A Promised Hope

993 143 22
                                        

"Mau pergi?" Zeke bertanya, nadanya sambil lalu. Pirang itu sedang menyesap kopi di teras, "terima kasih untuk kopinya."

"Ya, aku ingin berbelanja hadiah natal, selagi masih sempat." Hatinya meringis. Kata-kata itu terasa aneh saat melontarkan diri begitu saja dari mulutnya.

Raut ketegangan tergambar jelas di wajah Zeke. Namun hanya sedetik sebelum dia melemaskan bahunya dan membuka buku, kemudian membacanya.

"Segeralah pulang kalau sudah selesai."

"Tentu."

Levi menaikan scarf menutup mulutnya sembari menerjang derasnya hujan salju. Sore itu sangat muram, senja akan turun tidak lama lagi. Levi menumpangi taksi untuk menghemat waktu dan tenaganya, menuju sebuah restoran sederhana di pusat kota Hamburg.

Ini sudah dua hari sejak kedatangannya di rumah keluarga Jaeger. Carla begitu gembira sampai nyaris tidak ingin melepaskan kedua cucunya barang sebentar. Berkebalikan dengan Grisha, ayah Eren, pria berkacamata itu malah terkesan sangat menghindari mereka. Tidak pernah sekali pun Grisha terlihat menggendong atau sekadar berbicara pada Ren dan Rivaille.

Levi mendesah berat. Cemas merambati hati memikirkan bagaimana hubungan mereka dengan Grisha kelak. Dia tak ingin anak-anaknya merasa dibenci oleh kakeknya sendiri. Belum lagi Eren yang entah sedang berada di mana sekarang dan sampai kapan permainan saling mengejar ini akan berakhir?

Taksi melaju menembus kepadatan Hamburg yang dipenuhi manusia bermantel hangat. Beberapa toko yang dilewatinya sudah memasang dekorasi natal sekaligus menawarkan discount meriah untuk menarik pembeli yang melintas.

Langit sudah tercemar warna merah ketika taksi berhenti di depan restoran yang dituju. Levi ingin bergegas menyelesaikan urusannya di sini kemudian pulang setelah membeli sesuatu untuk anak-anaknya. Sekilas dia merasa canggung mengenai apa yang telah diputuskan di belakang mereka, tanpa diketahui sesiapa pun.

Meja yang dipilih merupakan titik paling tersembunyi di ruangan itu. Terasingkan di sudut yang remang-remang. Levi meletakan bokongnya di kursi kayu berpelitur dan bergaya minimalis. Mejanya bundar, terbuat dari bahan yang sama dengan sebuah vas kaca bening berisi empat tangkai bunga kastuba merah dan putih di atasnya.

Levi mulai menghitung waktu dan menunggu orang itu datang dalam keheningan ruang.

"Maaf, terlambat," suara yang familiar menyapa telinganya. Kedatangan Erwin Smith mengalihkannya dari pikiran yang semrawut. Erwin masih seperti sosok pria yang selalu menemaninya dalam lima tahun ini. Tampan, sopan, dan penuh pesona.

"Erwin."

"Kau sangat cantik, kalau aku boleh lancang mengatakan ini."

Gumaman terima kasih Levi membalas pujian itu. "Lama tidak bertemu, ya?"

"Hanya beberapa hari, Levi."

Lagi-lagi Levi menghela napas, suasana di antara mereka begitu canggung dan kaku.

"Katamu ada sesuatu yang ingin dibicarakan," Erwin bergumam cepat namun tetap dalam ketenangannya yang mencengangkan, "aku dengar dari Hange, Eren menghilang."

Levi terdiam sejenak, jemari lentiknya bertautan gugup di atas meja. Jemari yang lebih besar dan hangat meraihnya ke dalam rematan lembut.

"Kau bisa mengatakan apa pun padaku," janji sang malaikat bermata safir yang menawan itu.

Apa lagi yang bisa kulakukan?

Levi telah memikirkannya sepanjang waktu dalam dua hari ini, hampir tiga hari. Yang lain hanya memintanya berbicara dengan Eren tetapi Levi memikirkan cara lain yang melampaui pemikiran mereka. Rencana yang akan menyakiti dirinya sendiri nanti.

Selama beberapa detik dia terdiam, menunduk pada permukaan layu yang masih terlihat urat-uratnya yang kecoklatan. Satu kata pun tak bisa diloloskan dari celah bibirnya. Semua ini terlalu menyakitkan.

"Kita bisa pesan sesuatu dulu," kata Erwin sebelum menarik tangannya dan memanggil pramusaji yang hendak melewati mereka. Pria itu memesan secangkir teh dan kopi untuk mereka lalu gadis muda itu pun pergi memasukan pesanan.

Levi masih tetap termenung sampai secangkir teh hitam diletakan di depan wajahnya. "Erwin?"

"Ya."

"Apa Hange mengatakan semuanya?"

Erwin menimbang-nimbang sejenak lalu mengangguk sekali. "Kupikir dia sangat gegabah. Aku mengerti, Eren terlalu mencintaimu, juga anak-anak. Lalu status kalian, musuh yang mengincar kalian, aku mengerti betapa besar ancaman yang sedang mengintai kalian.

Tetapi, genosida massal itu terlalu berbahaya dan sangat tidak manusiawi. Risikonya pun tidak main-main. Meski dia hanya menargetkan Alpha dan Omega, bukannya tidak mungkin Beta juga akan menerima akibatnya.

Aku tidak mengatakan ini sebagai seorang Alpha, tapi ada banyak kehidupan lain yang tidak bersalah bisa menjadi korbannya."

Levi terperanjat bagaimana Erwin bisa memikirkan hal yang sama dengannya. Itulah hal penting yang ingin dibicarakannya dengan Erwin. Hanya saja bukan itu topik utamanya. Levi ingin berbicara mengenai Ren dan Rivaille.

"Aku akan menghentikan Eren," akhirnya Levi bisa menemukan suaranya, "tapi aku butuh bantuanmu."

Mata biru langit itu melebar. Erwin menunggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkan Levi, permintaan Omega itu merupakan salah satu hal yang paling mustahil diabaikannya.

"Kau selalu menjadi ayah yang baik untuk mereka," Levi merasakan suaranya tiba-tiba tercekat dan susah payah dia memaksa keluar dari tenggorokannya yang sekering tulang, "aku ... tidak bermaksud memperalat dirimu, tapi kau satu-satunya yang paling dekat dengan mereka selain aku dan Eren."

Pikirannya membawa naik gambaran Grisha yang seakan menolak kehadiran mereka di rumahnya. Walau Carla dan Zeke tidak, tetap saja anak-anaknya tidak akan hidup dengan tenang dalam penolakan kakeknya. Tetapi Erwin, hanya pria itu yang bisa menggantikan peran Eren dengan sempurna.

"Bukankah kalian sudah tinggal di rumah Jaeger?" Cahaya di mata Erwin tiba-tiba meredup dan suaranya begitu lirih terdengar.

Ini juga akan melukai hatinya, Levi mati-matian mengabaikan kebimbangan itu.

"Ayahnya menolak mereka, Tuan Grisha," menyadari suaranya yang bergetar, Levi mengambil jeda sebentar menyesap tehnya, "aku tidak tahu alasannya tapi aku juga tak bisa menerima faktanya."

Erwin tersentak, matanya terpaku pada Levi yang mulai berkaca-kaca namun ditahan agar air matanya tidak tumpah. Sungguh, Erwin ingin merengkuhnya, melindunginya, membuatnya merasa tetap aman dalam pelukannya.

Namun kedua lengannya justru terasa kelu, tak bisa digerakan. Erwin tahu, Levi telah mencurahkan seluruh perasaan itu kepada Eren. Tak akan ada sepercik pun yang tersisa untuknya.

"Dengan asumsi aku bisa menghentikan Eren, kami bisa saja sama-sama menemui kematian," Levi berjuang menegarkan diri meskipun hatinya tengah merapuh saat ini, "jika itu terjadi, aku ingin kau menikahi seseorang dan menjadi orang tua mereka.

Hiduplah lebih lama dan jaga mereka untuk kami. Hanya itu yang bisa kuminta darimu, Erwin."

Levi menunduk lagi, menahan desakan untuk menangis, mengatupkan bibir rapat-rapat. Akan jauh lebih baik Ren dan Rivaille jatuh ke tangan Erwin yang tak akan menua mendahului Kenny.

Tiba-tiba bunyi kayu yang menggesek lantai keramik terdengar sebelum Levi merasakan kehangatan dan sepasang lengan yang menariknya dalam dekapan erat. Levi terkejut mendapati Erwin memeluknya dengan tidak rela.

"Kau tidak boleh mati, berjanjilah kau tidak akan mati, Levi!"

***

Hello, my Dear Readers! How it feel, Honey? And thanks a lot of your loyalty.

Jangan lupa untuk menabur bintang dan komentar setiap usai membaca!

See y'all next chapter ♡\(^-^)/♡

Jepara, 27 Maret 2021
With love,

中原志季
Nakahara Shiki

The Coordinate : Perfect Sword and ShieldTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang