Chapter 30

5K 390 12
                                        

Happy reading ❤

***

“Jadi bisa aku asumsikan kalau kamu memang memiliki perasaan pada Nirbana?”

“Saya mencintai Nirbana, Mas,” kata Auriga dengan tegas, tenang, dan tanpa keraguan. Ia menyorotkan perasaan yang tulus pada setiap gerakan tubuh maupun pandangan matanya, “tapi saya juga tau kalau cinta saja tidak akan cukup,” lanjutnya dengan lugas.

Ragha tersenyum miring.

“Yang aku tau, kalian baru dekat belum lama ini. Apa yang bisa membuat kamu seyakin itu pada adikku?”

“Kalau dibilang yakin 100%, saya tau kalau kesempurnaan hanya milik-Nya. Namun, saya yakin dengan apa yang menjadi pilihan saya, dan saya tidak akan pernah meragukannya.”

“Saya juga tidak akan memaksakan perasaan ini pada Nirbana, atau siapapun. Setiap orang pasti memiliki keraguannya masing-masing. Tapi saya akan tetap optimistis dan berjuang, agar Nirbana tidak akan pernah menyesal setelah memilih saya.”

Easy boy, aku belum membicarakan tentang hal itu,” kata Ragha diikuti kekehan.

“Saya tahu kalau Nirbana menderita tentang kisah masa lalunya. Maka dari itu saya tidak mau memaksa Nirbana masuk kedalam hubungan saat keadaan hatinya masih tidak baik-baik saja. Saya akan menunggu Nirbana. Satu-satunya yang saya inginkan hanyalah Nirbana. Saya ingin siapapun yang ada di sekitar Nirbana, membiarkan saya agar selalu berada disisinya.”

Ragha menghela nafas panjang, ia menyandarkan tubuhnya di kursi, “tapi sekarang ini bukan kamu, namun aku juga tidak bisa memberikan keyakinan itu padamu. Seharusnya kamu tahu tentang masalah yang Nirbana alami ini tidak bisa dianggap enteng. Satu-satunya hal yang menakutkan disini hanyalah kepercayaan.”

Ragha tersenyum miris, “aku pernah memberikan kepercayaan pada orang sepertimu—dulu—yang pernah menganggap Nirbana dunianya, dan sekarang orang itu lah yang menjadi tombak untuk adikku sendiri.”

Ragha menegakkan tubuh, “dengan kata lain, akan sangat sulit untuk kamu melewati batas ini.”

Auriga memandang Ragha dengan serius, lalu mengangguk, “saya paham maksud Mas Ragha. Saya juga tidak akan main-main dengan hal ini. Saya tidak akan menyerah. Seberapa sulit itu, seberapa lama, saya tidak akan jemu. Saya ingin Mas Ragha tau kalau saya serius dengan Nirbana.”

Ragha bangkit dari kursinya, “sepertinya cukup untuk hari ini. Aku tau kalau kamu orang yang cepat tanggap. Kalau kamu tidak benar-benar serius, aku harap kamu tidak akan memunculkan diri di hadapan kami lagi.”

Auriga menghela nafasnya panjang. Nampaknya bukan hanya Nirbana yang memiliki tembok benteng pertahanan yang tinggi, melainkan juga ada tembok-tembok lain yang berdiri di depannya. Menghalau segala macam rintangan, musuh.

Auriga tersenyum. Setidaknya dengan begini ia tau kalau Nirbana selalu dikelilingi oleh orang yang mencintainya, menyayanginya. Keluarga, para sahabatnya. Nirbana satu-satunya manusia yang paling susah untuk ia dapatkan—tapi Auriga yakin, selama Nirbana menjadi pemilik hatinya maka tidak akan ada hal lain yang paling berharga dan membahagiakan untuknya selain ini.

***

Nirbana tengah menunggu di bandara kedatangan—untuk menjemput adik kesayangannya yang baru saja menyelesaikan ujian semester dan menikmati liburan. Ia sengaja mengajak serta Rissa karena mereka hari ini akan bertolak langsung ke Malang mengunjungi Nizam. Ragha sedang bekerja, jadi tidak bisa menemani mereka berlibur akhir pekan ini.

Kehidupannya berjalan seperti biasanya. Bekerja, relawan, bersenang-senang. Namun, akhir-akhir ini ia sering bertukar kabar dengan Auriga, yang mula nya hanya jarang menjadi lebih intens.

Better Together [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang