"Aku ikut."
Kedua pasang mata yang masih saling menohok tatapan tajam pada satu sama lain perlahan meluruh. Sama-sama berganti teduh tatkala memandang Rosé yang baru saja menyuarakan keinginannya. Gadis itu menangkupkan kedua tangannya, gestur memohon dan memberikan tatapan paling memelas sedunia.
Sehun dan Jaehyun yang awalnya hendak berduel dengan perjanjian: siapa yang kalah harus menuruti permintaan yang menang, pada akhirnya tak punya pilihan lain selain mengiyakan permohonan Rosé.
Rosé tak peduli perihal ia yang tak pandai bermain basket. Ia paham betul, Jaehyun ialah pemilik skill dewa permainan bola besar itu. Kemungkinan besar Sehun akan kalah, dan entah bagaimana Rosé tak menginginkan hal itu. Menerka-nerka apa kiranya yang akan Jaehyun pinta pada Sehun jikalau ia menang, Rosé khawatir Jaehyun akan menyuruh Sehun memutuskan dirinya.
Mungkin itu terlalu berlebihan. Tapi siapa yang tahu isi otak Jaehyun?
Lapangan basket itu hanya riuh oleh teriakan Rosé yang berkali-kali memekik senang karena berhasil memasukan bola ke dalam ring. Jelas saja, sebab kedua lawannya memilih mengalah saat gadis itu memegang kendali atas bola basket di tangannya. Keduanya enggan merebut bola itu dan membiarkan Rosé menguasai angka pertandingan.
Benar-benar tidak seru.
Sampai suatu ketika Rosé berhadapan dengan Sehun dan matanya tak sengaja menubrukan pandang dengan sepasang netra pria itu. Alhasil, seperti biasa, Rosé lengah oleh karena jantungnya yang berdebar kelewat kencang. Sebenarnya sedari awal ia mendapati Sehun di sini, ia sudah merasakan debaran itu. Namun, kali ini lebih kencang dan lebih berpotensi merampas kesadarannya.
Bahkan Rosé tak sadar bola basket di tangannya telah berpindah ke tangan Sehun. Ia tak ingat kapan pria itu merebutnya. Yang jelas kini ia hanya bisa berdiri seperti orang bodoh; memandang dua lelaki yang berduel sangat kompetitif: saling sikut, saling rampas bola, saling menatap sengit.
Jaehyun menguasai pertandingan. Memimpin perolehan angka atas Sehun, tetapi lebih rendah dari angka milik Rosé. Secepat kilat Rosé menggapai lagi kesadarannya, lalu berlarian ke arah dua orang yang tengah saling berhadapan dengan bola di tangan Jaehyun. Rosé berupaya mengulurkan tangan dan merebutnya, tetapi tak juga berhasil. Bola itu hanya berpindah ke tangan Sehun lalu di rebut lagi oleh Jaehyun, begitu seterusnya.
Rosé mendengus, jelas saja ia kesal karena seperti tak di anggap. Ia kembali berupaya keras menelusup di antara tubuh kekar Jaehyun dan Sehun. Namun, bukan bola yang di dapat, melainkan luka di lutut sebab ia kehilangan keseimbangan dan tersungkur di atas aspal kasar lapangan.
Erangan lirih terdengar. Jaehyun lebih dulu menyadari itu dan langsung menghampiri Rosé yang terduduk lemas. Sementara Sehun sempat mencetak satu angka sebelum menoleh, lalu turut berlarian memastikan keadaan Rosé.
"Kau baik-baik saja?"
Hampir Sehun bertanya, tetapi Jaehyun yang berjongkok di hadapan Rosé lebih dulu mewakili. Sebagaimana dirinya, Jaehyun pun nampak sama khawatir. Melihat darah segar yang mengalir dari lutut Rosé, insting Sehun bergerak cepat memerintah kakinya berlarian menuju sebuah mimimarket 24 jam yang setaunya tak jauh dari lapangan guna membeli air mineral dua botol dan sebuah plester penutup luka.
Ia hampir meletakan barang yang dibelinya di atas meja kasir, tetapi seseorang lebih dulu meletakan benda yang serupa di sana. Menoleh ke samping, sosok Jaehyun berdiri dengan tampang tak berdosa sekalipun sadar telah menyerobot antriannya. Jaehyun melesat keluar lebih dulu usai memberikan beberapa lembar uang tanpa mengambil kembaliannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
FAKE: The Scandal [END]
Fiksi PenggemarSkandal Palsu sebagai pengalihan isu sudah bukan hal yang tabu lagi. Sehun dan Rose adalah sepasang Idol yang dituntut agensi mereka untuk menandatangani sebuah kontrak dengan ketentuan: 1. Melakukan kencan rekaan untuk dijadikan sebagai bukti skan...
![FAKE: The Scandal [END]](https://img.wattpad.com/cover/248001635-64-k798499.jpg)