Sabtu sore pukul empat, Auriga sudah duduk manis diatas motor yang terparkir dihalaman rumah Nirbana. Ia sudah mendapatkan ijin untuk mengakses halaman—bukan didepan pagar lagi seperti biasa. Ia sedang merapikan rambutnya yang sejujurnya sudah ia beri gel sebelum berangkat kemari. Namun karena memakai helm mau tidak mau ia harus menata rambutnya lagi.
Nirbana keluar menggunakan celana jeans berwarna denim lengkap dengan sepatu convers putih, blus senada, juga jaket denim. Di pundaknya tergantung mini slingbag. Senyumannya merekah bersamaan dengan matanya yang melotot kagum karena melihat motor yang sedang ditumpangi Auriga. Auriga memandangnya dengan tatapan bangga, seolah menunjukkan sisi dirinya yang lain—yang tentu saja belum diketahui oleh Nirbana.
Nirbana menghampirinya dengan senyuman merekah, “kamu yakin bisa naik ini?” tanyanya ragu. Nirbana jelas tau kalau ini bukan tipe motor 20 juta, atau 70 jutaan yang lazim dimiliki orang lain. Motor yang berlabel BMW pada bagian tangki itu, Nirbana yakini kisaran harganya pasti setara dengan harga 1 mobil pajero miliknya.
Ia masih menatap kagum kearah motor juga Auriga bersamaan. Senyuman cerah Auriga belum turun semenjak Nirbana menunjukkan batang hidungnya tadi. “Bisa dong, aman naik ini bareng aku.”
“Oh jadi ini rencana kamu, makanya kamu kemarin minta aku pakai celana sampai jaket sekalian. Benar-benar, ada aja sih kamu ini.” gumam Nirbana sambil menyendekapkan tangannya.
“Gimana? Setuju naik ini?”
“Kalau aku bilang enggak, kamu mau ganti gitu?” tantang balik Nirbana.
“Tentu saja enggak. Hari ini kan aku mau tunjukin ke kamu, betapa mempesonanya aku. Lagipula kamu sendiri yang bilang waktu itu, pas lagi dijalan, pengen naik motor dijalanan Surabaya. Kupikir ini waktu yang pas.”
“Kamu yakin bisa naik ini kan?” Nirbana tiba-tiba merasakan dilema. Setahunya Auriga ini pecinta mobil, jadi ia tidak yakin kalau Auriga bisa mengendarai motor.
“Aku punya SIM astaga, Nirbana!” Auriga segera membuka dompetnya, kemudian menunjukkan SIM C nya pada Nirbana. “Gini-gini aku jago main trek-trekan dulu. Ada tuh fotonya kalau mau, dirumah.”
“Serius?” tanya Nirbana diikuti kekehan.
Auriga benar-benar kesal, “astaga, kamu nggak percayaan banget. Makanya sekali kali main ke rumahku. Biar kamu tau juga. Yaudah yuk, tunggu apa lagi?” tanya Auriga.
Nirbana masih bergeming ditempatnya kala Auriga mengangsurkan helm bogo SNI padanya. Auriga bersiap untuk memakai helm miliknya yang berwarna senada—hanya berbeda tipe, mirip helm couple pada umumnya—saat menata Nirbana yang masih mematung. “Kenapa? Nggak nyaman helmnya? Takut rambutnya kusut? Atau apa?” tanya Auriga dengan lengkap.
Nirbana menggeleng, “aku nggak yakin dapat ijin dari Mas Ragha deh.”
“Oh Mas Ragha. Tadi sih udah aku ijinin. Dia lagi keluar kan sama Rissa?” tanya Auriga dengan polosnya.
Mata Nirbana langsung melotot sempurna, “seriusan? Udah dapat ijin? Gimana caranya?” berondong Nirbana dengan penuh rasa penasaran.
Auriga tersenyum yang dipaksakan—sedikit masam. Seandainya Nirbana tau pengorbanannya, mengijinkan Ragha untuk meminjam motor kesayangannya ini selama sehari sebagai ganti ajakan kencannya menggunakan motor kali ini. Ini adalah asetnya yang paling pribadi—ia sayangi dengan sepenuh hati. Terakhir kali meminjamkan motor ini pada orang lain, membuat motornya harus ke rumah sakit hampir sebulan, karena itu dengan hati yang sangat berat Auriga harus mengikhlaskannya.
Tapi apapun akan Auriga lakukan selama itu untuk Nirbana. Meminjamkan motor sehari bukanlah perkara yang sulit jika dibandingkan dengan mendapatkan hati Nirbana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Better Together [END]
Chick-LitNirbana Jenar Kalingga memutuskan pertunangannya satu bulan sebelum sahabatnya menikah. Alasannya karena mantan tunangannya, Dito Firnando, yang sudah gila! Mungkin dia yang gila karena sudi untuk betunangan dengan biang keladi perusak rumah tangga...
![Better Together [END]](https://img.wattpad.com/cover/260181648-64-k410748.jpg)