#1 London
#1 Nerd
#3 Falling
#4 Kakel
.
Cantik, pintar dan kaya. Semua dimiliki sosok Aurelin Caezilia Adrian. Hanya saja gadis tersebut punya alasan lain kenapa semenjak menginjakkan kaki di sekolah barunya ia malah merubah penampilan menjadi seora...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Kakak benci sama kamu, Rel.” Alvin muncul dengan raut masamnya.
Aurel yang tengah membantu mami menghidangkan sarapan di atas meja seketika berhenti dan menatap Alvin dengan raut ‘Ini orang ngapa dah?’
Alvin mendengus kasar sebelum bertanya, “Sejak kapan kamu deket sama Rega?”
Lama berfikir Aurel lantas tertawa memegangi perutnya. Ia sempat mengira kalau ia punya salah pada si sulung.
“Kak Alvin yang baik... Aurel sama Rega cuma temenan. Kakak gak usah cemburu.” Goda Aurel setelah selesai dengan tawanya.
“Maaf bikin kamu kecewa, tapi kakak gak cemburu sama sekali.” Jawaban Alvin berhasil merubah ekspresi Aurel menjadi kecut.
“Tapi, Rel... kakak gak lagi bercanda. Kamu... dari sekian ribu murid Adriano’s kenapa malah Rega?”
“Emang Rega kenapa? Dia juga human kan?”
“Bukan, Rega itu manekin.”
“Ka Alvin goblok deh.”
Alvin mengatupkan bibir gemas, antara ingin menoyor dan mengguyur kepala Aurel dengan sayur asam di atas meja.
“Aurel, kakak gak mau ya nanti tiba-tiba denger kabar kalo kamu dikeroyok sama cewek-ceweknya Rega.”
Aurel mendelik tak terima.
“Mereka fans, kak Alvin. F-A-N-S!”
“Artis bukan, selebgram bukan, idol apalagi. Tapi gayanya… tcih, sok famous.” Oceh Alvin seolah tak peduli protes yang Aurel ajukan.
“Cuma itu alasan kakak gak ngebolehin Aurel temenan sama Rega?”
Alvin mengibaskan tangan cepat-cepat. “Bukan bukan. Kakak gak masalah kok mau kamu temenan sama Rega kek, Jisung NCT kek, Kai EXO kek, Rian D'masiv kek, Paulo Dybala kek, James Reid kek, Manu Ri—”
“Alvin.” Panggil Sandra dengan begitu lembutnya.
“Iya, mi?”
"Kamu mending jadi penyiar amal keliling aja, cocok." Senyum wanita paruh baya itu terlihat mengerikan. Aurel mengeraskan tawanya dengan tega.
"Mami, ini Alvin lagi nasehatin Aurel. Kok mami gitu sih?" Alvin membela diri. Sang mami malah mendelik.
"Kamu itu ngabsen nama artis, bukan nasehatin."
"Kan perumpamaan, mami."
"Anak gendeng!" Sang mami tak lagi menggubris dan lebih memilih menatap Aurel.