06: Be A Good Partner

5.5K 541 69
                                        

Sosoknya menutup resleting koper lalu merebahkan dirinya di atas kasur hotel. Habis Sehun berbicara lewat panggilan video dengan Rose di Korea sana, ia masih memandangi nomor ponsel gadis itu pada layar benda pipih yang ia genggam. Entahlah seperti ia menemukan sebuah penawar atas rasa lelah yang mendera tubuhnya setelah berkecimpung habis-habisan selama dua minggu di kota Paris ini, menjalani serangkaian pemotretan untuk perusahaan pakaian yang melabelkannya sebagai seorang brand ambassador.

Rasanya Sehun ingin menelponnya lagi, tetapi ia sungkan. Maka, Sehun pun iseng-iseng berselancar di dunia tipu-tipu—maya—membuka serangkaian artikel yang menjadikannya dan Rose sebagai objek pembicaraan lalu menemukan berbagai macam komentar fans yang sungguh mencolok mata. Kemudian, beralih ke Instagram pribadi Rose, di sana hanya foto cantik Rose lah yang kiranya indah untuk dipandang selain itu komentar di bawah foto itu ia temukan tak jauh berbeda, sama-sama mencolok mata juga—hatinya.

Ini yang ia takutkan. Dan ini alasan mengapa Sehun melarang Rose membuka komentar-komentar itu, tetapi nyatanya Sehun membuka juga karena terlalu penasaran. Lalu apakah Rose juga demikian? Apakah gadis itu benar-benar menuruti perintahnya yang bahkan tak punya sedikitpun hak untuk mengatur kehidupan gadis itu?

Sehun gamang dan lupa menarik nafas hingga sesak mendera dadanya. Sebab ia tidak bisa mengingakari bahwa ketika ia melihat tampilan wajah Rose pada layar video tadi, Sehun merasa Rose tidak baik-baik saja sebagaimana jawaban gadis itu saat ditanya olehnya.

Memang bukan wilayah Sehun untuk menuntut Rose menumpahkan segala rasa dengan jujur, tetapi sebagai 'partner' yang mengikatkan diri pada kontrak yang sama bukankah sudah seharusnya suka-duka itu juga dipikul bersama?

Sudahlah. Mungkin perangai seserius ini bisa ia bicarakan secara langsung bersama Rose nanti. Eh ralat. Besok. Iya besok. Pembicaraan mereka tadi menghasilkan kesepakan bahwa mereka akan saling bertemu besok sekembalinya Sehun ke Korea.

Debaran dalam diri Sehun berpacu sampai ia lupa cara menyesap ke dalam mimpi. Namun, sekalinya terlelap, ia didatangi mimpi yang mana pesawatnya telah lepas landas meninggalkan dirinya yang kalang kabut sambil menderek koper— ia ketinggalan pesawat.

Hanya mimpi. Lalu Sehun menghela nafas lega saat bangun dan mendapati hari masih pagi buta sedangkan pesawatnya terbang pukul delapan pagi nanti. Sepanjang itu, Sehun tak lagi bisa memejamkan mata dan memutuskan untuk keluar dari hotel sekedar mencari pengganjal lapar dan membeli oleh-oleh untuk para membernya, juga tentu saja Rose.

***

Membalas pesan Sehun ketika pria itu mengatakan ia telah sampai dengan selamat di Korea, Rose mengetikan kalimat: aku selesai latihan jam 10 malam. Lalu dibawahnya ia menanyakan perihal apakah mereka akan benar-benar bertemu. Rose pikir mungkin Sehun butuh istirahat setelah penerbangan sepanjang Paris-Incheon.

Dan, pesan itu tak kunjung dibalas sampai Rose selesai latihan dan pulang ke dorm. Mungkin Sehun memang tengah beristirahat dan lupa mengabari. Jadi, perkara itu bukan masalah besar tetapi sedikit membuat Rose merasa kecewa.

Dering telepon dari Sehun membuat Rose yang sudah menenggelamkan diri di dalam selimut pun langsung menyambar secepat ia menekan tombol terima.

"Rose, maaf aku ketiduran."

Nah, kan benar.

"Haha, iya tidak apa-apa. Mungkin kita bisa bertemu lain waktu. Beristirhatlah, Oppa!"

Suara Sehun benar-benar terdengar parau memang seperti orang habis bangun tidur. Rose jadi tak tega karena pria itu harus terbangun di sela-sela peristirahatan hanya untuk menelponnya.

FAKE: The Scandal [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang