Disisi lain, didalam ruangan yang gelap gulita hanya disinari cahaya bulan lewat jendela, Albert menangis sesegukan sendirian mengingat hari-hari yang telah ia lalui sampai sekarang.
kaki ditekuk, menangkubkan wajahnya pada lutut dengan lipatan tangan sebagai bantalan.
" hiks kenapa.. hiks kenapa dia bisa bahagia walaupun tanpa keluarga nya hiks, KENAPA HANYA DIA SAJA YANG BISA??! AKU JUGA MENGINGINKANNYA!!! hiks kenapa~
teman-temanku hanya menginginkan hartaku saja, tapi kenapa dia bisa mendapatkan teman yang begitu sempurna?! aku juga menginginkannya~hiks "
Ia jadi teringat akan ayah dan ibunya yang sibuk bekerja sebagai penyihir istana sampai tidak bisa melewatkan waktu sebentar saja dengannya, berbeda dengan Artizy yang mana orang tuanya sebagai duke dan duke's masih bisa meluangkan waktu mereka untuk anak mereka.
Disaat keluarganya membeku, ia mendapatkan teman-teman yang setia dan juga bersenang-senang bersama. Dia beruntung, sedangkan Albert? jangan ditanya ia bahkan tidak pernah mendapatkan kasih sayang barang sedikit pun hanya ibu pengasuhnya dululah yang selalu memberikan kasih sayang padanya sampai pada akhirnya mereka berpisah dikarenakan Albert yang harus ke academy.
♪🎶♪♪🎶♪
tiba-tiba saja alunan musik seruling merdu nan menenangkan terdengar dari taman belakang, Albert berhenti menangis kemudian turun melangkah kejendela.
dibawah sana, ia bisa seorang gadis sedang duduk menikmati permainan music seruling sang pemuda disampingnya.
Albert memang tidak bisa mengetahui siapa pemuda itu tapi ia seperti pernah bertemu dengannya,...Reilz!
ya, bocah itu berambut hitam bahkan tingginya sama berbeda dengan Felix yang lebih tinggi dibandingkan Reilz itulah yang ia dengar saat dikantin tadi.
Untuk gadis itu, ia mendengar namanya—Sena?
ya, kurasa ia tidak salah.
Ia membuka jendela menikmati terpaan angin lembut diwajahnya membuat rambut merahnya berterbangan, ia juga mendengar lagu tersebut dengan seutas senyuman tulusnya.
Baru kali ini ia merasa damai hanya dengan alunan music tersebut. Ia tidak tahu apa judul lagu tersebut, tapi dapat ia pastikan jika sang pemain sangat merindukan seseorang terbukti dari alunan musiknya.
Setelah permainan musik tersebut selesai, ia melihat kebawah tepatnya Reilz yang berjalan menuju asrama dengan langkah pelan sambil melihat sang bulan yang bersinar terang. Albert dapat menangkap rasa kerinduan dimata Reilz meskipun tidak jelas karena ia berada dilantai 5 beruntung ia dapat menggunakan sihir indra mata jarak jauh.
Kemudian Reilz menitikkan air matanya, menangis membuat Albert tersentak karena baru pertama kali ia melihat bocah kejam yang ia lihat dikantin itu menangis malam ini.
segera Reilz mengusapnya, menghela nafas setelah itu masuk kedalam gedung.
Albert menutup kembali jendelanya, jatuh terduduk, bersandar pada tembok melihat langit-langit kamarnya—sendirian. Ternyata bukan hanya dia saja yang merasakan kerinduan kehangatan keluarganya tapi Reilz juga.
Albert terkekeh tidak dapat menyangka hal ini akan terjadi, baru saja ia hendak berdiri ia dikejutkan dengan bayangan hitam yang muncul didepannya membuat Albert tersentak, jatuh kembali dengan gemetar ketakutan.
" si-SIAPA KAU??! " teriaknya
tidak dapat terlihat jelas wajah ataupun badannya karena bayangan hitam yang menyelimuti nya+gelapnya kamar Albert.
Tapi Albert menangkap seringai lebar dari bayangan tersebut sampai memperlihatkan gigi-gigi tajamnya, tanduk hitam tajam dikepala dan sayap kelelawar.
KAMU SEDANG MEMBACA
REILZ : The Another World
Fantasía( COMPLETED ; ON REVISION ) Reilz Kagezane, seorang pemuda kantoran yatim piatu yang hidup sebatangkara. Di pisahkan dengan adik satu-satunya karna dituduh sebagai pembunuh kedua orang tuanya yang mati karena kecelakaan. Dia kesepian dan selalu dibu...
