Happy reading ❤❤
***
Tiga hari berlalu sejak penyerahan proposal, namun belum ada kabar apapun mengenai kelanjutan proposal yang diajukannya. Selama itu pula Nirbana tetap melakukan follow up pada setiap kegiatan yang dilakukan murid-muridnya. Tak jarang Nirbana ikut turun langsung membantu anak-anak mempersiapkan kebutuhan dan kegiatan. Nirbana selalu pulang menjelang senja. Atau biasanya Nirbana baru datang menjelang malam—sembari membawakan makanan kecil untuk murid-muridnya.
Anak-anak merasakan suport yang diberikan Nirbana benar-benar membangun semangat mereka. Mereka lebih bersemangat dalam kegiatan—bahkan saat weekend seperti sekarang ini. Nirbana baru datang ke sekolah pukul 10 pagi untuk mengawasi kegiatan anak-anak yang sedang latihan untuk perform ketika acara hari H.
Nirbana dengan celana kapri dan kaos berwarna putih melintasi bangunan departemen seni—untuk sampai ke ruang musik—tempat dimana anak-anaknya latihan paduan suara dan orkestra. Ia tidak datang dengan tangan kosong, ia sengaja meminta tolong Mbak Tuti untuk membuatkannya 2 loyang martabak asin dan manis untuk dibawakan pada mereka.
Mencium aroma makanan, sontak fokus anak-anak yang sedang latihan langsung berpaling kearah pintu—dimana Nirbana berdiri dengan pandangan cukup bersalah pada Mr. Oliver karena membuat mereka kehilangan kendali.
“Miss Nirbanaaa!!! We missed you!” kata anak-anak berhambur menuju Nirbana—meletakkan masing-masing alat musik mereka pada tempatnya.
Nirbana memandang Mr. Oliver dengan wajah penuh penyesalah, “Hei, you guys, have you got permission to leave your position? Mr. Oliver still standing in front of you all. Did I tell you being such as this manner? You should pay more respect to Mr. Oliver, kiddo.”
“But, Miss, I’d already hungry right now.”
“He’s right! Mr. Oliver just gave us 5 minutes to take a rest. Right Mr. Oliver?” tanya Asabella sembari menghadap kearah Mr. Oliver yang tersenyum canggung pada Nirbana.
“Yes, sure. They already got my permission, Miss. Please, more at ease.”
“Mr. Oliver, don't spoiled them too much. Mereka ini memang agak nakal.” Kata Nirbana seolah belum puas untuk mengomentari manner anak-anaknya yang kurang begitu sopan pada Mr. Oliver—karena menurut mereka Mr. Oliver lebih easy going sehingga mereka tidak menunjukkan perbedaan kehormataan—seperti mereka selayaknya bersama kakak mereka.
“Guys, let me talk about it. You should, pay respectly to all your teacher. You’re not that children who doesn’t remembering about manner, right? You all more mature than kinderteen child. So please do your duty. Can you understand?”
“Yes, Miss. We’re sorry Sir.” Kata mereka pada Nirbana lalu kearah Mr. Oliver.
Mr. Oliver tersenyum—ringisan sambil menggosok rambut belakang, “just fine. It’s not big problem after all.”
“Can we get our meals now, Miss?” tanya Rudy dengan wajah laparnya. Nirbana mendengus sebelum menyerahkan dua bungkusan itu untuk dibagikan kepada yang lainnya. Rudy langsung dikerubungi anak-anak lain untuk mengambil makanan.
“Guys, don’t let your things get dirty. Pastikan untuk cuci tangan sebelum memegang lagi alat musiknya nanti!” peringat Mr. Oliver tapi tampaknya tidak ada satupun yang menggubris peringatannya itu—karena mereka berebutan untuk mendapatkan makanan.
Nirbana menghampiri Mr. Oliver lebih dekat, “mereka benar-benar nakal, ya? Sorry, they'd being so rude.” Kata Nirbana.
Mr. Oliver menggeleng, “tidak. Mereka hanya murid yang lugu dan lucu. I never imagine, teaching is more attractive than it seems.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Better Together [END]
ChickLitNirbana Jenar Kalingga memutuskan pertunangannya satu bulan sebelum sahabatnya menikah. Alasannya karena mantan tunangannya, Dito Firnando, yang sudah gila! Mungkin dia yang gila karena sudi untuk betunangan dengan biang keladi perusak rumah tangga...
![Better Together [END]](https://img.wattpad.com/cover/260181648-64-k410748.jpg)