49: Be Happier Person

2.4K 257 36
                                        

MELBOURNE, AUSTRALIA, 2025

Pusaran angin pagi berhembus cukup tenang, menyejukan hati setiap isani di bumi Australia sana. Langit Melbourne menghampar sewarna biru muda berselimut awan tipis yang berarak perlahan mengiringi burung-burung berterbangan.

Kasak-kusuk orang-orang terjadi di sebuah gereja bernuansa klasik yang dijaga begitu ketat oleh kumpulan petugas keamanan. Sebab pernikahan dua bintang besar dunia akan segera digelar di tempat itu, maka setiap manusia yang hendak masuk terlebih dahulu diperiksa identitasnya untuk memastikan bahwa mereka adalah bagian dari tamu undangan.

Tak ada awak media yang diperkenankan meliput. Pun seluruh tamu tidak diperkenankan mengoperasikan ponsel mereka untuk mengabadikan momen dalam jepretan fitur kamera atau apa pun bentuknya. Mendokumentasikan acara adalah tugas beberapa orang yang berperan sebagai fotografer khusus.

Berdiri menyambut beberapa tamu undangan yang datang dengan perbincangan ringan, setelan tuxedo putih gading dengan telah membalut tubuh Sehun sempurna. Sepatu pantopel hitam mengkilap melekat apik di sepasang kaki pria itu. Rambut legamnya disisir klimis dan ditata sedemikian rupa rapi, memperlihatkan jidat Sehun yang lebar.

Wajah putih bersih tanpa noda ditaburi sedikit bedak, membuat figurnya nampak kian rupawan. Pula sentuhan sedikit eyeliner pada ujung kelopak mata Sehun menambah kesan gagah, tak lupa bibirnya yang diberi polesan liptint sewarna buah plum sehingga menguakkan kesan seksi tak berkesudahan.

Senyum mematri tiada henti pada wajah pria yang agaknya seolah menjadi manusia paling bahagia di dunia hari ini. Acara penyambutan tamu undangan berlangsung cukup tertib. Semua orang begitu bijak mematuhi aturan yang ditetapkan. Cukup menghantarkan sejumlah rasa lega ke dalam diri Sehun yang sedari kemarin diterpa risau bilamana segala rencana akan berakhir kacau.

Berdiri di salah satu sudut gereja, pandangan Sehun terus menerawang jauh mengamati orang-orang yang berseliweran dengan akal yang berlarian ke mana-mana. Ia tak setenang raut yang tertampil di wajahnya. Di dalam dada pria itu tengah berjibaku rasa gugup yang membuat telapak tangannya terus berkeringat dingin.

Satu tepukan pelan di bahu menyadarkan Sehun dari lamunan. Sosok pria paruh baya yang berpakaian sama halnya rapi berdiri di sebelah Sehun dengan senyuman hangat di wajah.

"Ayah." Suara rendah Sehun mengudara. Nyaris tak terdengar sebab tertelan getar. Bersama sang ayah, ada ibu pula kakaknya, Hyunsoo beserta seorang perempuan yang telah menyandang status sebagai kakak ipar Sehun sejak dua tahun lalu. Mereka semua turut berdiri dengan raut haru yang tertampil nyata.

Tuan Oh kini mengambil posisi di hadapan Sehun, membenarkan letak dasi yang sedikit miring dan merapikan ujung tuxedo Sehun sebelum melabuhkan sentuhan di kedua lengan putranya seiring mulut lelaki itu merapal petuah.

"Sekarang waktunya, Hun! Tegakkan bahumu dan jadilah lebih kuat! Tugas besar menanti di depan mata. Menjadi seorang suami bukanlah perihal mudah. Tapi Ayah yakin kamu bisa menggemban tanggungjawab itu sebab kamu adalah putraku, Oh Sehun."

Sehun mengangguk patuh dan menyambut pelukan sang ayah seiring mencoba meresapi apa yang ia dengar barusan. Kali ini, satu usapan lembut berlabuh pada tangan dingin Sehun dari jemari sang ibu. "Waktu begitu cepat berlalu. Sehunku sekarang sudah dewasa," tutur wanita itu penuh sayang mengusap satu sisi wajah Sehun bersama dua bola mata yang nyaris berlinang.

"Ibu bahagia akhirnya kau menikah dan gadis yang kau cintai. Rosé juga pasti bahagia menikah denganmu. Berbahagialah kalian."

Sehun mengangguk lagi, lalu dua insani di sana saling berbagi pelukan hangat. Sedang yang lain turut tersenyum bahagia menyaksikan pasangan ibu dan anak itu saling mendekap.

FAKE: The Scandal [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang