31. Bathroom incident II

689 43 5
                                        














Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.










31. Bathroom incident II



“Rel?” Cika masih berpikir Aurel mengerjainya. Namun saat akan keluar ternyata pintu bilik terkunci dari luar. Berkali-kali ia memanggil nama Aurel namun tidak ada sahutan sama sekali.
Sedangkan di tempatnya, Aurel melawan dan berusaha lepas dari kungkungan Morgan yang menatapnya seolah ingin meremukkan.


“Kamu gak akan bisa lepas kali ini, Aurel.” Morgan tersenyum setan sambil perlahan melepaskan tangannya dari mulut Aurel. Menantikan apa yang akan cewek itu lakukan dengan tatapan mengancam.


“Coba aja teriak, kamu bakal tau apa yang akan aku lakukan selanjutnya.” Bisiknya di depan wajah Aurel. Gadis itu mengkerut cemas dan berusaha mendorong Morgan menjauh.

“Lepasin aku, Morgan. Kamu tau konsekuensinya kalo berurusan sama aku.”

“Kamu terlalu arogan, Aurel. Bahkan disituasi yang gak menguntungkan seperti ini kamu masih sangat sombong.”

“Lepas, Morgan.” Aurel meringis. Morgan mencengkram pergelangan tangannya terlalu kuat dan jarak cowok itu yang semakin berani mendekat membuat Aurel tak bisa menyembunyikan ketakutannya.

“Gak usah sok jual mahal, honey. Apa yang si brengsek itu punya dan aku gak punya, hah? Berapa kali kamu main sama dia?”

“Jaga omongan lo, Morgan. Lo yang brengsek!”

Morgan terlihat makin tersulut. Dia mencengkram wajah Aurel dengan tangan besarnya yang bebas, “Kita liat, apa kamu masih searogan ini setelah apa yang kita lakuin.”

“Kita? Cuih, gue bahkan gak sudi liat muka lo. Lepasin gue, brengsek.”

“Aurel? Lo sama siapa? Jawab, Rel!” Cika kembali berteriak saat mendengar suara Aurel. Namun setelah itu kembali tak ada jawaban.


Aurel di tempatnya semakin memberontak saat Morgan mengikatkan dasi di mulutnya.

“Kamu terlalu ngerendahin aku, babe. Kamu tau aku benci cewek yang gak nurut, hm.” Pemuda itu menyeringai. Memberikan usapan lembut di sepanjang garis wajah Aurel yang hanya mampu meringkuk ketakutan.

“Mmmh!” Aurel melotot dan menendang ke segala arah saat Morgan menarik paksa kerah seragam yang dia kenakan. Gadis itu mulai menangis dengan tubuh gemetar. Tidak, dia tidak ingin berakhir seperti ini. Apa yang harus Aurel lakukan?

Regaurel [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang