Chapter 16

6K 542 15
                                        

Don't forget to leave your vote, comment in this chapter 😆
Happy reading ❤

***

Nirbana tidak sadar berapa lama ia tertidur karena terakhir kali ia melihat jalanan adalah arah Lawang sebelum masuk tol. Sekarang mereka sudah berada di jalan keluar tol. Dan bukannya langsung masuk daerah Surabaya Barat, Auriga malah memilih sisi menuju Waru. Nirbana mengucek matanya selagi menegakkan tubuh. Mengecek sandaran kursinya—apakah ada bekas ilernya yang tertinggal. Semoga ia tadi tidur cantik. Malu-maluin banget, sudah numpang pulang, eh bukannya menemani ngobrol, malah ditinggal tidur.

Nirbana menatap kearah kaca spion depan—bertatapan dengan Auriga yang tampak mengawasinya. Nirbana merasa salah tingkah. Melihat Auriga tersenyum lugu seperti itu membuatnya insecure. Ia segera mengambil ponsel, mencari tahu apakah wajahnya begitu buruk sampai membuat Auriga tertawa semacam itu.

"Kenapa? Aku ngiler, ya?" tanya Nirbana pada Auriga.

Auriga terkekeh, "kalau aku nemuin iler dibekas tempatmu duduk, boleh minta ganti cuci jok nggak?"

Nirbana mendecih, ia melipat tangannya sambil menyandarkan punggungnya lagi. Tau kalau Auriga lagi-lagi sedang menggodanya. "Kalau cuma cuci jok sih aku mampu, tapi kalau ganti keseluruhan ya kamu aja. Kan lebih banyak penghasilannya."

Lagi-lagi bukannya tersindir, Auriga terkekeh geli. "kamu tau nggak sih, semua ucapan kamu itu pedes, so spicy. Which sometimes make me chills."

"Kamu tau nggak, kadang-kadang kata-katamu itu cheesy, it makes me want to puke."

"Right now?"

"Probably?"

Auriga tiba-tiba menepikan mobilnya dipinggir jalan raya, membuat Nirbana terheran-heran. Bahkan Irene yang tadinya—sepertinya juga tertidur tanpa sengaja—menjadi terbangun. "Ini dimana, Mas? Udah sampai? Sorry tadi ketiduran." Katanya sambil memeriksa sekitar.

"Nirbana, you just said to me, you want to throw up." Kata Auriga.

Nirbana langsung memasang wajah kesal—merah padam menahan emosi. Ia tau kalau dia lagi-lagi menggodanya. Tapi sampai menepikan mobil? Kalau ada orang menyebalkan di dunia, Nirbana tidak akan segan untuk mencantumkan satu nominasi untuknya! "Auriga, are you kidding me?" tanya Nirbana meredam kesal.

"So, do you still wanna throw up? It is your last chance." Goda Auriga masih belum mau berhenti.

Nirbana menghela nafas, "okay, my apologize. Can you drive the car again, Sir?" tapi ia menemukan Auriga masih memasang tatapan jenaka padanya, "C'mon, Ga. Please! You make fun of me."

Auriga tertawa kali ini ia menjalankan mobilnya lagi setelah melihat Nirbana bersungut-sungut marah. Sepertinya menggoda wanita itu akan menjadi kesenangan lain untuknya. Auriga bertanya ia harus drop out Irene dimana, apakah di kos atau rumah sakit.

"Mas nggak anterin dia dulu pulang?" tanya Irene tanpa sopan santun.

Nirbana yang mendengarkan dari kursinya hanya bisa mendengus. Padahal tanpa diminta pun ia ingin Auriga segera mengantarkannya pulang. Pasti Ragha sudah terbang, jadi ia aman dirumah nanti. Lagian ia juga lelah, ingin segera mandi dan tidur.

"Dia nanti searah sama aku. Kita jalannya sekalian. Antar kamu dulu."

"Bukannya apartemennya Mas di daerah—" Irene belum selesai mengatakannya, ia langsung menoleh pada Nirbana, "rumah kamu di daerah mana emang?"

Better Together [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang