Don't forget to spread love, vote, comment in this chapter too ❤
Happy reading 😆❤
***
Pagi ini Auriga disibukkan dengan adanya client yang datang mendadak tanpa pemberitahuan. Ia harus menjamunya, menemani berkeliling hingga makan siang sebagai bentuk manner yang baik sebagai pengusaha. Padahal ia memiliki berbagai agenda yang harus ia lakukan. Ia harusnya melakukan survey lapangan. Tapi karena investor yang datang out of blue—yang mengatakan hendak menyapa sekaligus transit sebelum pergi ke Bali—Auriga harus memundurkan jadwalnya.
Jam menunjukkan pukul 12.45 WIB saat Auriga selesai mengantarkan clientnya ke Bandara Juanda. Auriga menatap pop up WhatsApp yang berasal dari Arga yang sepertinya sudah melakukan spam padanya. Ia membaca pesan itu sekilas, saat itu baru ia teringat kalau selain agenda kantor, hari ini ia sudah janjian dengan seseorang—teman Arga yang hendak memberikan stelan miliknya. Auriga ingat kalau beberapa saat lalu—waktu dimana ia harusnya menerima pakaian itu untuk dicoba dan fitting tapi ia mendadak ada dinas keluar kota. Sebelumnya Arga juga sudah menyarankan jasa kurir antar, tapi karena ia tidak bisa menjamin keberadaannya di luar kota sampai berapa hari, alhasil benda itu dititipkan pada orang lain.
Auriga bergegas menuju mobilnya untuk menuju lokasi janjian. Harusnya ia memang kesana siang ini, tapi karena client yang datang mendadak membuatnya lupa segala-galanya. Saat berada dijalan, sebuah panggilan masuk berasal dari Arga. Auriga menerima panggilan itu melalui kemudinya—loudspeaker wireless.
“Kamu udah ketemu orangnya?”
“I’m sorry, I forget. My mind went blank gara-gara investorku yang datang mendadak tadi. Ini lagi on the way.”
Auriga mendengar Arga mendecak, “mampus. Bisa-bisa ngamuk tujuh turunan itu, penyihir gila...”
“Who is it?”
“Kamu bakalan tau nanti. Ya udah lah nasi udah jadi bubur, sekalian nyemplung kolam aja lu yee...” kata Arga kemudian terkekeh, “nanti terima aja kalo kamu dimaki-maki ya, emang salahmu sih, pake lupa.”
“Official business requirements obviously take priority over personal request. But I recognized that I was at fault. Then tell me, what should I do to get her forgiveness?”
Arga menjeda agak lama sebelum menjawab, “aku pikir dia tidak akan memaafkanmu.”
“Really?”
Lalu Arga tertawa, “kalau itu aku, pasti dia akan mencoba segala macam cara untuk menyadarkan Limar sebelum terlambat menikah denganku. Tapi aku rasa dia tidak akan sekeras itu padamu. Jadi siapkan saja mentalmu. Oh anyways, aku mau ngabarin kalau kamu nggak perlu cari pasangan buat acara. Udah pas orangnya. Okay, then bye.” Arga segera memutus panggilan.
Auriga menjadi kian bersalah dan sedikit penasaran dengan teman Limar ini. Ia menatap jam tangannya selagi berdoa dalam hati agar jalanan yang dilalui tidak macet sehingga dia bisa tiba secepat mungkin.
***
Setelah memarkirkan mobil, Auriga segera menuju ke sebuah café bergaya vintage dengan banyak jendela besar. Ia melihat arlojinya lagi, ia sudah terlambat 30 menit keseluruhan. Kalau dia masih berada disana, Auriga akan meminta maaf setulus hati dan memastikan orang itu tidak menaruh dendam padanya. Auriga mendorong dengan sedikit keras pintu kaca yang sedikit buram hingga ia tidak menyadari kalau ada orang lain yang berada disisi seberangnya. Wanita itu terlihat ringkih dalam busana formal, kemeja putih yang dipadukan dengan celana kain hitam—wanita itu terlihat berpegangan pada ganggang pintu bagian dalam. Auriga mengucapkan kata maaf sebelum akhirnya berlalu mendahuluinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Better Together [END]
ChickLitNirbana Jenar Kalingga memutuskan pertunangannya satu bulan sebelum sahabatnya menikah. Alasannya karena mantan tunangannya, Dito Firnando, yang sudah gila! Mungkin dia yang gila karena sudi untuk betunangan dengan biang keladi perusak rumah tangga...
![Better Together [END]](https://img.wattpad.com/cover/260181648-64-k410748.jpg)