Happy reading ❤
And sorry for typos ☺
***
Kecanggungan langsung menyebar kala Nirbana dan Auriga memasuki ruang tengah. Baik Limar maupun Nadindra saling berpandangan untuk melempar kode. Sedangkan Arga tampak tidak memahami situasi yang sedang terjadi.
“Nih, yang ditunggu-tungguin udah datang,” kata Arga sebelum menggiring kedua orang tersebut untuk duduk di sofa. Auriga terlebih dulu meletakkan kardus yang tadi dibawanya ke pinggir ruangan agar memudahkan ruang gerak.
Nirbana memilih duduk di sofa berukuran sedang. Auriga yang melihat hal itu langsung mengambil posisi disebelahnya—agar lebih berdekatan. Auriga bahkan sengaja menyisakan tempat di sisi ujung untuk Arga.
Nirbana menatap Auriga dengan sanksi. Ia juga memberikan kode agar Auriga jauh-jauh dari sisinya. Namun laki-laki tetap bergeming. Auriga malah sengaja bergeser lebih mendekati Nirbana sambil memasang wajah tanpa dosa.
“Kenapa sih kok deket-deket, disana tempat duduk juga masih banyak yang kosong, kan?!” Nirbana yang merasa tidak nyaman segera menyuarakan pendapatnya.
“Ya kan, disana bisa buat yang belum datang, Nir. Biar tempatnya cukup aja. Lagian apa masalahnya kalau aku duduk didekat kamu?” tanya Auriga dengan ingin tahu.
Nirbana menghembuskan nafasnya kasar, “ya memang nggak salah. Tapi risih aja. Sana sih, Ga...” Nirbana masih giat mengusir Auriga dari sisinya. Tapi Auriga tidak mengindahkannya. Ia masih bergeming dan malah mempernyaman posisinya dengan bersandar dan meletakkan salah satu lengannya disandaran sofa.
“Nir, minta tolong, ambilkan itu dong, air minum, gerah banget gara-gara tadi di mobil,” celetuk Auriga sebelum mengedip nakal yang langsung dibalas kernyitan wajah Nirbana.
Auriga tersenyum cengengesan sambil menaik turunkan alisnya pada Nirbana yang membuat wajah Nirbana jadi semakin kaku. Beneran, laki-laki ini sepertinya perlu periksa kesehatan mental.
“Ogah! Ambil sendiri, punya tangan utuh masih bisa dipake.”
“Astaga, itu jauh, Nir. Kamu lebih deket sama airnya. Kamu juga lebih deket sama aku.” Auriga menunjuk wadah air mineral, kemudian dirinya juga Nirbana bergantian.
Nirbana memasang wajah sinis, “aku bilang enggak mau, Ga.”
“Minta tolong dong, Nirbana cantik.” Auriga masih belum menyerah. Ia terus merayu wanita itu sampai akhirnya Nirbana mengalah. Dengan kesal, Nirbana menyerahkan air mineral pada Auriga—yang kemudian dilanjutkan oleh Auriga meminta ini itu yang lainnya.
Tiga orang lain yang berada disana hanya diam menatap interaksi keduanya yang tampak lebih dekat dari sebelumnya. Ini adalah kali pertama mereka berkumpul bersama pasca pernikahan Arga dan Limar. Meskipun tanpa cerita, mereka sudah bisa menebak kedekatan keduanya hanya karena interaksi ini.
Auriga sengaja bersikap menyebalkan untuk mendapatkan perhatian dari Nirbana—si pendiam dan tenang. Arga mendecak kagum kepada temannya satu itu akan kegigihannya. Walau sudah disembur mantra kutukan oleh penyihir jahat, Auriga tidak goyah sama sekali. Tidak heran kalau nyawa Auriga lebih banyak daripada miliknya.
“Emir nggak ikut, Nad?” tanya Nirbana setelah mencoba untuk mengabaikan kelakuan Auriga.
Laki-laki itu sangat kekanakan. Semakin Nirbana mengkritik perbuatannya, Auriga malah semakin menjadi-jadi. Bahkan kini Auriga sudah duduk santai sambil meletangkan lengannya dibelakang Nirbana, kemudian berkata pada Nirbana agar dia menyandarkan diri pada lengannya.
Nadindra terkekeh kecil melihat Nirbana dan Auriga yang mirip anak anjing dan kucing. Sebuah respon yang jarang diberikan oleh Nirbana pada orang lain. Biasanya Nirbana tidak akan merepotkan diri merespon orang menyebalkan. Nirbana lebih suka mengabaikan orang lain—yang tidak memiliki kepentingan dengannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Better Together [END]
ChickLitNirbana Jenar Kalingga memutuskan pertunangannya satu bulan sebelum sahabatnya menikah. Alasannya karena mantan tunangannya, Dito Firnando, yang sudah gila! Mungkin dia yang gila karena sudi untuk betunangan dengan biang keladi perusak rumah tangga...
![Better Together [END]](https://img.wattpad.com/cover/260181648-64-k410748.jpg)