A Last War

1.1K 137 48
                                        

Levi tahu dia akan melewati sebuah neraka namun dia sudah siap untuk terbakar dan mati.

Terbayang bagaimana orang-orang akan berlarian tanpa arah dengan ekspresi horor di bawah sana sebelum akhirnya meregang nyawa ketika malaikat kematian itu menari dan berpesta, jika dia tidak mengambil keputusan ini.

Langkahnya terarah lurus pada Eren. Levi tidak peduli seandainya dia harus mati dengan menyeret Eren bersamanya. Ren dan Rivaille memiliki Erwin di belakang mereka, Levi meyakinkan dirinya sendiri.

Berjanjilah kau tidak akan mati!

Permintaan itu ... permintaan Erwin terasa seperti tali baja yang menahannya. Sekelebat wajah-wajah yang begitu menyayanginya. Grisha dan Carla juga, menambah beban yang memberatkannya pada keraguan untuk mati. Insting yang menyedihkan dari dirinya menjeritkan perintah ke seluruh sistem tubuhnya agar mundur dan melarikan diri dari sumpah yang diucapkannya pada anak-anaknya sendiri.

Akan tetapi, sisi lain dirinya yang pengecut itu justru mendorong untuk tetap maju. Sisi yang tidak tahan melihat Eren-nya menjadi budak kekuatannya sendiri. Melecut naluri Omega-nya untuk menarik pasangannya dari ambang pintu kematian yang terbuka lebar.

Mata mereka tetap menawan satu sama lain namun Levi tahu orang yang di sana bukan Eren yang dicintainya. Sejak awal dia tahu ada yang tidak beres di sini, sesuatu yang menarik Eren semakin dekat dengan kematian. Tangan-tangan tak kasat mata yang ingin merenggut Eren darinya, Levi akan menebas mereka.

Eren gagal mengendalikan kekuatannya, tetapi Levi tidak. Eren kehilangan pijakannya, tetapi Levi masih bertahan mengikatnya.

Namun satu hal lagi yang Levi sadari membuat napas terengahnya semakin tercekat. Eren bermandikan darah, luka-luka itu semakin bertambah di sekujur tubuh yang perlahan melemah itu. Levi terperangah, baru mengerti penyebab Eren hanya berdiri membungkuk di depan sana tanpa memberi serangan. Mengapa dia tak lagi mendengar keributan di bawah sana seperti sebelum detik ini. Dan mengapa Eren memuntahkan darah dari mulutnya, bahkan darah juga mengalir keluar dari lubang hidungnya.

Tubuhnya semakin melemah, hidupnya terserap oleh Alpha Coordinate dalam dirinya. Entitas buas yang sekian lama bersemayam di dalam dirinya yang telah bangkit dari tidur panjang. Coordinate mengaum dengan memakan kehidupan inangnya.

"Keparat!" Levi menambah kecepatan larinya.

Eren jatuh berlutut dan muntah darah lagi. Feromon Coordinate-nya tak sekuat sebelumnya namun Levi bisa merasakan gerakan merayap di udara yang menghunjam perisainya di berbagai titik. Rasanya tidak menyakitkan tapi tidak menyenangkan juga. Pekat dan memualkan. Jari-jemari kabut transparan itu menjalar mengelilingi perisai dan mencoba mencari celah untuk ditembus.

Levi berhasil meraih Eren, lengan-lengan rampingnya merengkuh tubuh sekarat itu memberinya perlindungan. Namun tidak melapisi tubuh Eren dengan perisainya. Konsentrasinya terpusat pada feromon Coordinate itu sendiri. Levi berpikir untuk mengubah feromon perisai menjadi partikel yang lebih renggang seperti udara.

Mati-matian Levi berjuang mengabaikan panik yang menyerangnya ketika Eren memuntahkan darah di punggungnya. Tubuhnya semakin lemah sementara feromonnya kian membumbung tinggi seperti asap ledakan. Levi memeluk Eren lebih erat namun hati-hati dengan lukanya.

"Aku mohon bertahanlah sebentar lagi," Levi melirih. Jemarinya menyuruk ke dalam rambut Eren.

Levi berusaha menyebarkan feromon penawarnya ke seluruh penjuru, seperti kabut yang menjalin feromon Eren dan menyatu kemudian menyusut sampai lenyap tak tersisa. Dan untuk target-target di bawah sana, Levi berharap mereka masih bisa diselamatkan.

Aku mungkin akan mati jika mengerahkan seluruh feromonku sekaligus.

"L-le ... vi ..." napas Eren tersengal dan otot-ototnya mengejang.

"Eren! Kau harus bertahan, aku mohon jangan mati!"

Sebuah tangan menggelayut lemah di punggungnya. Eren berusaha membalas pelukan Levi, darahnya tak berhenti mengalir dari setiap luka, mulut, dan hidungnya. Susah payah dia memanggil Levi dengan tarikan napas yang terengah-engah.

"M-maaf, L-lev ... i."

"Kau harus tetap hidup," rengek Levi tanpa bisa menahan lelehan air mata dari sudut matanya, "aku mohon ..."

Udara yang berderak mendesirkan feromon yang saling bertentangan di sekitar mereka. Levi masih berjuang mengerahkan seluruh feromonnya, terasa ada percikan-percikan api kecil yang meretih ketika feromonnya melebur bersama feromon Eren dan lenyap secara berangsur-angsur. Akan tetapi, invasi feromonnya berjalan lambat karena konsentrasinya yang terbagi akibat mencemaskan kondisi Eren.

"Levi," suaranya melemah nyaris menyerupai bisikan.

Eren bergerak perlahan mengangkat wajahnya dan menyatukan kening mereka sampai ujung hidung mereka saling bersentuhan. Napas berdarah Eren mencapai bibir Levi. Dia mengabaikan rasa sakit yang menyerang sekujur tubuh. Bola matanya memantulkan mata Levi dan bibirnya bergerak lemah, "aku sangat mencintaimu."

Namun tiba-tiba, sebuah sengatan menyentak bagian dalam kepala Levi, mengirim getaran-getaran aneh yang menjalari setiap sel di tubuh rapuhnya. Dunia melesat cepat bagai sambaran kilat yang mengoyak dinding-dinding yang memisahkan antarrealita di balik kelopak matanya.

Levi merasakan titik cahaya Alpha dan Omega yang terhubung dengan Eren kini juga terhubung dengannya. Jalinan garis imajiner yang berpendar dari satu titik ke titik lain saling mengikat satu sama lain dari ujung ke ujung.

Dalam seperenambelas detik, Levi mulai memahami ke mana arah penglihatan itu. Levi merasakan bagaimana dia terhubung dengan semua subjek Eren. Mereka telah terhubung dan akan saling memengaruhi.

Levi memejamkan mata, menangkup kedua sisi wajah Eren dengan telapak tangan. Keningnya mengerut tajam sementara berkonsentrasi mengembangkan feromon perisai hingga menyerupai sebuah kubah raksasa yang melenting sejauh batas radius terluas yang bisa dicapainya.

Setiap partikelnya menyerap feromon Eren, melebur jadi satu dan bereaksi sebelum lenyap dalam letupan-letupan kecil yang meretih di udara. Levi meresapi suasana di sekitarnya. Konsentrasi feromon Eren menurun drastis sampai di titik nol dan dia tak bisa merasakan apa-apa lagi selain embusan angin dan salju.

Senyap. Levi melemas namun lengannya masih bertahan merengkuh tubuh Eren yang terkulai. Detak jantungnya melambat perlahan hingga teratur. Tetapi ada yang tidak beres dengan Eren. Jantung Eren justru berdetak lebih lambat darinya dan semakin lemah. Levi ingin menangis, takut apabila terjadi sesuatu yang tidak diharapkannya.

"Eren? Sudah selesai, buka matamu ..."

Tak ada reaksi. Levi berusaha memanggil namanya sekali lagi. Memanggilnya lagi dan lagi. "Eren! Eren!"

Jantung Eren berdetak lemah lalu terputus-putus. Levi tak bisa melihat dengan jelas. Pandangannya basah dan mengabur. Eren terdiam, tak menjawab panggilannya. Levi menjerit sekuat yang bisa dilontarkan dadanya yang nyeri.

"Buka matamu, Eren! Aku mohon ..."

Kelegaan yang sempat menyeruak kini terempas oleh jerit dan isak tangis Levi. Air matanya berjatuhan membasahi jaket hitam yang melapisi punggung Eren. Berkali-kali dia tersedak namun itu tak semenyakitkan melihat Eren yang tidak berdaya di pelukannya.

Aku mencintaimu, maka aku menuliskan takdir yang kudambakan bersamamu kepada langit berbintang di tengah kesunyian.

***

Hello, my Beloved Readers, anywhere you are!

I'm so sorry for this fucking bad part. Honestly, I almost cried while I wanna stomp out your emotion. Y'all can rage on me or do what ya wanna do, but I have one more other surprise after this chapter for y'all, Honey!

Dan jangan lupa menabur bintang dan komentar setiap usai membaca!

See y'all next surprise ♡\(^-^)/♡

Jepara, 6 April 2021
With love,

中原志季
Nakahara Shiki

The Coordinate : Perfect Sword and ShieldTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang