Chapter 36

4.5K 395 7
                                        

Happy reading ❤

***

Kram perutnya kemarin malam dapat Nirbana tangani dengan baik, tapi hari ini ia masih belum memiliki selera makan. Ia bahkan hanya menyentuh seperempat gelas susu miliknya pada saat sarapan. Rissa dan Razan paham dengan jelas kondisi kakak mereka yang belum prima, tapi tidak ada satupun dari keduanya yang bisa menasehatinya. Nirbana kalau tidak enak badan mirip hyena yang siap menerkam mangsanya.

“Mau aku antar ke dokter aja, Mbak?” tawar Razan melihat Nirbana yang belum terlalu membaik.

Rissa termenung menunggu jawaban dari Nirbana, lalu wanita itu menggeleng lemah, “nggak usah, jangan dulu. Nanti sore aja kalau keadaannya nggak membaik.” Nirbana memberikan keputusan finalnya.

“Nggak bisa gitu Mbak izin sehari. Lagian, Mbak Nir juga nggak bolos karena main. Ini juga karena sakit,” imbuh Rissa memberikan pendapatnya.

Nirbana tersenyum, sadar bahwa kedua adiknya itu kini mengkhawatirkan keadaannya. “Nggak masalah. Aku masih bisa menahannya. Lagian masih ada obat dari Mbak Tuti kemarin, kan. Jangan cemas. Mbak tau bagaimana kondisi tubuh Mbak dengan baik.”

Nirbana segera bersiap untuk berangkat ke sekolah bersama dengan Rissa.

Di sekolah keadaannya tak kunjung membaik. Hari ini ia bertugas sebagai pengawas ruangan–lebih baik daripada saat menjadi petugas absensi yang harus berkeliling ke setiap ruangan. Nirbana hanya bisa duduk dengan lesu, mengawasi murid-muridnya yang sedang mengerjakan ujian.

Ponselnya ia letakkan berjauhan darinya. entah kenapa, ia tidak ingin berhubungan dengan orang lain menggunakan benda itu. Ia benar-benar merasa pusing jika harus menatap ke arah gadget.

Waktu ujian telah berakhir. Nirbana mengumpulkan jurnal kelas berisi tanda tangan siswa yang masuk hari ini. Nirbana merasakan kepalanya kembali pusing saat berjalan keluar ruangan. Ia harus mencapai ruang Adiwiyata yang sementara ini menjadi markas para panitia pengawas ujian.

Nirbana membalas sapa siswa yang berjalan melewatinya. Ia mengusahakan dirinya untuk bertahan sebaik mungkin. Saat berada di ruang Adiwiyata, ruangan itu masih terlihat sepi, mungkin banyak pengawas ruangan yang lain yang belum datang.

Nirbana meletakkan buku jurnalnya pada tempatnya. Ia baru akan melangkah untuk mengambil air mineral saat merasakan kepalanya berdenyut sangat ngilu. Ia tidak sadar apa yang terjadi karena tiba-tiba pandangan matanya gelap. Ia tidak tau apa-apa lagi.

***

Nirbana merasakan sebelah tangannya nyeri akibat tusukan sesuatu. Cahaya terang pertama kali menyeruak saat ia membuka kelopak mata. Ia menghalangi cahaya yang masuk dengan tangannya yang ternyata tersambung dengan selang infus. Nirbana mengernyit, dimanakah ini? Tempat ini tidak familiar dengannya.

Ia baru akan mencari orang yang membawanya kemari saat sang empunya muncul dengan wajah cemas bercampur dengan lega. Bule itu tersenyum letih saat ia melihat Nirbana sudah siuman.

“Dimana ini?” tanya Nirbana masih bingung.

Mr. Oliver membantu Nirbana untuk duduk, “kita ada di UGD RS International.”

“Rumah sakit?”

Mr. Oliver mengangguk, “saat saya masuk ke ruang pengawas untuk mengumpulkan jurnal, saya menemukan Bu Nirbana sudah tergeletak tidak sadarkan diri di lantai. Saya begitu panik, dan akhirnya membawa Bu Nirbana kemari. Katanya ada masalah dengan lambung Bu Nirbana. Belum lagi Bu Nirbana mengalami dehidrasi dan malnutrisi. Semuanya dipicu dengan tekanan stress yang tinggi.”

Better Together [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang