Chapter 28

5.6K 443 19
                                        

Happy reading ❤

***

Dewi Keberuntungan sedang berpihak padanya!

Auriga tidak bisa menyembunyikan senyumannya semenjak kejadian papasan dengan Nirbana di mini market—yang membuatnya tampak seperti orang bodoh karena menjabat tangan Nirbana tanpa sengaja.

Mbak kasir yang menangani belanjaannya tak urung ikut dalam kesalahpahaman karena Auriga terus saja tersenyum setelah kejadian itu. Mbak kasir pasti mengira Auriga tersenyum untuknya—padahal Auriga sedang memikirkan orang lain dalam kepalanya.

Lalu setelah kejadian papasan, tiba-tiba Arga menghubunginya, menanyakan keberadaannya.

Tidak lama ponsel itu diambil alih oleh istri Arga, Limar yang memberikan dekret kekaisaran. Biasanya orang tidak akan senang apabila dimintai ini dan itu, tapi kali ini Limar memberikan tugas yang mulia padanya—agar Auriga memberikan tumpangan pada wanita yang sudah  lama ia rindukan.

Ah... Auriga serasa melayang di udara.

Ia segera mengarahkan mobilnya menuju rumah, mandi dan berpakaian serapi mungkin agar memberikan kesan yang baik pada Nirbana. Meskipun saat ini mereka belum baikan, tapi sebentar lagi Auriga jamin kalau hubungan mereka akan segera membaik.

Auriga sudah memikirkan berbagai macam cara agar Nirbana memaafkannya. Ia bahkan sempat mendapatkan spill dari empunya yang mengenal Nirbana luar dalam, Limar—cara untuk mendapatkan hati dan perhatian Nirbana.

Auriga optimistis kalau kali ini ia akan berhasil mendapatkan kata maaf dari Nirbana—dan ia pastikan wanita itu tidak akan bisa kabur lagi darinya.

Beberapa hari ini adalah hari yang suram baginya. Berada diantara tumpukan pekerjaan tidak membantunya untuk menghapuskan bayangan Nirbana dari pikirannya. Yang ada, semakin dia bekerja, semakin bergentayangan Nirbana dalam pikirannya.

Kini Auriga sadar kalau dia sedang berada dalam masalah yang besar. Bukan lagi a bit spark dalam hati yang ditimbulkan saat mereka bersama, melainkan yang lebih dari itu. Ia tidak akan bisa menghapuskan wanita itu begitu saja dari hatinya.

Yeah, lebay. Dia juga tidak pernah mengira kalau ia akan menjadi laki-laki dangdut yang akan galau hanya karena masalah romansa.

Auriga mengambil stelan paling ia suka, memilih asesoris yang sesuai, menata rambut, lalu menyemprotkan parfum kesukaannya. Tak lupa ia mengambil barang keramat yang tadi disarankan Limar untuk menemaninya berperang kali ini.

Ia mengeluarkan mobil SUVnya. Sebenarnya kedatangannya kemari murni karena dia merindukan Nirbana. Kalau dia berada di rumah, setidaknya Auriga akan melewati rumah Nirbana, dan meskipun berpeluang kecil—sangat kecil, dia akan berpapasan dengan Nirbana.

Ya, Auriga memang sudah semenyedihkan itu.

Auriga menjalankan mobilnya menuju rumah Nirbana, menunggu hingga wanita itu keluar.

Lima menit ia menunggu, rupanya bukan Nirbana, tapi kakaknya—Ragha yang keluar dengan sebuah barang dalam kardus yang sedang dibopongnya. Auriga bergegas turun untuk membantu Ragha membawa benda itu.

“Iya, Mas, katanya grabnya udah di luar kok.”

Sayup-sayup ia mendengar ucapan Nirbana terdengar agak keras.

Ragha mengamati Auriga yang berada di hadapannya. Auriga tersenyum tenang, sedang kening Ragha mengerut. “Kamu yakin, kamu udah pesen grab?”

“Iya. Limar yang pesenin tadi. Katanya udah di depan.”

Better Together [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang