Lewat sebuah telepon pagi ini, Sehun mengungkapkan keresahannya perihal akan ada banyak orang yang curiga jika mereka makan malam di luar. Oleh karena itu, pria itu menyarankan agar makan malam diadakan di apartemennya saja.
Rosé menyanggupi. Ia mengungkap akan membawa beberapa menu makanan.
"Baiklah. Sampai jumpa nati malam, Rosé."
Demikian, sambungan kemudian ditutup bebarengan dengan senyum tipis Rosé yang mulai mempersiapkan diri untuk kunjungan yang dirasanya akan begitu spesial.
Maka, Rosé meliburkan diri dari setengah jadwalnya berbekal dukungan Jennie, Jisoo, dan Lisa yang tahu perihal rencananya itu. Para rekannya membantu menyiapkan beberapa menu masakan yang didonimasi bahan-bahan laut. Sebab Rosé teringat akan salah sebuah fakta bahwa Sehun menyukai seafood.
Usai menyusun potongan-potongan sushi ke adalam wadah, Rosé tersenyum melihat hasil kerjanya. Wadah ditutup, kemudian ditumpuk dengan beberapa wadah yang lain dan dimasukan ke dalam sebuah kantung kertas.
"Rosé, bagaimana dengan ini?" Dari ambang pintu dapur, kemunculan Jennie menyita atensi Rosé yang baru selesai membungkus segala menu makanan. Sebuah blouse putih pudar dan rok selutut berornamen garis ada dalam genggaman Jennie. Rosé tersenyum mennggangguk, pilihan Jennie selalu seselera dengannya.
Dengan itu setidaknya Rosé tak perlu menghabiskan begitu banyak waktu hanya untuk memilih pakaian, sebab pakaian sederhana tapi tak meninggalkan kesan rapi memang yang paling pas dikenakan disituasi yang akan Rosé sambangi beberapa menit menit lagi.
Situasi serupa mengungkapkan perasaan pada seseorang jelas bukan hal yang mewah, yang mengharuskan Rosé mengenakan pakaian mencolok seperti hendak ke pesta.
Duduk di atas ranjang usai mengenakan pakaian pilihan Jennie, Rosé membiarkan Lisa berkutat mencatok helaian rambutnya, sementara Jisoo membubuhkan bedak tipis-tipis pula mengoleskan warna-warna pastel di kedua kelopaknya. Sentuhan terakhir yang gadis itu berikan ialah warna natural lipgloss di bibir plum milik Rosé.
Cukup sempurna untuk Rosé bergegas sekarang juga. Namun, dering ponsel kembali terdengar menghantarkan debar di dada usai menatap nama si pemanggil.
Sehun Oppa
Sejenak menarik napas, Rosé kemudian mengusap tombol terima dan sapaan selembut biasa lolos dari bibir ranumnya malam ini. "Eoh, Oppa."
Tanpa basa-basi, suara tergesa di seberang sana menjawab, "Sepertinya aku akan sedikit terlambat. Ada hal mendesak yang perlu diurus. Kau datanglah ke apartemenku dulu. Masih menyimpan kartu aksesnya bukan?"
Mendengar itu, Rosé segera mengurai langkah menuju sebuah laci dan membukanya, mengambil dompet dan memanjatkan syukur ketika masih menemukan kartu akses apartemen yang pernah Sehun berikan padanya. Ia bahkan hampir lupa soal itu.
"Ya. Aku masih menyimpannya. Tapi, Oppa terdengar tergesa, ada urusan mendesak apa?" Ia melontarkan pertanyaan mencoba melucuti rasa penasarannya.
Dengan cepat jawaban ia terima dari Sehun, "Aku harus ke rumah sakit."
"Kenapa? Eommoni kambuh lagi?"
Dengar-dengar, Ibu Sehun sudah membaik dan sudah dibawa pulang. Kabar itu Rosé terima sendiri dari mulut wanita setengah baya yang dua hari ini tak pernah absen menelponnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
FAKE: The Scandal [END]
FanfictionSkandal Palsu sebagai pengalihan isu sudah bukan hal yang tabu lagi. Sehun dan Rose adalah sepasang Idol yang dituntut agensi mereka untuk menandatangani sebuah kontrak dengan ketentuan: 1. Melakukan kencan rekaan untuk dijadikan sebagai bukti skan...
![FAKE: The Scandal [END]](https://img.wattpad.com/cover/248001635-64-k798499.jpg)