35. When you're down

592 32 3
                                        
















Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.













35. When you’re down







“Ada apa ini? Papa!” Rega bergegas keluar dari mobil dan melihat ayahnya dikawal oleh dua orang polisi. Desi terlihat histeris di dekapan Reza.

“Pa, apa yang terjadi?” Rega menatap Tirta yang masih terlihat tenang ditengah suasana menegangkan tersebut.

“Rega,” Tirta Farzan Alvaro, pria hampir memasuki usia paruh baya namun masih tampak bugar itu mencengkram bahu putra sulungnya, “Kamu percaya sama papa kan?”

“Rega percaya.” Ya, Rega yakin ayahnya tidak pernah melakukan hal jahat. Lelaki itu adalah sosok yang Rega kagumi sejak kecil. Pria baik, tegas, cerdas dan begitu menyayangi keluarga.


“Jaga mama dan Reza selama papa gak ada.” Tirta memfokuskan netranya yang teduh ke arah sang istri di depan sana. Rega tahu, dibalik sikap tenang ayahnya pria itu pasti begitu berat meninggalkan mereka bertiga. Apalagi Desi yang paling terpukul dalam hal ini. Perasaan wanita akan sangat senisitif jika itu menyangkut orang yang mereka sayang, Rega mempelajari itu sejak dulu dari sosok ibunya.

“Rega bakal selalu ada kalo papa butuh bantuan.”

“Papa tau. Papa janji akan selesaikan masalah ini secepatnya.” Itu pernyataan terakhir sang kepala keluarga Alvaro sebelum mengangguk pada polisi yang mengapitnya dan membiarkan mereka menggiringnya pergi. Namun, Desi tidak membiarkan hal itu dengan mudah sampai berusaha lepas dari Reza yang sebisa mungkin menahan mamanya.

“Rega… jangan biarin papa pergi, Ga. Za, bantu abang kamu cepet…” Wanita itu terisak, menatap kedua putranya yang hanya diam tak berdaya.

Rega mengepalkan kedua tangan hingga buku jarinya memutih. Rahang pemuda itu mengetat menahan ledakan amarah. Lihat saja nanti. Siapapun yang berani mengusik keluarganya tidak akan Rega biarkan hidup tenang sampai akhir. Tidak akan.
















⏳🎭⏳🎭

















Aurel menemani Desi sampai wanita itu lebih tenang dan terlelap di kamarnya. Rega barusan keluar untuk menerima telfon, entah dari siapa. Saat ini jam dinding sudah menunjuk angka delapan dengan jarum panjang nyaris menyentuh angka tujuh. Sekali lagi Aurel memperhatikan sosok ibu Rega sebelum berjalan keluar dan menutup pintu dengan perlahan.

Tidak jauh dari pintu kamar Desi Aurel mendapati Rega tengah menyandarkan punggung pada dinding, matanya terpejam dengan jemari memijat pelipis. Terlihat sekali gurat letih dan khawatir pada garis wajahnya. Apa Rega sudah selesai dengan panggilannya?

“Ga…” Aurel menyentuh pundak cowok itu lembut. Rega membuka mata dan terlihat sedikit terkejut, seolah tertangkap basah tengah melakukan sesuatu.

“Kamu sejak kapan di sini?”

“Baru aja. Mama udah tidur. Kamu bisa nganter aku pulang nggak? Kalo enggak gak pa-pa, biar aku telfon---”

“Sstt, kamu ini ngomong apa? Ayo aku anter.” Rega menggenggam jemari Aurel sebelum gadis itu sempat menyelesaikan kalimatnya.
Dalam perjalanan pulang hanya hening yang menyelimuti atmosfer dalam mobil. Aurel yang tidak tahu harus menghibur dan menenangkan Rega dengan cara apa hanya mampu termenung mengingat kejadian tadi. Itu adalah kali pertamanya bertemu sosok ayah Rega. Namun, keadaan ini sangat jauh dari apa yang dia harapkan. Sekalipun tidak pernah mengalami, Aurel turut merasakan apa yang Rega rasakan. Cowok itu pasti sangat terpukul atas apa yang menimpa keluarganya.
Sosok kepala keluarga yang menjadi panutan, dikagumi sekaligus paling dihormati dan menjadi kebanggaan putra-putranya tiba-tiba harus ditahan polisi karena tuduhan kasus pembunuhan berencana. Selamanya Rega tidak akan menerima hal itu. Tirta bukan orang pendendam apalagi sampai menghilangkan nyawa seseorang. Itu mustahil.

Mobil Rega berhenti tepat di luar gerbang rumah keluarga Adrian. Aurel belum turun. Ia seolah paham kekasihnya itu masih ingin menyampaikan sesuatu.

Lama Rega menatap netra Aurel dengan tatapan yang sulit gadis itu selami. Sampai akhirnya tanpa kata ia menarik tubuh Aurel ke dalam rengkuhannya. Rega terlihat resah, Aurel menyadarinya jadi gadis itu hanya diam alih-alih memulai pembicaraan.

“I love you.” Sulung Alvaro berbisik dengan suara rendahnya yang serak. Beberapa patah kata ingin Rega sampaikan semisal ucapan terimakasih karena Aurel selalu ada membantu dan menemaninya. Namun yang berhasil keluar dari bibir pemuda itu hanya tiga kata tersebut.


“Love you too, Rega.” Suara lembut Aurel mengalun membuat Rega kian enggan melepas pelukannya dan malah menenggelamkan wajahnya ke dalam ceruk leher Aurel yang wangi. Gadis itu balas mengelus punggung lebar Rega penuh kasih.

“Kamu percaya kan kalo aku sayang banget sama kamu, Rel?”

“Hm, always believe in you.” Aurel menjawab tanpa keraguan sedikitpun. Meski ia mulai tak mengerti kemana arah pembicaraan mereka gadis itu tetap tak menuntut pertanyaan.

“Maaf…” Rega mengakhiri pelukan mereka. Melontarkan kata maaf seolah untuk beribu alasan yang tak Aurel pahami. Namun sekali lagi, Aurel tak berfikir untuk melontarkan pertanyaan yang menambah beban cowok itu. Ia hanya tersenyum membelai rambut acak milik Rega.

“Be strong, Rega Ravello Alvaro. Aku tau kamu bisa menghadapi semua ini.”
















”

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.




















Pencet bintangnya yaa 💗


Follow Instagram @sabil_sbll












It's me!

Sabila 🍜

Regaurel [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang