"Kau memotong rambutmu lagi?"
Eren tersenyum lembut dan menyampirkan mantel hijau di bahu Levi. Dia memotong rambutnya lagi, menatanya dengan gaya yang sama seperti saat di Rudesheim. "Kupikir ini lebih praktis dan tidak akan menggangguku nanti."
"Mau bagaimana pun kau selalu tampan," seloroh Levi.
"Apa itu pujian?"
"Itu bebas bagaimana kau menanggapinya."
Eren mengerang kemudian merengkuh pinggang Levi dan menariknya menyelinap melewati pintu belakang. Langkah sepasang kekasih itu merunuti jalan setapak di bawah jajaran kanopi tinggi pepohonan yang disusupi cahaya pucat bulan. Salju-salju menari di udara menuju bumi dan menumpuk di sana sampai menjadi gundukan tebal di rerumputan.
Eren mengeratkan tangan Levi dalam genggamannya, menikmati lembutnya kulit pucatnya yang indah. Tangan itu akan sangat dirindukan Eren nanti. Jemari lentik yang senantiasa menyalurkan kasih sayang yang tulus. "Kedinginan?"
Kabut tipis terembus dari mulut Levi ketika berbicara, "aku baik-baik saja."
"Nanti aku akan segera menghangatkanmu, lalu menyantapmu seperti pie krim keju yang manis," Eren menggodanya sampai kedua pipi Levi memerah padam.
Tetapi, sebelum mereka keluar dari rimbun pohon-pohon birch dan masuk ke pekarangan luas di mana sebuah kabin kecil berdiri kokoh tak jauh dari mereka, Eren langsung menyeret Levi dan mendesaknya ke pohon. Omega itu gemetar ketika punggungnya bersandar di batang pohon yang kasar sementara napasnya terengah karena terkejut.
Eren menunduk sembari merapatkan tubuhnya ke tubuh Levi sampai dia bisa menghirup napas Levi yang panas dan mengusap kulit pinggangnya di balik lapisan mantel dan kemeja tipis. Dia mendesis dengan satu jari telunjuknya menekan bibir Levi. "Aku mungkin akan melepaskan sisi liarku lebih dari sebelumnya, Levi."
Kata-kata itu merupakan peringatan bagi Levi, namun dia menganggapnya sebagai tantangan. Levi membelai rahangnya lalu turun ke bibir bawah Eren yang lebih tebal. Matanya terarah tepat ke mata Eren yang hijau, gelap, cemerlang, dan penuh kuasa. "Eren, alpha-ku, kekasihku, hidupku."
Eren melengkungkan bibir. "Tentu saja, omega-ku, sayangku, separuh jiwaku."
Kedua pasang mata itu saling mengunci dan mengagumi keindahan masing-masing. Sampai Levi berjinjit untuk mencium bibirnya dengan rapuh dan liar.
"Cukup, Levi, kau tak ingin terbangun telanjang di atas salju saat matahari terbit, 'kan?"
"Kalau itu bersama Eren, aku tidak keberatan."
"Aku akan meninggalkanmu sebelum kau terbangun," ujarnya dalam nada datar dan nyaris tidak terdengar.
"Kalau begitu aku akan menyusul dan menghukum dirimu nanti."
Dia belum menyadarinya.
Eren tersenyum miring dan sulit dipahami. Kemudian bergegas mengangkat tubuh Levi tanpa perlu menunda waktu lagi. Dia sangat ingin bercinta dengan Levi-nya yang manis sampai fajar nanti, malam ini dia akan memasuki masa rut. Sebuah keberuntungan bagi si kembar.
Kabin itu tidak lebih dari bangunan kecil menyerupai pondok. Hampir seluruhnya tersusun dari kayu serta memiliki pekarangan yang ditumbuhi semak blueberry dan mawar, sebagian besar mereka tertimbun oleh salju. Levi membuka pintu dengan kunci yang diberikan Eren lalu Eren menyalakan lampu minyak di ruang tamu karena generator belum dinyalakan. Dalam cahaya redup, mereka tetap bisa melihat sekeliling cukup jelas. Levi mendorong satu pintu terbuka dan mendapati kamar mereka yang tertata rapi bergaya minimalis.
"Pakaianmu ada di lemari." Sebelum Eren selesai dengan kalimatnya, Levi telah membuka dan melihat isinya, "aku tidak meminta Jean dan Mikasa membeli pakaian wanita tapi kurasa-"
"Kalau menurutmu itu cocok untukku, aku akan tetap memakainya." Levi menarik keluar sehelai gaun malam berbahan satin dengan warna biru es yang lembut. "Bisa keluar sebentar?"
Sungguh mengejutkan. Levi mau mengenakan gaun wanita? Eren berdeham pelan, mencoba agar tidak tersenyum. Sebenarnya dia ingin melihat Levi berganti pakaian namun inisiatifnya sendiri mengenakannya sudah cukup menjadi kejutan tak terduga malam ini.
Kurang dari tiga menit sejak Eren menunggu di luar pintu, Levi keluar dengan gaun biru berbahan tipis itu terpasang di tubuhnya. Eren terkesiap, otot-ototnya menegang seperti senar yang ditarik kelewat kencang. Bagaimana tidak? Levi sangat menggoda dengan gaun malam yang hanya menutup bahu sampai di atas lututnya.
"Sempurna." Satu kata itu meluncur tanpa izin dari celah bibirnya hingga objek pujiannya kembali memerah malu. "Ayo, masih ada bagian lain yang harus kaulihat." Eren menahan diri agar tidak menyeret Levi ke kamar saat itu juga.
Semua yang melekat pada kabin itu terkesan seperti di negeri dongeng. Dinding-dinding kayu hangat dan coklat, mirip warna rambut Eren. Lantainya juga terbuat dari kayu, menyenangkan saat Levi menginjak dengan telapak kaki yang telanjang. Perabotannya serba kayu dan diukir dengan motif mawar. Levi menangkap beberapa tanaman hias dalam pot dan vas yang mengisi setiap sudut-sudutnya.
Eren menuntunnya masuk ke ruangan khusus, bau mawar dan lavender kering segera menyambut kedatangan mereka. Levi terkesiap, ini melebihi ekspektasinya mengenai rumah impian bersama Eren dan anak-anak mereka. Tempat yang kecil, sederhana, namun nyaman dan hangat untuk mereka.
"Kalau bisa, aku ingin tinggal di sini bersama kalian," ujar Eren. Pandangannya tertuju sepenuhnya pada sosok yang balik menatapnya merona.
"Apa maksudmu? Tentu saja kita bisa tinggal di sini nanti." Senyum Eren terlihat seperti lukisan muram yang tua dan gelap. Pikirannya seolah tak tertembus dan tak ada yang tahu apa saja yang selalu berkecamuk di dalam kepalanya. Bagi Levi, Eren adalah sebuah misteri.
Levi berpaling sejenak ke rak kayu di dinding, berencana mengisinya dengan berbagai buku favoritnya nanti setelah mereka resmi menempati kabin itu. Tidak ada sofa, melainkan karpet beledru yang lembut. Terbayang olehnya di mana mereka bisa menghabiskan waktu selepas petang dengan anak-anak di ruangan itu. Berbincang dan mendengar celotehan mereka sebelum tidur.
"Bagaimana menurutmu?" Eren menariknya dalam pelukan erat, lidahnya mulai beraksi di leher Levi dengan ahli, "kau suka?"
"Tentu saja aku sangat suka. Kau yang membuat semua ini, 'kan?"
"Ah."
"Hentikan sebentar, Eren, aku masih ingin melihat yang lain," Levi berkata sembari melepaskan diri lalu menuju bagian belakang. Beberapa meter di sana adalah sungai.
"Hei, kau tidak lupa untuk apa kita di sini, kan?"
Levi mengabaikan protesnya dan terus berjalan ke arah sungai yang terbentang panjang di bawah taburan cahaya bintang. Levi menyaksikan dengan takjub keindahan alam di depan matanya. Tak menghiraukan dinginnya salju yang terinjak kakinya dan udara dingin membelai lengannya yang terbuka. Dia mencapai tepian sungai, airnya dingin namun terasa menyenangkan.
Levi memandang permukaan sungai yang berkilauan dan gelap. Air sungai mencapai lututnya, dua inci di bawah gaun malam yang melambai di tubuhnya. Kulitnya yang pucat kontras dengan warna lingkungan di sekelilingnya. Namun pemandangan itulah yang paling dinikmati Eren Jaeger. Pria itu telah menanggalkan mantel dan pakaian atasnya, menyisakan celana hitam yang menutup pinggang sampai mata kaki. Levi sama sekali tidak mendengar bunyi langkah kakinya saat masuk ke air. Dia begitu larut dalam keindahan bulan pucat yang menyiram tubuhnya dengan sinar keperakan nan lembut.
Ketika dia menyadari ada pergerakan di belakangnya, Eren telah melingkarkan lengan di pinggangnya dan memeluknya rapat ke dada. Levi merasakan Eren kini meletakan dagu di bahunya seraya menghirup aroma tubuhnya dengan mata terpejam. Levi mengangkat tangan untuk mengusap satu sisi wajah Eren. Menikmati momen ini sebelum memulai percintaan mereka yang panas di ranjang.
"Kau siap, Levi?"
***
Jangan lupa dukung fanfiksi ini dengan vote and comment setiap usai membaca. Thanks, dear!
Jepara, 13 Maret 2021
With love,
中原志季
Nakahara Shiki
Edited : Jepara, 3 Agustus 2021
KAMU SEDANG MEMBACA
The Coordinate : Perfect Sword and Shield
Random[Fanfiction of Shingeki no Kyojin by Isayama Hajime. Mainship : Eren Jaeger x Levi Ackerman] Start : January 26th, 2021 End : April 6th, 2021 Alpha dan Omega Sempurna diturunkan sebagai pengendali konflik antarras di dunia. Mereka diberkati anugerah...
