... itu juga berarti menggunakan Levi dan mempertaruhkan nyawanya! Otaknya memberi peringatan seperti sirine yang meraung-raung di dalam kepalanya. Tak akan pernah kubiarkan itu terjadi!

"Aku menolak rencana itu!"

Zeke menoleh cepat, terkejut dengan reaksi adiknya yang menggeram bagai binatang buas yang mempertahankan wilayah teritorialnya.

"Harusnya kau juga tahu itu akan membunuh Levi," Eren menusuknya dengan tatapan kemarahan, "dia akan mati jika mengeluarkan kekuatan sebesar itu."

"Tapi, ini adalah cara untuk mengendalikan kestabilan dunia! Apa kau tak berpikir tentang itu? Bahkan jika dia tetap hidup, pikirmu kehidupannya akan mudah dan aman? Dia akan tetap menjadi buruan orang-orang karena masa lalu pendahulu kalian! Perbudakan akan tetap berjalan, tak akan pernah ada kedamaian di dunia ini. Kau mestinya juga berpikir sejauh itu, Eren!"

Zeke menarik napas sedalam mungkin lalu mengembuskan perlahan. Mengapa Eren begitu egois? Sebesar itukah cintanya sampai dia buta pada kehidupan lain di luar sana?

"Lalu apa yang menurutmu terbaik?"

Jaeger yang lebih muda terdiam cukup lama, berpikir dalam diam sementara Zeke mengetukan ujung jarinya ke kap mobil dan menunggu. "Aku akan mengakhirinya," akhirnya Eren mencetus, "dengan melenyapkan sumber masalah itu."

"Maksudmu?" Sekujur tubuh Zeke meremang, pernyataan Eren terucap dalam nada bicara yang tak bisa dianggap lelucon.

"Sub-gender adalah sebuah kesalahan. Akan segera kuakhiri riwayat alpha dan omega di luar sana," Eren berbalik menatap Zeke dengan sorot mata sedingin es dan tampak depresif, "alpha dan omega saling bergantung satu sama lain itulah sebabnya, namun aku tidak bisa mengorbankan Levi. Anak-anak kami terlahir beta dan aku sangat bersyukur. Karenanya, mereka akan punya kehidupan yang damai dan normal. Tetapi mereka juga masih membutuhkan Levi."

"Lalu bagaimana jika kau yang mati?" Zeke tidak bisa menutupi kengeriannya pada rencana Eren, "katamu alpha dan omega itu saling bergantung, 'kan? Levi adalah omega, bagaimana jika dia heat?"

"Aku bisa mempercayai seseorang, Erwin Smith."

Zeke mengerang frustrasi. "Kau harus berpikir sedikit lebih jauh, Erwin itu alpha. Jika mereka punya anak, bisa jadi anak mereka alpha atau omega juga. Kau mungkin saja hanya beruntung memiliki anak-anak beta."

"Kalau sampai hal itu terjadi, Levi bisa mengubahnya menjadi beta. Bukankah kau sendiri yang mengatakan itu?"

Si Pirang berkacamata pun tertohok oleh serangan balik Eren. Dia mendesah gelisah membayangkan rencana Eren yang jauh lebih gila darinya, sembari mengurut pangkal hidungnya yang berdenyut nyeri. "Sebenarnya apa yang kau pikirkan, Eren?"

"Aku hanya ingin Levi dan anak-anakku hidup lebih lama."

~¤~

Eren menyetir mobil off-road milik Kenny meninggalkan padang rumput besar juga Zeke di belakangnya. Kembali memasuki belantara gulita di jalan setapak yang dipagari semak-semak liar, Eren hampir kehilangan fokus karena rencana yang telah disusunnya itu memang kelewat gila. Terlebih jika seandainya dia mati ... jujur saja dia tak rela memberikan Levi pada siapa pun.

Kemudian dia melihat setitik cahaya di depan sana. Eren menyadari cahaya redup itu berasal dari balik jendela pondok Kenny, menandakan seseorang tengah menunggu di ruang tamu. Dia bergegas memarkirkan mobil di garasi samping lalu melompati anak tangga dan membuka pintu yang ternyata sudah tidak terkunci.

"Kau dari mana?"

Levi semula berbaring di sofa kini beranjak bangkit menyambut Eren yang baru saja mengunci pintu kembali. alpha itu langsung mendekap tubuh mungil itu sambil menyesapi aroma manis dari tengkuknya yang mulus. Eren selalu menyukai baunya yang menenangkan namun kadang menggoda birahinya juga.

"Hanya jalan-jalan di luar," itu tidak sepenuhnya dusta, tetapi Eren merasa Levi tidak perlu tahu dia menemui Zeke.

Kepalan tangan halus Levi menubruk dadanya yang keras main-main. "Kau benar-benar curang! Mengapa tidak mengajakku?" tuduhnya.

Eren terkekeh pelan. "Kau tidur seperti bayi, itu sangat manis. Mana tega aku membangunkanmu, Sayang?"

"Aku tidak peduli!"

Lengan-lengan kokoh Eren merengkuh kembali Levi ke badannya. "Kau ingin ke kabin malam ini?"

Seketika Levi merona karena satu kata itu berarti sesuatu yang akan menggetarkan tubuhnya sampai ke bagian terdalam dirinya.

"Aku sudah berjanji padamu, jadi biarkan aku menepati janjiku," Eren membisikinya dengan nada sensualnya yang berat dan menggairahkan.

"Tengah malam, Eren, kau yakin tidak ada binatang buas di sekitar sana?"

Sekali lagi Eren tertawa geli mendengar kebimbangan Levi yang didasari rasa malu-malunya. "Apa yang perlu kautakutkan? Binatang buas itu hanya akan melahapmu hingga kau mengerang kenikmatan, Sayang, dan kau akan mendesah hebat sampai menangis puas karenanya."

"Diam!" Levi tidak tahan mendengar perkataan vulgar itu dan langsung membekap mulut Eren dengan kedua tangannya.

"Kalau begitu ayo pergi."

***

Jangan lupa dukung fanfiksi ini dengan vote and comment setiap usai membaca. Thanks, dear!

Jepara, 12 Maret 2021
With love,

中原志季
Nakahara Shiki

Edited : Jepara, 3 Agustus 2021

The Coordinate : Perfect Sword and ShieldTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang