Rumah besar keluarga Jaeger telah dipenuhi para tamu ketika Levi kembali dengan muka sekusut kertas yang diremat-remat. Sedikit terkejut menemukan Erwin berada di antara tamu-tamu itu dan dia adalah yang pertama kali menyambutnya setelah melangkahi ambang pintu.
Carla tampak khawatir dan menghampirinya sambil menggendong Rivaille, "kau tidak kelihatan baik-baik saja."
"Aku hanya sedikit lelah," dia tidak sepenuhnya berdusta karena tubuhnya benar-benar letih setelah malam yang membakarnya bersama Eren.
"Mama?" Sentuhan jemari mungil Rivaille menekan salah satu pipinya sementara Ren menggenggam tangan kanannya. Mata mereka dipenuhi kecemasan akan dirinya.
Levi menyadari kebohongan 'menginap' di rumah Hange telah terkuak saat orang itu beranjak bangkit dari sofa yang nyaman dan melipat lengan di depan dada.
"Beraninya kau menjadikan aku bahan kebohonganmu," Hange kesal namun tidak benar-benar marah, lantas menghela napas setelah mendapatkan permintaan maaf Levi, "ke mana saja kau kemarin?"
Semua orang melemparkan tatapan ke arahnya dengan penuh rasa ingin tahu. Erwin bukan satu-satunya Alpha pirang berbadan besar, ada dua orang lain yang dikenalnya sebagai Mike dan Reiner. Oh, bagaimana Reiner bisa terlibat di sini? Bahkan di sebelah Mikasa juga ada pirang satu lagi namun dia lebih kecil dibanding mereka dan tampangnya kekanak-kanakan.
Terlepas dari rasa penasaran Levi terhadap mereka, dia masih ingat untuk menjawab pertanyaan Hange yang tentu sudah mewakili seluruh kepala di ruangan itu. Baru saja dia ingin menjawab, seseorang mendahuluinya berbicara.
"Setidaknya biarkan dia duduk lebih dulu," itu suara Kenny, agak aneh melihatnya duduk berdampingan dengan Grisha.
"Tak apa begini saja," Levi mengambil napas mengawali penjelasannya, "aku bertemu Eren."
Atmosfer di ruangan itu terasa lebih menegangkan daripada sebelumnya. Nama Eren seakan telah menjadi sesuatu yang menyentak jantung keluar dari rongga dada. Levi menunduk pada lantai di bawah kakinya, tak ingin menyaksikan seperti apa ekspresi di sekelilingnya.
"Kau sudah tahu keberadaan Eren?" Zeke bertanya.
Levi mengangguk kaku, tetap saja enggan mengangkat wajahnya. "Tetapi aku tidak yakin dia akan menetap di satu titik cukup lama, aku tidak sadar setelahnya dan terbangun di sebuah kamar apartemen."
Erwin mendengus tidak senang, sementara Mike tersenyum geli di sebelahnya dan bergumam, "tidak heran bau tubuhmu agak mengusik sedari tadi."
"Mike!" bentakan Levi terdengar lemah. Wajahnya merona tak terkendali.
"Jadi, rencana pertama gagal, ya?" Armin, pirang kecil itu bersuara setelah lama diam, "jika Levi saja ditolak, tak ada harapan kita berbicara dengannya."
"Maka tidak ada cara lain lagi," timpal Jean tak kalah muram dari Armin atau pun Mikasa, "entah dia masih waras atau tidak saat memutuskan hal ini, kita tetap harus menghentikan rencananya."
Mikasa mengerutkan kening, lalu menyentuh bahu Jean menenangkan. Sebagai anak yatim piatu yang diadopsi keluarga Jaeger, Eren adalah figur saudara baginya. Levi kembali mengamati setiap ekspresi yang terhampar di depan matanya. Grisha sungguh dibuat frustasi oleh putra bungsunya, dia tidak seperti Carla yang masih bisa mengalihkan perhatiannya pada dua bocah Jaeger kecil.
"Kita harus bersiap untuk membunuhnya," ujar Reiner, keyakinan dan keraguannya sama-sama imbang.
Levi tersentak karenanya sampai suaranya melengking di udara dan mengejutkan orang-orang, "tidak!"
"Eren itu sangat ambisius, tak ada yang bisa mencegah bocah itu jika keinginannya sudah bulat," Zeke menyahut dari tempat duduknya, "kau harus mengerti, keputusan Eren sama sekali tidak bisa ditoleransi."
"Kakak macam apa kau," mata Levi memanas, "tega-teganya kau bicara begitu!"
Levi berpaling cepat pada Carla meminta pembelaan, namun yang didapatkannya hanya raut ketidakberdayaan di wajah rupawan itu. "Maaf, Levi."
"Tapi kau ibunya ..." aneh rasanya mendengar suaranya sekering tulang dan sarat kegetiran.
Carla merengkuh bahunya dengan tangan yang bebas dan berkata menggunakan nada keibuannya yang pahit dalam situasi ini, "aku tahu, Levi. Pasti berat sekali untuk melepaskan Eren, aku juga merasa begitu."
Levi merapatkan bibir, dia mengernyit tidak menyukai gagasan itu. Sementara orang-orang berbicara, dia melesat ke kamarnya, semula itu adalah kamar Eren yang disiapkan Carla untuknya. Jelas sekali tidak ada yang berubah di sana dan Levi bisa tetap merasa dekat dengan Eren.
Namun sebelum lututnya jatuh di ranjang, Levi sudah lebih dulu merosot di lantai. Punggungnya yang bergetar menyandar pada pinggiran ranjang, lengannya bergerak merengkuh kedua lutut ke dada yang bergemuruh di dalam.
Sama sekali tidak menyangka dia bukan satu-satunya yang berpikir bahwa membunuh Eren akan menjadi jalan terakhir. Walaupun awalnya dia berjuang menyiapkan mental dan keberanian bila rencana itu benar-benar harus dilakukan, detik ini dia justru merasa ragu-ragu dan takut. Tidak siap menghadapi kemungkinan Eren-nya akan tergelincir lagi darinya.
Sekali lagi ... apa kita tak pernah diijinkan bersama?
Jemarinya dilarikan ke kepala, meremat helaian rambutnya dengan frustasi. Desakan emosi membeludak dalam dirinya, Levi menjerit karena tak berdaya untuk melindungi Eren.
Omega Sempurna ... sang pelindung ... Levi tertawa kering mengejek dirinya sendiri.
"Apanya yang pelindung? Hanya Omega lemah yang tak bisa mempertahankan Alpha-nya," gumamnya tanpa sadar.
Levi terus saja memandang lantai dan melamun. Jejak air mata mulai mengering di kedua belah pipinya. Mata kelamnya semakin hampa kehilangan cahayanya.
Lalu terdengar langkah-langkah ringan menghampiri pintu kamarnya, Levi mengerjap pada pintu yang didorong terbuka. Kepala Rivaille menyembul ragu-ragu di celah pintu dengan Ren yang berdiri tepat di belakangnya dan tampak beberapa senti lebih tinggi daripada adiknya.
Levi sudah kelewat banyak memikirkan Eren sampai tak menyadari anak-anaknya yang terus bertumbuh dan masih membutuhkannya membantu menuliskan nasib atau mendorong menentukan pilihan. Saat itu juga Levi menyadari betapa egoisnya dia sampai mengabaikan anak-anaknya.
"Sayang ..." Levi melirih, bibir tipisnya dipaksa untuk mengembangkan senyum, "kemarilah."
Rivaille mengulurkan tangan padanya, begitu juga Ren. Mereka berlari menyeberang dari pintu menuju Levi yang juga mengembangkan lengan menyambut mereka yang bersama-sama melompat ke pelukannya. Bau bedak bayi dalam aroma tubuh mereka menjadi satu-satunya obat penenangnya setelah kepergian Eren.
Entah apakah dia sanggup menghadapi semua ini, meski Levi begitu takut setiap memikirkan keselamatannya juga Eren dan yang lain-lain, semua itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan perasaan ngeri yang senantiasa menghantuinya saat memikirkan masa depan anak-anaknya.
Pasti ada cara lain untuk menyelamatkan Eren sekaligus dunia ini.
Rivaille mengulurkan tangan ke lehernya, Levi berjengit merasakan tangan kecilnya yang lembut meraba-raba sesuatu di tengkuknya. Tanda kepemilikan Alpha itu.
Tiba-tiba Levi tahu itulah satu-satunya cara yang bisa dilakukannya untuk bisa mengalahkan Eren.
***
Hello, all my Dear Reader!
Kupikir aku bekerja semakin brutal. Plot yang semula lembut tiba-tiba merujuk tragedi. Tetapi percayalah, aku berusaha menyajikan yang terbaik untuk kalian agar bisa menikmati.
Maaf jika cerita ini membuat kalian cemas akan akhir yang menyedihkan dan sekali lagi percayalah, aku memang brutal mengobrak-abrik emosi tapi aku juga sangat menyayangi kalian sebagai penikmat fanfiksiku.
Tak ada yang tahu akhirnya sampai kalian melihat akhir itu sendiri.
Jangan lupa menabur bintang dan komentar setiap usai membaca!
See y'all next chapter ♡\(^-^)/♡
Jepara, 31 Maret 2021
With love,
中原志季
Nakahara Shiki
KAMU SEDANG MEMBACA
The Coordinate : Perfect Sword and Shield
Acak[Fanfiction of Shingeki no Kyojin by Isayama Hajime. Mainship : Eren Jaeger x Levi Ackerman] Start : January 26th, 2021 End : April 6th, 2021 Alpha dan Omega Sempurna diturunkan sebagai pengendali konflik antarras di dunia. Mereka diberkati anugerah...
