A New Sheet

2.3K 334 46
                                        

Levi menatap Eren, dia begitu gugup saat beradu pandang dengan pria yang telah resmi menjadi alpha-nya itu. Mereka sama sekali belum berbicara sejak Levi terbangun selepas matahari terbit, hal yang paling tidak akrab dalam kesehariannya. Eren bertanya padanya, "ada apa, Levi?"

Omega cantik itu terkesiap lalu buru-buru mengalihkan matanya dari tubuh Eren yang basah dan terbuka. Bodoh! Mengapa dia tidak mengenakan baju seperti itu? Levi menggerutu dalam hati tanpa menyadari semburat merah yang menjalari pipinya. Sedangkan Eren masih mengawasinya sementara dalam hati juga bertanya-tanya, apakah ada yang salah dengan dirinya?

Atau dia tampak berbahaya dan mengancam hanya dengan mengenakan celana kain dan bertelanjang dada? Rasanya amat menyenangkan bisa menggoda Levi seperti ini. Terlintas di pikirannya betapa manis dan menuntut Levi semalam. Bekas-bekas cakaran Levi masih terlihat jelas di punggungnya. Eren mengembuskan napas keras, secepatnya menekan pikiran itu sebelum dia benar-benar gila dan menyerang Levi sekarang juga.

"Eren ..." Levi memanggil saat sedang membungkuk di pintu kulkas yang terbuka, "kau ingin apa?"

Astaga, posisi itu sangat mengganggunya! Terlebih dengan desahan lirih dan kaku Levi saat memanggil namanya. Lalu pertanyaan itu ... apakah Levi sedang ingin menggodanya di pagi hari yang dingin ini?

Jaga pikiranmu, Eren!

Eren nyaris menggeram liar namun dia menahannya dengan tarikan napas yang dalam. Alpha itu bertekad hanya akan menyentuhnya jika Levi sendiri yang menginginkan. Kecuali jika Levi memberinya kebebasan penuh untuk itu dan Eren akan berjuang untuk menghormati Levi sampai dia mendapatkannya. Tidak lama setelah tarikan napasnya, Eren bersuara berat karena hasrat panas yang mendera tubuh kerasnya saat ini. "Apa saja yang ingin kausajikan untukku."

"Bagaimana dengan roti selai? Kau punya roti brotchen gulung di sini," Levi mengeluarkan sebongkah roti kecoklatan kemudian meletakkannya di atas piring, "dan teh hitam, apakah kau menginginkannya?"

"Ya," sahutnya singkat dan menambahkan dalam gumaman pelan sehingga Levi tidak mendengarnya, "aku menginginkanmu."

Mata Levi berseri-seri ketika mengiris roti brotchen menjadi beberapa lembaran, lalu mengoleskan selai coklat di satu sisi dan menumpuk dua lembar menjadi satu. Eren menerima sepiring roti tanpa melihat orang yang mengulurkannya. Tak ingin jika dia malah menarik Levi dan membaringkannya di meja karena apron yang terikat di tubuhnya itu memberi kesan lain yang ... menggairahkan.

Eren menarik cangkir tehnya dan menyesap pelan. Aroma teh hitam yang khas dan kaya meredakan dirinya. Ketika hangatnya teh melintasi tenggorokannya, tubuhnya terasa relaks. "Terima kasih, Levi." Omega itu menoleh dan tersenyum kecil lalu menggigit rotinya dengan canggung. Saat itulah tanpa sengaja Eren melihat tubuh rampingnya yang terbungkus ketat oleh apron.

Sialan!

Mengapa Levi belum melepas benda itu? Apa dia tidak menyadari bahwa sedari tadi Eren berusaha untuk tidak menerkamnya di meja makan? Kecanggungan ini sangat mengusiknya, Eren memikirkan topik lain untuk diangkat. "Bagaimana keadaan Ren dan Rivaille?"

Suasana mendadak berubah. Levi tak menjawabnya. Saat Eren menoleh, dia tersentak dan matanya tak lagi berseri-seri. Jarinya mencengkram pinggiran roti dan gemetar tepat di depan mulut. Levi membeku, napasnya tertahan sebelum akhirnya dia bisa menarik udara dan menjatuhkan roti ke piring. "Apa yang sudah kulakukan?" lirihnya.

Eren mengernyit melihat Levi menyalahkan dirinya sendiri. Suaranya bergetar frustasi. Levi menyurukkan wajah ke telapak tangannya. Apa yang terjadi pada Levi? "Hei, ada apa?"

Tangis Levi terdengar, dia berusaha menahan isakan yang meluncur begitu saja namun malah semakin sesenggukan. Eren menunda menyantap sarapannya lantas beranjak memeluk Levi dari belakang, mencoba membuat lelaki itu tenang sebelum mengajukan pertanyaan.

"B-bagaimana bisa kita melakukannya sementara anak-anak kita menghilang, Eren?"

Dua rasa yang kontradiksi berkecamuk di dalam hati Eren. Di satu sisi dia senang Levi menyebutkan 'anak-anak kita' tapi di sisi lain dia seperti baru saja dihantam palu besar. Menghilang? "Apa maksudmu, Sayang?"

"Ren dan Rivaille kabur dari rumah," Levi mendongak pada Eren yang masih mengeratkan pelukannya, "mereka pasti pergi mencarimu."

Eren mengelus pipi Levi yang basah karena derasnya air mata yang mengalir lalu menempelkan bibirnya di sana cukup lama. "Hei, tenanglah."

"Aku tidak bisa tenang! Mereka-"

Kalimatnya terpotong oleh bibir Eren yang berpindah ke bibirnya. Hanya lumatan kecil dan lembut yang terasa, begitu hangat sehingga membuat Levi merasa lebih tenang. Bukan lumatan yang merangsang untuk bertindak lebih, melainkan ciuman manis nan menenangkan. "Kita cari mereka setelah kau menghabiskan sarapanmu dan bersiap."

Levi mengangguk singkat lalu menyantap rotinya terburu-buru, sedangkan Eren kini sibuk mengepak pakaiannya ke dalam koper. Terdengar pintu diketuk, Eren melesat ke depan lalu kembali dengan membawa sebuah bungkusan. "Ini pakaianmu," ujarnya.

Sekarang ini Levi hanya mengenakan kemeja Eren yang ukurannya kelewat besar di balik apron. Jika keadaannya berbeda, persetan dengan apron! Eren tak akan menyisakan selembar kain pun di tubuh Levi.

~¤~

Historia Reiss sedang berkutat dengan laptopnya ketika Rod Reiss memasuki ruangan.

"Bahkan kau masih sibuk di sini sementara calon suamimu melarikan diri," Rod berkata dengan sarkastik.

Historia tetap melanjutkan pekerjaannya. "Dia bukan calon suamiku, sudah jelas dia punya anak."

"Suka atau pun tidak, kalian tetap harus menikah."

Mendengar pernyataan terakhir Rod, barulah Historia menghentikan kegiatannya dan berpaling pada pria tua pendek yang berdiri di depan sebuah foto yang tergantung di tembok. Dia memang memiliki banyak foto bersama anak-anak didiknya yang dipajang dan salah satunya adalah ketika bersama anak-anak Ackerman.

Ah, aku rindu mereka.

"Siapa anak ini?" tanya Rod, masih memperhatikan dua bocah bermata hijau dan gelap yang duduk di pangkuan Historia dalam foto. "Yang itu bermata hijau."

Historia telah berada di dekat ayahnya lantas memberi penjelasan. "Ren Ackerman, kakak kembar Rivaille yang rambut hitam."

"Ren ... Rivaille ... Ackerman?" Rod mengulang.

"Ada apa?" Historia mengernyit bingung melihat binar keanehan di mata ayahnya.

"Tidakkah kau menyadari betapa miripnya Ren dengan Eren?"

Wanita itu terperanjat lalu meneliti wajah Ren dengan mata menyipit. Tiba-tiba dia membeliak ketika mendapati ucapan ayahnya terbukti benar. Seharusnya dalam sekilas pandang saja sudah jelas, Ren sangat mirip dengan Eren dalam versi anak-anak. Bahkan nama mereka juga ... hampir mirip! "Ya Tuhan, Ren dan Rivaille?"

Historia merasa pening dan terkejut menyadari fakta ini. Ingatannya mundur dua minggu yang lalu ketika Eren menyatakan bahwa dia memiliki anak dengan omega lain. Mungkinkah Levi Ackerman adalah omega yang dimaksud Eren?

"Aku tidak pernah bertemu ayah mereka," kata Historia, "Tuan Ackerman hanya pernah membawa Tuan Smith sebagai paman mereka."

"Maksudmu Erwin Smith?"

"Ya." Historia kembali duduk di balik meja kerjanya seraya memulihkan diri dari syok, tanpa menyadari sesuatu yang sedang direncanakan ayahnya.

"Siapa nama ibu mereka?"

"Namanya ... Levi Ackerman."

Levi ... Ren dan Rivaille Ackerman, ya?

***

Jangan lupa dukung fanfiksi ini dengan vote and comment setiap usai membaca. Thanks, dear!

Jepara, 13 Februari 2021
With love,

中原志季
Nakahara Shiki

Edited : Jepara, 2 Agustus 2021

The Coordinate : Perfect Sword and ShieldTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang