Hope you still waiting this story
Don't forget to spread love, comment, vote in this chapter too
Happy reading ❤
***
Dies Natalies dibuka dengan acara jalan sehat dengan menampilkan pakaian khas dengan tema yang berbeda tiap kelasnya. Pagi tadi, Nirbana sudah harus kerepotan untuk membantu Rissa mengatur rambutnya yang harus dikepang lima sebagai ciri khas.
Kelas Rissa mengusung tema hitam putih dengan maskot yang diwarnai hitam putih layaknya peserta lomba pantonim. Ada kelas lain yang bertemakan petani sehingga memakai pakaian ala desa lengkap dengan capil, keranjang jamu, juga sandal jepit dengan kebaya lama juga kaos lurik. Masih banyak tema lainnya, seperti rumah sakit, sehingga satu kelas berpenampilan layaknya suster, dokter, juga pasien.
Nirbana mengikuti arak-arakan jalan sehat. Ia berjalan diantara kelas XI dan X bersama guru-guru lainnya.
Untuk para guru dibebaskan memakai batik atau kostum berdasarkan kelas—kalau menjabat sebagai guardian class. Nirbana memakai batik berwarna merah muda cerah dengan bawahan celana kulot hitam. Ia menggunakan sepatu kets berwarna senada dengan pakaiannya, juga ransel kecil berisi tisu, ponsel, dompet, dan air mineral.
Di depan, ia melihat Mr. Oliver yang berpakaian layaknya tentara dengan baju loreng juga celana kempol. Mr. Oliver sebagai walikelas kelas XI-IPS 1 memiliki tema soldier.
Nirbana menikmati suasana sepanjang perjalanan mereka, karena tiap kelas dinilai kekompakan, maskot, juga yel yel yang terus dialunkan selama perjalanan. Meski tidak jauh—rute jalan sehat mereka—tapi lumayan menguras tenaga.
Saat kembali ke sekolah, mereka sudah disambut oleh MC juga bapak ibu guru yang akan mengumumkan pemenang lomba-lomba yang telah diadakan sebelumnya. Selagi istirahat dan pembacaan pemenang lomba, anak-anak diperkenankan untuk membeli segala jajanan dari bazar yang tersedia.
Nirbana memilih duduk dibawah pohon beringin yang tidak jauh dari panggung utama. Ia mengeluarkan air mineral dari dalam tas saat melihat Mr. Oliver mendekatinya lalu duduk disebelahnya.
“What are you doing here?” tanyanya heran.
“Just sitting. Lagi mager aja. Lagian disana panas.” Tunjuk Nirbana pada deretan kursi di stan staf dan guru yang masih tersorot matahari pagi menjelang siang.
“Okay. Disini juga nyaman, sejuk.” Kata Mr. Oliver.
Nirbana terkikik geli, lalu mengulurkan kipas angin portabel saat melihat Mr. Oliver masih tampak kepanasan. “Ini bisa dipakai.”
“Thank you.”
Belum lama mereka berbincang, Varel menghampiri keduanya, “Miss, tadi dicari Monika. Terus Mr. Oliver katanya Pak Erigo disuruh naik panggung.”
“Dimana Monika sekarang?”
“Di ruang OSIS mungkin. Saya akan mengabari dia kalau Miss Nirbana disini.”
“Thats so kind of you.”
“Saya harus pergi,” kata Mr. Oliver berpamitan pada Nirbana.
Varel dan Mr. Oliver meninggalkan Nirbana ditempatnya. Nirbana menghela nafasnya panjang selagi mengedarkan pandangannya sekali lagi. Anak-anak berbincang, bermain, suka ria bersama. Ada yang bergurau sembari membawa makanan dari stan bazar, menikmati semilir angin sepertinya, juga ada yang berlarian kesana kemari.
Di panggung, Nirbana menemukan Mr. Oliver yang sedang menatapnya. Nirbana melambaikan tangan yang dibalas juga dengan lambaian tangan dari Mr. Oliver. Mr. Oliver mengambil posisinya—sebagai keyboardist, melakukan sound check sebelum memulai pertunjukan musik dengan Pak Erigo sebagai vokalis dan gitar, Pak Daniel di basis, dan Varel sebagai drummer.
KAMU SEDANG MEMBACA
Better Together [END]
ChickLitNirbana Jenar Kalingga memutuskan pertunangannya satu bulan sebelum sahabatnya menikah. Alasannya karena mantan tunangannya, Dito Firnando, yang sudah gila! Mungkin dia yang gila karena sudi untuk betunangan dengan biang keladi perusak rumah tangga...
![Better Together [END]](https://img.wattpad.com/cover/260181648-64-k410748.jpg)