Chapter 32

4.8K 422 17
                                        

Happy reading ❤

***

Nirbana terus mengamati sosok bertubuh besar yang kini terbaring tidak berdaya diatas ranjang. Tangannya bergerak untuk mengganti kompres yang ada di kening laki-laki itu. Sudah hampir dua jam setelah kejadian Auriga pingsan.

Beruntung saat Auriga pingsan, Razan sedang mengambil barang di dalam rumah dan menyadari itu, jadi Razan langsung sigap membantu memapahnya ke tempat tidur.

Satu jam yang lalu, dokter datang untuk memeriksa keadaannya lalu memasang infus untuk mengembalikan nutrisi yang diperlukan tubuh Auriga. Menurut dokter, Auriga kelelahan bekerja, hingga mengalami dehidrasi dan malnutrisi karena kurangnya asupan dalam tubuh.

Nirbana mendengar pintu kamar diketuk pelan. “Nir,” panggil Nizam.
Nirbana bangkit dari posisinya lalu berjalan menghampiri kakaknya,  “kamu terlalu lelah. Biar Mas aja yang jaga Auriga. Kamu istirahat.”

Nirbana mengamati ruangan disekeliling yang sudah gelap, hanya kamarnya, juga ruang dekat dapur yang menyala. Nirbana menatap kearah jam dinding yang sudah menunjukkan lewat jam 2 malam.

“Razan, Rissa?”

“Mereka tidur di kamar. Kamu juga tidur, biar aku yang berjaga,” kata Nizam lagi.

Nirbana menatap kearah Nizam, “biar aku saja yang jaga, ya, Mas?” tawar Nirbana.

“Mas Nizam istirahat juga. Besok mau pergi ke laut kan.”

“Tapi dari tadi kamu juga belum istirahat.”

Nirbana memandang Auriga yang masih tidur dengan lelap dengan pandangan sayu.

Nizam yang bisa membaca raut dan memperkirakan apa yang ada di hati adiknya, hanya bisa mengalah. “Oke. Kalau ada apa-apa kamu panggil Mas. Mas tidur di ruang tengah,” putus Nizam kemudian.

Nirbana mengangguk tersenyum.
Nizam memegang pipi Nirbana, “jadi akhirnya dia yang menjadi pilihan kamu?”

Nirbana tak menjawab pertanyaan dari Nizam. Namun meskipun bibirnya terkunci, Nizam sudah tau benar jawaban apa yang akan diberikan oleh adiknya itu.

“Kamu jaga kesehatan juga, jangan sampai tertular,” kata Nizam dengan cuek. Nizam mengamati Auriga, kemudian berdecak, “padahal niatnya mau ngerjain dia biar kerja rodi disini, eh taunya malah sakit ngerepotin,” dengus Nizam.

“Mas!”

“Ya kan bener, butuh dites. Memang cuma Ragha saja yang bisa galak. Mas juga bisa. Sudahlah, mas istirahat dulu. Bilang aja, Mas belum kasih restu ya kalau belum ujian,” sambung Nizam sebelum keluar dari kamar mereka.

“Mas Nizam iseng banget sih!”

“Ya siapa suruh suka sama kamu. Dianya yang mau.”

Nirbana hanya menggeleng-gelengkan kepala. Ia pikir hanya Ragha yang memiliki sikap konyol kekanakan semacam ini. rupanya mereka memang berbagi darah yang sama–pun dengan sifatnya.

“Kamu jangan macam-macam di dalam! awas saja kalau aneh-aneh, Mas gantung kamu di pohon.”

“Astaga Mas Nizam!” seru Nirbana karena ucapan Nizam.

“Pintunya jangan ditutup!”

“Iya iya.”

***

Nirbana merasakan tubuhnya berada nyaman di tempat tidur dengan posisi nyaman serta bantal yang empuk. Seketika kepalanya kembali teringat tentang kejadian semalam.

Better Together [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang