"Menurutmu, kapan dia akan bangun? Ini sudah empat hari."
"Tubuhnya semakin berubah, feromonnya pun lebih kuat dari sebelumnya, tidak, ada banyak hal yang berubah pada dirinya."
"Ren dan Rivaille sering menanyakan keadaannya, mereka benar-benar cemas."
Empat hari? Levi mencoba menyerap kesadarannya perlahan. Segalanya begitu pekat mengalir di kepalanya seperti madu. Dia berjuang membuka mata namun tidak bisa. Sederet gambar buram menahannya, satu per satu bermunculan bagaikan film yang diputar cepat. Samar-samar dia melihat kota yang hancur, mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana, darah berceceran di atas salju, bunga anemone yang mekar, lalu terakhir ... Eren dan anak-anaknya.
Kelopak mata yang semula bagai dijahit menutup mulai terkoyak dan untuk pertama kali dalam empat hari, Levi melihat cahaya kemerahan matahari senja dari jendela terbuka. Di belakang cahaya itu adalah langit-langit yang disusun dari papan kayu berwarna coklat. Levi membutuhkan udara dan dia menyukai bau yang ada di dalamnya.
Ada berbagai macam aroma namun hanya beberapa yang dikenalinya. Udara stagnan bercampur bau madu, teh, pinus, roti yang masih panas, daging panggang, apel, lavender, mawar, bedak bayi, dan ... Levi tidak bisa mengidentifikasi yang lain. Tetapi yang paling kuat dan kentara di antara bau-bauan itu adalah perpaduan mint, musk, dan kayu-kayuan yang maskulin.
Aroma yang kurindukan ... hei, apakah aku melupakan sesuatu?
Dia masih belum sadar sampai seseorang menyentuh tangannya dan meremasnya lembut namun kuat. Kulit yang mulus dan hangat terasa sangat menyenangkan. Suasana di sini begitu asing tetapi sentuhan itu adalah satu-satunya hal paling akrab yang bisa dikenal tubuhnya. Levi menutup mata lalu mengerjap lagi. Kali ini dia mulai menyadari dunia di sekelilingnya. Ada beberapa orang di ruangan itu.
Wajah Eren adalah yang terpenting dan pertama menyambutnya. Eren Jaeger tampak berbeda dari yang terakhir dilihatnya. Levi mencoba mencari perbedaan, matanya yang tajam masih sehijau zamrud namun lebih gelap. Garis wajahnya jauh lebih tegas, Levi tergoda menyentuhnya. Kemudian ... seingatnya rambut Eren tidak sepanjang ini sampai menyentuh bahunya ketika tergerai lurus.
"Levi?" panggil Eren dengan nada rendah dan santai, tapi ada secercah kekhawatiran ketika Eren menyebut namanya. Eren bergerak lebih dekat seraya mengusap tulang pipinya dengan ibu jari. Levi bisa mencium aroma feromonnya yang jantan tapi menenangkan sampai dia terbuai dan ingin menghirup aromanya dengan rakus. Levi merindukannya. "Semuanya baik-baik saja, Sayang," Eren berkata lagi.
Semuanya? Pikirannya mulai berputar-putar, kembali pada masa lalu yang mengalir seperti sungai berarus deras. Bagian dalam otaknya seolah disengat listrik statis, refleks Levi mengangkat tangan untuk menyentuh titik yang berdenyut. Segalanya tampak buram di balik kelopak matanya seakan dia melihat dari belakang kabut tebal yang membutakan.
Sewaktu Eren berkata semua baik-baik saja, apakah itu termasuk anak-anak mereka? Astaga, Levi hampir lupa, bagaimana keadaan mereka saat ini? Dia ingin melihat Ren dan Rivaille secara nyata. "Eren?" Sebuah nama yang pertama kali meluncur dari celah bibirnya. Levi mengulurkan lengan dan merengkuhnya, Eren membalas pelukan lantas membantunya bergerak untuk duduk. Begitu hangat dan nyaman.
Kemudian Levi bergerak canggung, menarik diri dan mendongak pada pria yang menyunggingkan senyum lembut yang tentu mampu menghentikan detak jantungnya dalam sekejap mata. Rasanya aneh ketika sadar bahwa segalanya berubah begitu cepat hingga nyaris tidak kentara. Levi teringat bagaimana dulu dia sangat membenci Eren. Setiap detik berusaha menolak kehadiran sosok itu di pikirannya, juga upaya menjauhkan Eren dari anak-anaknya sendiri.
Levi ingin melupakan semua itu, tidak peduli meskipun dia tidak bisa memahami mengapa keinginan itu tiba-tiba timbul dalam hatinya. Sangat hati-hati, Levi mengangkat tangan untuk menyentuh wajahnya. Jemari pucatnya melengkung sempurna di pipi Eren. Atas keinginannya sendiri, Levi meraup bibirnya dalam ciuman lembut pada awalnya sebelum berubah menjadi lebih menuntut. Napasnya memburu, berpacu cepat seolah dia sedang berlari mendaki gunung.
Seseorang berdeham, suaranya serak dan bernada jengkel sekaligus menggoda. Levi lupa mereka tidak berdua di kamar itu. Merona malu, dia beringsut mundur. Eren terkekeh melihat tingkahnya. "Lama tidak bertemu, ya, Levi," ucap suara tadi. Levi mengangkat wajah dan langsung menemukan sosok lain yang familiar baginya.
"Kenny?"
Pria tua itu hanya tersenyum ringan. Di sebelahnya ada Angel Aaltonen, Levi mulai mengingat. Terasa ada yang kurang di sini. "Ren, Rivaille, di mana?" Levi berpaling pada Eren, sejenak merasa takut oleh pertanyaan itu.
"Mereka baik-baik saja, kau akan melihat sendiri nanti," janji Eren, dia meraih sesuatu di atas meja. Sebuah cangkir berisi cairan keruh yang agak beruap. Baunya harum seperti seduhan teh hitam dan tanaman herbal lainnya, Eren mendekatkannya ke bibir mungil Levi.
Levi meneguknya perlahan. Rasanya enak, memuaskan. Setelah meminumnya dia merasa lebih segar, Levi menandaskannya sampai tetes terakhir. "Aku ingin bertemu mereka," bisiknya.
"Tuan Muda sedang bermain di luar bersama Corina," Angel berucap dengan hormat, "Yang Mulia, selamat datang kembali."
"Angel!" Eren menegur.
Sesaat saja Levi memergoki keraguan di wajah Alpha-nya. "Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa," sahut Kenny, penekanan kata-katanya terkesan aneh saat dia berbicara, "kau ingin bertemu bocah-bocah itu, kan? Sebentar lagi mereka pulang."
Keingintahuan Levi tentang apa yang membuat Eren ragu teralihkan begitu mendengar derap langkah kaki saling mengejar di luar pintu. Juga ada suara wanita yang dikenalinya sebagai Corina serta tawa anak-anak.
"Saya akan membantu Corina menyiapkan makan malam, permisi."
Levi mengamati Angel yang menyelinap dengan hati-hati melewati pintu. Kenny masih tidak bergeming, bersandar pada dinding kayu, lengan terlipat di dada. Tak lama kemudian, pria tua itu pun menyusul kepergian Angel. Menyisakan keheningan yang membatasi Levi dengan Eren.
"Eren ... kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku, 'kan?" Sesaat Levi merasa takjub mendengar suaranya yang berdentang seperti lonceng. Namun kemuraman di wajah Eren segera menyita perhatiannya. Mata Eren menyorotkan sesuatu yang tak dimengerti Levi. "Hei ... jawab aku, Eren," desaknya lirih.
Alih-alih menjawab, Eren beranjak bangkit sembari mengabaikan Levi, namun omega itu langsung menahan tangannya lantas berdiri untuk memeluk tubuh tegapnya. Eren mengelus punggung Levi, menciumi puncak kepalanya, membiarkan Levi melingkari pinggangnya dengan kaki jenjang miliknya.
Kini wajah mereka hampir sejajar, Eren dengan leluasa mengagumi kecantikan Levi yang berbeda dari siapa pun. Levi merangkul lehernya dan mengambil kesempatan menyatukan bibir mereka. Sangat manis dan lembut. Levi tidak sedang heat tetapi dia bertindak seagresif ini. Apa ini benar-benar Levi yang dicintainya ataukah omega sempurna yang akhirnya keluar dari kisah legenda?
"Aku mencintaimu, Eren."
Alis coklatnya terangkat, terkejut dengan pernyataan Levi. Kalimat yang baru saja meluncur dalam suara selembut angin musim semi itu terdengar samar di telinga namun berdentang keras di kepalanya. Benarkah Levi bersungguh-sungguh dengan ucapannya? "Katakan lagi, Levi!" perintah Eren berupa desisan keluar dari tenggorokannya.
"Kau menyebalkan," Levi menggerutu namun akhirnya berbisik di telinga Eren, "aku mencintaimu, sangat mencintaimu, lebih dari hidupku sendiri."
Eren terkekeh pelan lantas berbalik membisikan kalimat yang sama untuk Levi.
***
Jangan lupa dukung fanfiksi ini dengan vote and comment setiap usai membaca. Thanks, dear!
Jepara, 27 Februari 2021
With love,
中原志季
Nakahara Shiki
Edited : Jepara, 2 Agustus 2021
KAMU SEDANG MEMBACA
The Coordinate : Perfect Sword and Shield
Random[Fanfiction of Shingeki no Kyojin by Isayama Hajime. Mainship : Eren Jaeger x Levi Ackerman] Start : January 26th, 2021 End : April 6th, 2021 Alpha dan Omega Sempurna diturunkan sebagai pengendali konflik antarras di dunia. Mereka diberkati anugerah...
