Chapter 15

6.1K 524 15
                                        

Spread you love, vote, comment in this chapter too 😆
Happy reading ❤

***

Tepat di depan bangungan Fakultas Teknik Auriga menghentikan mobilnya. Ini gedung yang sama dengan tempat dimana ia menurunkan Mamanya tadi. Nirbana mengucapkan banyak terimakasih pada Auriga dan mengatakan kalau kebaikan Auriga pasti akan tercatat sebagai amal baik.

Auriga mengatakan ia ikhlas melakukannya, dan mengatakan pada Nirbana agar tidak cemas. Nirbana berkata kalau ia akan menemui kakaknya dan pulang.

Sebelumnya Auriga juga menayakan padanya, kapan ia kembali ke Surabaya. Nirbana mengatakan besok, dan Auriga berniat untuk mengantarkannya sekalian—karena ia juga akan pulang besok.

Kali ini Auriga sedikit memaksa agar Nirbana mau menerima permintaannya, sebagai balasan atas kerja kuli yang ia lakukan tadi. Karena Auriga memaksa, jadi Nirbana tidak bisa menolak. Jadi ia putuskan untuk menuruti kemauan Auriga.

“Nirbana!” panggil seorang laki-laki yang kini berjalan bersama Mamanya dari arah gedung utama. Auriga dan Nirbana yang baru sama-sama keluar mobil saling berpandangan. Begitupun kedua orang yang kini berada dihadapan mereka.

“Kamu kemana aja?” tanya Nizam pada Nirbana. Nirbana berhambur menghampiri Mas Nizam. “Tadi aku ke Panti Mas. Disana susah sinyal, jadi telat ngabarin Mas tadi. Udah nunggu lama, ya?” tanya Nirbana pada Nizam.

Nirbana menatap wanita tua yang tingginya tidak jauh berbeda dengannya. Wanita itu terlihat cantik dan segar. Kulitnya masih putih, senyumannya mempesona. Meskipun Nirbana tau kalau wanita itu berusia lebih dari separuh abad, tapi ia masih tetap bugar dan stylist, terlihat dengan sepatu heels tiga senti yang masih tetap dipakainya. Nirbana tersenyum  mengangguk menyapanya.

“Kenalin, Nir, ini Professorku. Namanya Prof Leny. Dia yang jadi promotornya Mas, waktu sekolah doktoral.” Terang Nizam memperkenalkan wanita cantik ini.

Wanita itu tersenyum hangat pada Nirbana, “wah ini adik kamu yang sekolah S2 di Belanda itu. Cantik. Siapa namanya?”

Nirbana langsung mengangguk hormat, “Mohon maaf atas kelancangan saya, Prof. Saya adiknya Mas Nizam, Nirbana.”

“Wah pasti pinter ini. Nggak kalah sama Masnya.” Goda Prof Leny.

Nirbana tersenyum malu, wajahnya merah redam. Entah apa yang sudah diceritakan kakaknya ini pada wanita itu sampai mereka terang-terangan menggodanya. Padahal S2 nya itu hanya keberuntungan saja. Ia mendapatkan beasiswa dari pemerintah sehingga bisa melanjutkan sampai kesana.

Tidak sadar dari kejauhan ada orang lain yang menjadi pengamat mereka. Laki-laki itu tampak menelisik hal yang terjadi. Ia pun bergabung diwaktu yang tepat.

“Ma, sorry, tadi aku nggak ngecek hape. Aku lagi keluar sama temanku mendadak—“ Auriga sengaja mengarahkan pandangannya pada Nirbana saat mengatakan teman dan secara mendadak.

Leny yang mengetahui kebiasaan Auriga dapat membaca kondisi dengan begitu cepat, “Oh, jadi kalian tadi keluar berdua? Pantesan baliknya barengan.” Kata Leny lagi, “kalian kemana aja? Sampai baru sore pulangnya. Tadi gara-gara kamu hilang, Mama sempet minta jemput Pak Yoyok. Kan gini kasihan Pak Yoyok, sudah mau sampai.” Omel Leny.

Better Together [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang