A Bad Desire

2.5K 372 113
                                        

Aula megah itu dipenuhi gemerlap lampu kristal yang bersinar terang.

Pria berpostur gagah itu baru saja memasuki ruangan dan langsung membaur dengan tubuh-tubuh berbalut busana mewah di sana. Di tangannya ada segelas anggur putih yang baru saja diambilnya dari nampan seorang pelayan yang menawarinya. Eren Jaeger melewati sebarisan pria dan wanita alpha yang menatapnya iri.

Bagaimana tidak? Dengan kesempurnaan fisiknya, Eren bagaikan dewa di antara mereka. Terlebih rambut gelapnya yang diikat kasual di belakang kepala semakin menguatkan daya pesonanya yang mematikan. Memancing tatapan-tatapan bernafsu para female beta dan omega kelas atas yang hadir di sana. Beberapa dari mereka bahkan mengerling genit ke arahnya, namun Eren hanya mengabaikan mereka.

Sebagai seorang alpha sempurna, Eren memiliki feromon yang begitu kuat. Dia bisa jadi sangat memikat sehingga para omega rela mengantri dan berebut untuk melompat dan menyuguhkan diri kepada sang dewa. Akan tetapi, sayang seribu sayang Eren Jaeger hanya menginginkan pasangan yang telah ditakdirkan untuknya.

Levi Ackerman.

Hingga saat ini pun tak ada yang sanggup menyingkirkan posisi omega itu dari hati dan pikirannya. Meskipun sudah begitu banyak orang yang mengantri untuk sekadar dilirik olehnya, dia tidak peduli. Yang diinginkan sang alpha hanyalah Levi seorang.

"Eren," panggil suara seorang wanita, pria itu menoleh.

Dilihatnya sosok Mikasa yang berdiri dalam balutan gaun berpotongan sederhana namun anggun berwarna merah. Wanita itu berjalan menghampirinya dengan tatapan penuh arti. Rambut hitam pendeknya bergoyang lembut mengiringi langkah tegasnya lalu mendekatkan bibir ke telinga sang alpha.

Setelah menarik wajahnya, tampak seringaian buas melengkung di bibir Eren. Pria itu balas menatap Mikasa dengan puas. Wanita itu pun menunjuk arah lain dengan dagunya, memberi isyarat supaya Eren mengikutinya. Kaki-kaki jenjang itu kini mengarah ke sebuah kamar yang sudah dipesan Mikasa. Pria itu dengan sikap khas seorang gentleman segera membuka pintu dan mempersilahkan Mikasa masuk lebih dulu sebelum dia menyusul dan tak lupa menguncinya lagi.

Setelah memastikan semua aman, baru Eren menyentuh bahu Mikasa dan bertanya, "bagaimana?"

"Aku sudah menyiapkan semuanya," jawab istri Jean Kirschtein itu.

"Bagus."

Mikasa bergerak ke sisi ranjang dan membuka laci nakas. Tangan halusnya menarik keluar sesuatu dari dalam laci. Sebuah map. Lalu diserahkannya benda itu kepada Eren. Pria alpha itu mengambilnya dan membuka isinya. Matanya berkilat membaca semua yang tercantum pada dokumen itu. Kemudian dia beralih pada sosok orang kepercayaannya. Mikasa adalah orang yang paling dipercayainya untuk menggali segala informasi tentang Levi selama ini.

"Kau memang paling bisa diandalkan, Mikasa!" pujinya.

"Apa ada hal lain yang harus kulakukan?"

"Cukup," Eren bertitah, "kau hanya perlu menikmati waktu bersama keluarga kecilmu dan terima kasih telah bekerja keras untukku, sekarang kembalilah pada Jean, dia pasti cemas mencarimu."

"Aku pergi."

Mikasa segera beranjak menuju pintu setelah bangkit dan membungkuk hormat pada Eren. Meninggalkan alpha yang mulai sibuk menyusun rencananya sendiri untuk menarik kembali sang omega pujaan hati agar segera jatuh dalam pelukannya.

Terdengar bunyi pintu ditutup. Eren membaca ulang isi dokumen itu sekilas lalu menjatuhkan diri ke ranjang. Satu tangannya terangkat meremas rambutnya sementara matanya menatap langit-langit putih tanpa noda di atasnya. Membiarkan sosok Levi yang begitu menggoda melintas di otak pria tampan itu.

Untuk kesekian kalinya Eren berlarut dalam imajinasi panas akan Levi yang selalu bisa membuatnya terangsang. Tubuhnya yang mungil itu dulu begitu pas berada di antara lengan kekarnya dan erangannya, desahannya, benar-benar merangsangnya untuk berada semakin dalam memasuki tubuhnya.

"Levi ... aku benar-benar menginginkanmu." Eren memejamkan matanya dan tersentak tatkala menyadari gairahnya yang sudah sangat mendesak. Hasratnya kini benar-benar membengkak sampai tidak bisa ditahan-tahan. "Sial!"

Eren memang tidak pernah menyewa omega murahan untuk bercinta karena Levi adalah pusat gairahnya. Bahkan jika dia tak sanggup menahan desakan birahinya sendiri, hanya ingatan panas tentang betapa erotisnya tubuh Levi yang meliuk sensual yang membawanya mencapai pelepasan. Seolah-olah dia begitu terikat padanya.

"Tapi ini tidak cukup, ah!" Eren mengerang dan khayalannya semakin meliar. "Levi!"

Sosok Levi yang telanjang dan menggeliat di bawah tubuh tegapnya, mengalir deras di balik kelopak matanya yang terpejam. Eren menikmati tekanan yang semakin menghunjam di bagian bawah tubuhnya dan membayangkan dirinya terbakar dalam gairah yang membara bersama Levi. Saat dia membuka mata kembali, peluh telah membasahi kulit. "Kau memang membuatku gila, Levi."

Waktu menunjukan pukul delapan malam. Eren keluar dari kamar mandi dengan rambut dan kulit yang basah oleh air. Setidaknya ini cukup untuk meredamkan gejolak nafsunya sebelum dia menuntaskannya bersama Levi nanti. Tiba-tiba dia mendengar ponselnya yang berdering di atas nakas. Tangannya terulur meraih benda berisik itu dan menemukan nomor ayahnya yang memanggil. "Ya, Ayah?"

"Di mana kau?"

"Sedang istirahat sebentar di kamar."

Eren mendengarkan sebentar lalu memutus sambungan dan cepat-cepat mengenakan kembali pakaiannya. Setelah memastikan tidak ada cela dalam penampilannya, baru dia beranjak meninggalkan kamar itu usai menyimpan kembali dokumen ke dalam laci nakas.

~¤~

Levi sedang menata pakaian di lemari usai makan malam. Lalu matanya menangkap sehelai kemeja berukuran lebih besar dari badannya yang kecil dan ramping. Itu kemeja milik Eren, seketika Levi teringat kejadian hari itu.

"Lupakan, Levi, lupakan!"

Namun Levi tidak bisa mengabaikan benda itu begitu saja. Kemeja itu adalah satu-satunya barang yang ditinggalkan Eren, Levi menemukannya tergeletak di lantai seolah pemiliknya sangat terburu-buru hingga lupa mengenakannya. Entah mengapa waktu itu Levi justru memungutnya dan merasa nyaman menghirup aroma sang alpha yang tertinggal di sana.

Levi mendekap kemeja itu dan mengendusnya sambil mengelus permukaannya yang lembut. Masih tersisa sepercik aroma feromon Eren yang begitu jantan dan menenangkan, Levi sangat menikmatinya. Kesadarannya menyurut, dia membiarkan tubuhnya ambruk ke tempat tidur, bergelung di atas selimut dan membayangkan Eren mendekapnya dengan sentuhan-sentuhan lembut yang mampu membuat sekujur tubuhnya gemetar nikmat.

Astaga! Setelah tujuh tahun pun Levi masih mengingat dengan sangat jelas betapa nikmatnya sentuhan Eren di tubuhnya kala itu. "Eren ... Eren ..." Levi mulai meracau, keringat mengucur di pelipisnya lalu turun ke lehernya yang jenjang. Dia merintih.

Air mata pun menitik dari ujung matanya, menggantung sesaat di sana sebelum akhirnya jatuh mengalir di belahan pipinya. Meski Levi tidak pernah jujur bahwa dia merindukan Eren, namun tubuhnya tidak bisa berdusta bahwa saat ini dia benar-benar menginginkan Eren di sini untuk merengkuhnya dalam gairah.

Aku mohon, Eren!

***

Jangan lupa dukung fanfiksi ini dengan vote and comment setiap usai membaca. Thanks, dear!

Jepara, 6 Februari 2021
With love,

中原志季
Nakahara Shiki

Edited : Jepara, 2 Agustus 2021

The Coordinate : Perfect Sword and ShieldTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang