"Sial!"
Levi, Zeke, Kenny, Erwin, dan Reiner hendak mencapai pintu ketika tiba-tiba pintu itu didobrak dari luar oleh segerombolan orang dengan kain merah terikat di lengan kiri atas. Tak hanya itu, yang paling mengejutkan adalah Grisha, Mikasa, Jean, Armin, Bertholdt, Mike, dan Rivaille yang berada dalam dekapan Carla juga bersama mereka sebagai tawanan.
"Berbalik dan jangan berbuat macam-macam!"
Orang-orang itu menggiring mereka semua menuju ruang bawah tanah setelah dua dari mereka menarik Historia dan Ren keluar dari ruang atas. Selama setengah jam mereka membeku seperti patung batu yang suram. Siapa yang menerka di saat seperti ini, justru mereka tertahan oleh segerombolan remaja berbandana merah yang aneh itu?
"Armin, siapa mereka?" tanya Levi dalam bisikan rendah pada Armin yang mendekap lutut di sebelahnya.
"Mereka adalah suruhan Eren," jawabnya muram. Ada kekecewaan dalam suaranya ketika menyebut nama sahabat masa kecilnya itu.
"Eren, mengapa dia tidak menyuruh mereka membunuh kita sekalian?"
"Itu mustahil, Levi," sanggah Armin, "Eren tidak mungkin membunuhmu dan anak-anak kalian. Tapi, menempatkan kita di tempat yang sama ... rasanya aneh."
"Jika si bodoh itu masih waras, dia pasti punya alasan yang jelas," Jean menyahut. Satu lengannya merangkul Mikasa yang membisu sejak mereka memasuki Sanctuary.
Levi membenarkan ucapan Jean. Eren tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa alasan. "Eren mengirim mereka untuk memastikan kita tetap di sini." Levi menarik napas dengan tajam seakan kata-katanya itu melukainya. "Mereka tidak akan melukaiku atau Ren dan Rivaille karena Eren.
Maka, sudah jelas bahwa hanya aku yang bisa keluar dari sini."
"Levi," Kenny memanggil. Mata pria itu menunjukan pemikiran yang sama dengannya, "aku tahu apa yang kaurencanakan." Kenny merogoh sakunya kemudian menyelipkan sesuatu ke dalam genggaman tangan Levi. Sebuah kunci mobil. "Bertarunglah demi kekasih bajinganmu itu."
Dia menunduk, tersenyum pahit menatap benda di tangannya. "Aku mencintai bajingan itu, Paman."
"Kau harus bisa melewati para cecunguk yang di sana," Kenny menunjuk gadis berambut pirang gelap dan pemuda tinggi di ambang pintu, "jangan lupa menjarah senjata mereka."
"Paman, kau masih berusaha menjadikanku kriminal?"
Kenny tersenyum humor, "kau harus menjadi kriminal untuk melawan kriminal."
"Tentu saja." Levi beranjak menghampiri dua orang itu. "Apa aku bisa ke toilet?"
Gadis dan pemuda itu saling pandang sejenak.
"Aku yakin Eren tidak akan senang kalian bersikap kurang ajar padaku," Levi berharap ucapannya cukup mengancam mereka dan benar saja, gadis itu akhirnya bersedia mengantarnya ke toilet.
Namun ketika mereka baru mencapai lorong sunyi, Levi langsung berputar sembari melayangkan tendangan kuat hingga mengenai pelipis gadis itu. Si pirang lengah dan terhuyung ke lantai. Levi cepat-cepat merampas senapan yang terlempar di dekat kaki gadis itu lalu berlari menuju pintu keluar.
Hambatan tidak cukup di situ, Levi harus berhadapan dengan lima orang lagi yang berhamburan masuk karena mendengar pekikan gadis yang ditendang Levi. Dia mengangkat senapannya lantas mulai membidik, tetapi genggamannya rapuh dan nyaris goyah. Membunuh orang, Levi tidak pernah berpikir hal yang demikian harus dilakukannya.
Levi memejamkan mata selama sedetik seraya memikirkan anak-anak dan rekan-rekannya di Sanctuary. Dia mengingat Eren yang ingin membersihkan dunia dari Alpha dan Omega.
Jika aku gagal, mereka akan mati. Kata-kata itu bergema keras dalam relung hatinya. Mendorong Levi supaya mau mengangkat senapan dan menarik pelatuknya, sekali lagi tangannya gemetar namun tekad untuk meyelamatkan lebih banyak orang meredamnya hingga terdengar bunyi tembakan.
"Atau setidaknya," Levi memfokuskan bidikannya ke arah mereka dan mulai menembaki. Alih-alih ke jantung mereka, Levi justru mengarahkan tembakannya ke kaki mereka, "aku hanya perlu melumpuhkan kalian."
Levi berhasil menghambur keluar menuju mobil Kenny setelah membuat orang-orang itu memekik kesakitan akibat peluru yang bersarang di betis mereka. Tak lupa mengambil satu senjata lagi, sebuah revolver milik salah satu di antara mereka.
Dia langsung duduk di kursi pengemudi dan bergegas menyalakan mesin kemudian menyetirnya menuju jalanan yang menuntunnya menuju pusat kota. Levi menginjak pedal gas dalam sehingga mobil pun melesat bagaikan macan tutul yang meraung di jalan beraspal.
"Titik tertinggi kota Hamburg," gumamnya sambil berpikir mencari tempat yang merupakan titik tertinggi di pusat Hamburg. Levi tersentak saat sebuah nama melintas di kepalanya. Astaga, mungkinkah Eren di sana?
~¤~
Kota Hamburg bersinar di bawah cahaya keemasan matahari. Tak menyadari sebuah bencana akan segera menyapunya di bawah badai feromon beracun.
Eren bisa merasakan semua titik-titik Alpha dan Omega yang terhubung dengannya. Sekujur tubuhnya mulai terasa aneh, tanda Coordinate juga telah bermunculan di bawah matanya. Dilihat dari atap gedung milik keluarga Reiss ini, mereka semua seperti sekawanan semut yang berlalu lalang di akar-akar pohon.
Perlahan Eren mulai bergantung pada kekuatan Coordinate-nya. Kedua tangan yang semula bersembunyi nyaman di dalam saku kini ditarik keluar seiring feromonnya yang menguar ke seluruh arah. Feromon yang tajam itu menyebar dari tubuhnya bagai gelombang pasang surut yang ganas menghantam pesisir pantai.
Kegelapan perlahan melahapnya.
Levi ... Levi ... Levi ...
Nama itu terlontar dari mulutnya layaknya sebuah mantra yang mengikatnya ke satu titik. Sebuah cahaya yang berpendar paling terang dan berbeda dari titik lainnya, terasa semakin dekat dan seolah-olah tertarik olehnya.
Eren merasa ratusan tangan tak terlihat menariknya kian dalam pada pikirannya yang terdalam. Otaknya berhenti bekerja namun tubuhnya terus bergerak. Jantungnya berdetak lebih cepat hingga mencapai batas normal dan darah berdesir semakin deras mengalir di tubuhnya.
Ada sesuatu yang hilang kemudian timbul dalam dirinya. Kegelapan mutlak dan tanpa akhir menelannya setiap kali dia mencoba membuka mata. Terasa ada yang merayapi tulang belakangnya. Namun Eren benar-benar terkunci dalam kegelapan itu sementara tubuhnya seperti sedang diperas dan menghasilkan sejumlah besar feromon yang mematikan bagi Alpha dan Omega mana pun yang terpapar.
Jarum waktu seakan-akan berhenti berputar. Satu per satu target yang menyerap feromon Eren mulai kejang-kejang setelah membatu sesaat. Tidak, tampaknya menyerap bukan kata yang tepat, mungkin dirasuki, atau apa pun itu. Mereka akan merasakan ribuan jarum yang menekan dada dan permukaan kulit mereka lalu menggeliat tersiksa seperti sedang terbakar oleh api yang berkobar-kobar, sebelum akhirnya terkapar tak bernyawa.
Kejadian itu langsung saja memancing kepanikan masal para Beta yang kebetulan melintas. Mereka terlalu panik sampai tak menyadari sang pelaku utama yang menatap dengan tersenyum dingin dari puncak atap gedung.
Kesadaran Eren menyurut secara bertahap. Seluruh inderanya melumpuh, sesuatu mengalir kemudian menyebar dari setiap ujung-ujung jemari. Garis-garis kemerahan yang gelap mirip luka terbuka itu meluas ke seluruh permukaan kulitnya. Eren tak ubahnya sesosok monster yang menatap puas mangsa-mangsanya yang tak berdaya dan meregang nyawa.
Tanpa menyadari sepasang mata yang mengintainya dari satu titik buta.
***
Hello, all my Beloved Reader!
Ada malaikat-malaikat penumpas dan iblis yang melebarkan sayap kegelapan. Akhir sebuah tragedi di kala waktu menjelang cahaya fajar. Menyambut awal yang baru, adakah secercah harapan indah?
Jangan lupa menabur bintang dan komentar setiap usai membaca!
See y'all next chapter ♡\(^-^)/♡
Jepara, 6 April 2021
With love,
中原志季
Nakahara Shiki
KAMU SEDANG MEMBACA
The Coordinate : Perfect Sword and Shield
Acak[Fanfiction of Shingeki no Kyojin by Isayama Hajime. Mainship : Eren Jaeger x Levi Ackerman] Start : January 26th, 2021 End : April 6th, 2021 Alpha dan Omega Sempurna diturunkan sebagai pengendali konflik antarras di dunia. Mereka diberkati anugerah...
