#1 London
#1 Nerd
#3 Falling
#4 Kakel
.
Cantik, pintar dan kaya. Semua dimiliki sosok Aurelin Caezilia Adrian. Hanya saja gadis tersebut punya alasan lain kenapa semenjak menginjakkan kaki di sekolah barunya ia malah merubah penampilan menjadi seora...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
42. Jealous yang tidak tau diri
“Kamu ganti baju dulu biar gak masuk angin. Aurel biar mama yang ngurus.”
Rega mengangguk patuh dan melangkah pergi dengan ekor mata yang tertuju sesaat pada ranjang tempat Aurel terlelap.
Desi menghela nafas sebelum menutup pintu dan mengganti pakaian Aurel juga mengompres kening gadis tersebut. Seorang pembantu masuk memberitahukan bahwa dokter sudah di bawah. Wanita paruh baya itu memerintahkan asisten rumah tangga tersebut untuk membawanya ke atas. “Silahkan masuk, Dok.” Seorang dokter wanita dengan jas putihnya tersenyum ramah seraya mengikuti langkah mama Rega menuju Aurel yang masih tidak sadarkan diri diatas tempat tidur. Pemeriksaan dilakukan dengan Desi yang terus setia menemani di samping Aurel.
“Gimana, Dok? Aurel gak pa-pa kan?”
Dokter dengan kisaran usia tiga puluhan itu tersenyum seraya memasukkan peralatannya kembali ke dalam tas kerja, “Ibu tenang saja. Ini hanya demam biasa akibat masuk angin dan kecapek an. Sistem pertahanan tubuhnya lemah. Jadi kedepannya tolong jangan sampai kehujanan lagi dan pola makannya lebih dijaga ya.” Desi mendengarkan dengan tatapan yang tak teralihkan dari wajah Aurel.
Dokter itu menuliskan resep bertepatan dengan masuknya sosok Rega ke dalam kamar. Desi tersenyum merasa mendapat ilham.
“Hm, makasih, Dok. Ngomong-ngomong, ini calon menantu saya. Anak saya dua cowok semua.”
Si dokter tersenyum sambil melirik Rega penuh arti. Cowok itu berdecak malas.
“Mama apaan sih?”
“Apa sih, bang? Mama lagi ngomongin Reza kok.”
“Hah?”
“Kamu kan udah putus sama Aurel. Jadi Aurelnya buat Reza aja. Sayang kan cewek sebaik dia dikasih ke orang.” Dasar wanita. Rega selamanya tidak akan menang berdebat dengan mamanya, akan lebih baik jika ia mengalah. Cowok itu menipiskan bibir sambil menghela nafas panjang. Jangan sampai dia merengek di sini karena pancingan sang Mama.
Beberapa saat setelahnya, Rega sudah duduk di tepi tempat tidur setelah Desi menyuruh nya untuk menjaga Aurel, sementara wanita itu mengantar sang dokter ke lantai bawah. Untuk yang kesekian kalinya Rega kembali melirik wajah Aurel yang terlihat begitu lelah, bibirnya pucat membuat Rega semakin tak tega. Selang beberapa waktu kemudian, lenguhan Aurel terdengar. Gadis itu mengerang samar. Rega secepatnya mendekat dan secara spontan mengenggam tangan Aurel dengan lembut. Di luar dugaan, Aurel mual dan menutupi mulut dengan tangan nya sendiri. Rega yang paham dan tanpa berfikir dua kali cowok itu segera meraih wadah berisi air hangat yang tadi digunaan untuk mengompres Aurel, menyuruh gadis itu muntah di sana. Dengan hati-hati dibantu nya Aurel untuk duduk sembari menyingkirkan kain kompres yang menempel di dahinya, lalu…