Chapter 41

3.9K 322 6
                                        

Happy reading!
Sorry for typos 🤪

***

Nirbana kembali ke rumah Nizam. Ia tidak berani kembali langsung ke Surabaya—mengingat ini juga waktu weekend. Nizam cukup curiga karena Nirbana lebih pendiam dari biasanya. Nirbana juga banyak menangis. Nizam ingin segera menodong pertanyaan pada Nirbana, tapi ketika melihat raut Nirbana yang tidak bisa diganggu, Nizam putuskan untuk menundanya.

Nirbana tidak ingat apa saja yang sudah ia katakan pada Mama Auriga. Yang jelas ia sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka tepat di depan Mama Auriga. Ia mengira jika ia akan menerima amarah Leny, tetapi wanita itu malah memberikannya pelukan hangat seorang Ibu. Nirbana tidak tau apakah Leny hanya ingin menghiburnya atau bermaksud lain.

Lebih cepat menghadapi kenyataan daripada menundanya. Seperti duri dari dalam daging. Kalau dibiarkan lukanya bisa membusuk dan menyebar ke penyakit lain. setelah dicabut—merasakan sakit yang lebih—lalu setelah itu diobati akan merasa jauh lebih baik.

Tau kalau Nizam mencemaskannya, Nirbana keluar dari kamar—zona nyamannya. Ia berjalan menghampiri Nizam yang terlihat duduk santai di depan televisi.

“Mas jalan-jalan yuk, kok pengen shopping ya?” tanya Nirbana sambil menjatuhkan diri di samping Nizam.

“Tumben kamu mau shopping?” lempar Nizam.

Nirbana menunjukkan senyumannya, “sesekali Mas. Oh ya, sekalian ngunjungin panti, aku udah lama nggak main ke sana deh.”

“Boleh,” jawab Nizam.

Kemudian keduanya diam.

“Mas daripada ngelihatin terus gitu, kalau mau ngomong, ngomong aja kali,” gurau Nirbana.

Nizam menyelipkan rambut Nirbana pada telinganya, “kamu ada masalah apa? Nggak mau bilang ke Mas?” tanya Nizam lembut.

Nirbana memandang Nizam lurus-lurus, kemudian menjawab, “aku mau putus sama Auriga.”

Mata Nizam langsung membulat, kaget. “Putus? Tunggu, maksudnya gimana? Putus terus ganti status menikah gitu?” tanyanya diselingi canda.

Nirbana menggeleng lemah, “putus ya putus Mas.”

Kini senyuman Nizam memudar, ia tahu memberitahunya bukanlah hal yang mudah untuk Nirbana karena ia melihat Nirbana berpura-pura agar terlihat baik-baik saja. “Mas boleh tau apa alasannya?”

Nirbana memandang Nizam ragu, kemudian setetes air matanya jatuh, “kalau buat  nyalahin Auriga, asal mas tau, Auriga itu cowok paling baik yang pernah Nirbana kenal.”

“Tapi apa yang dia lakukan, sebaik apapun itu, kalau dia melukaimu, di mata Mas dia tetap jahat, Nir,” bisik Nizam memberitahu Nirbana jika adiknya itu adalah yang paling berharga untuknya.

Nirbana menggeleng, “kalau begitu Mas salah. Bukan dia, tapi aku yang nyakitin Auriga Mas.”

“Gimana bisa?”

Nirbana menggigit bibirnya, tidak sampai hati untuk menceritakan kebodohannya mengikuti Dito hingga berakhir di ranjang bersama laki-laki brengsek itu.

“Dia setuju kamu minta putus?” tanya Nizam lagi.

Nirbana menggeleng, “nggak tau. Aku belum bilang.”

“Nir, kamu tahu kan, komunikasi itu yang paling penting dalam hubungan.”

“Ini bukan masalah komunikasinya, Mas. Auriga berhak mendapatkan orang lain yang lebih baik dari aku,” ungkap Nirbana lagi.

Nizam tidak mau berdebat karena ia tahu kalau Nirbana sudah memutuskan maka akan sulit mengubahnya. “Kalau menurutmu itu adalah pilihan yang terbaik, Mas akan ikut pilihan kamu.”

Better Together [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang