Happy reading ❤
***
Beruntung Nizam tidak jadi menumpahkan segala amarahnya pada Auriga ketika melihat raut wajah Nirbana. Nirbana memang sempat menceritakan garis besar yang terjadi saat Nizam menelepon sebelumnya. Hal ini juga karena Auriga yang langsung bertekuk lutut untuk meminta restu dari Nizam.
Nirbana tidak bisa tau apa yang mereka bicarakan karena ia harus disibukkan dengan packing barang-barang sebelum kembali ke Surabaya. Tapi yang jelas mereka berdua melakukan obrolan yang serius. Bahkan Razan tidak diizinkan untuk ikut menimbrung.
“Tau nggak Mbak, dari tadi wajahnya Mas Nizam nyeremin, apalagi pas Mbak Nir nggak balik-balik,” kata Rissa ketika mengemasi barang-barangnya.
“Kenapa?”
Rissa menaikkan sebelah pundaknya.
“Ya apa lagi kalau bukan karena kamu, Mbak. Habis kamu telpon Mas Nizam panik gitu,” sahut Razan yang muncul dari luar.
“Kenapa panik?”
Razan memutar bola matanya, “ya masa iya harus aku jelasin juga? Satu-satunya adik perempuan nangis telpon kakaknya pas lagi diculik kencan sama pacarnya. Sebagai saudara pasti jelas memikirkan sesuatu yang tidak-tidak sudah terjadi.”
Seketika tangan Nirbana melemas, “aku nggak nangis!”
Wajah Razan langsung melunak, “nggak nangis? Jadi kenapa Mas Nizam kayak kebakaran jenggot tadi? Aku kira kamu nangis, Mbak. Soalnya kamu kan jarang banget nangis.”
Nirbana ikut menyernyitkan keningnya.
“Kayaknya yang kali ini bukan tipemu, ya, Mbak. Mas-mas juga pada nggak setuju, kan? Dia terlalu UWU untuk kamu yang b aja, ya, Mbak,” ucap Razan dengan enteng bak truk sampah kosong.
Nirbana segera mengapit kepala Razan dengan lengannya, “kamu ini makin lama nyebelin juga. Kayaknya udah lama nggak dikasih pelajaran nih.”
“Ampun, Mbak! Ampun!”
Nirbana melepaskan pitingannya. Razan memperbaiki rambutnya yang berantakan. Bagaimanapun Nirbana sadar dengan apa yang dikatakan Razan memanglah kenyataannya. Razan sangat peka untuk hitungan orang yang baru sekali ini bertemu dengan Auriga. Yang ia tau, ia bahkan belum menceritakan apapun pada Razan tapi anak itu sudah sadar bagaimana posisi mereka.
“Tapi aku lihat Mas Auriga tulus sama kamu, Mbak. Aku punya firasat baik sama ini. Tapi ya kembali lagi ke, Mbak Nir sih. Kan kamu yang jalani, Mbak,” kata Razan terang-terangan.
“Katanya nggak bakal setuju sama yang sekarang?”
“Siapa yang bilang aku setuju? Aku cuma bilang firasat baik. Setuju atau nggak, semua keputusan juga ada ditangan Mbak Nir kan? Dulu juga begitu waktu sama Mas Dito. Aku sudah merasa ada yang nggak beres, tapi Mbak Nir mau saja.”
“Memangnya kamu siapa bisa meramal kayak gitu? Cenayang? Dukun?” sindir Nirbana.
Razan meringis, “ya memang sebagai orang sains aku nggak percaya begituan, Mbak.”
Nirbana geleng-geleng kepala. Saat Auriga muncul di pintu, mereka menghentikan obrolan sejenak. Nirbana menunjuk dirinya sendiri, Auriga mengangguk. Nirbana meninggalkan sisa barang-barang supaya diurus oleh Razan dan Rissa selagi ia mengikuti Auriga berjalan menuju beranda.
“Gimana Mas Nizam?” tanya Nirbana dengan hati-hati.
Wajah suram Auriga perlahan merekah, ia tersenyum cerah sambil mengangguk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Better Together [END]
ChickLitNirbana Jenar Kalingga memutuskan pertunangannya satu bulan sebelum sahabatnya menikah. Alasannya karena mantan tunangannya, Dito Firnando, yang sudah gila! Mungkin dia yang gila karena sudi untuk betunangan dengan biang keladi perusak rumah tangga...
![Better Together [END]](https://img.wattpad.com/cover/260181648-64-k410748.jpg)