Chapter 42

4.2K 337 1
                                        

Happy reading!
Sorry for typos 🤪

***

Nirbana menghabiskan akhir pekan dengan berbelanja dan mengunjungi panti asuhan. Banyak kenangan yang muncul ketika ia mengajak Auriga kesana. saat itu mereka belum sedekat itu. Auriga dengan sabarnya mengikuti langkahnya kemanapun yang ia mau.

Malamnya, Nirbana mengajak Nizam pergi ke paralayang untuk melihat pemandangan malam yang indah. Nirbana mengakui kalau suhu disana lebih dingin daripada suhu di kota asalnya. Nirbana menyesal karena tidak membawa jaket tebal untuk ini—meski ia sudah memakai jaket milik Nizam.

Nizam kembali dengan dua cangkir STMJ di tangannya. Ia menyodorkan salah satunya pada Nirbana yang langsung menyesapnya dengan riang.

“Nir?”

“Hmm,” balas Nirbana dengan dehaman. Ia lantas menunjukkan gemerlap cahaya lampu dari ketinggian di kegelapan. “Bagus banget ya, Mas. Sayang dingin.”

“Kamu udah ngobrol sama Auriga?” tanya Nizam langsung. Ia tahu kalau Nirbana akan mengalihkan pembicaraannya lagi.

“Jaketnya mas ketipisan ih. Harusnya aku pake yang tebel, nanti kapan-kapan aku bawa deh, tinggalin disini biar bisa dipake—“

“Nirbana...” panggil Nizam lagi.

Nirbana menghela nafasnya, “belum.”

“Dia cemas tau.”

“Aku tau,” balas Nirbana singkat.

“Terus? Mau kamu diemin aja begitu?”

Nirbana memandang Nizam lagi, “aku bakalan mutusin dia pas aku pulang nanti. kalau dia juga udah selesai sama bisnisnya,” jawab Nirbana enteng.

“Tadi dia telepon Mas. Katanya dia udah ke Ragha, tapi kamunya nggak ada.” Nizam terus menceritakan obrolannya dengan Auriga. Nirbana tampak acuh, tapi sebenarnya ia mendengarkan.

“Dia bilang dia lagi ngurus sesuatu yang penting,” kata Nizam lagi. “Dan dia bilang ke Mas kalau dia ingin membawa Mamanya buat perkenalan di rumah sana.”

Nirbana menoleh dengan tatapan ingin tau, “kenapa?”

Nizam mengendikkan bahunya, “mana Mas tahu?”

“Tapi aku sudah bilang ke tante Leny kalau—“ kalimat Nirbana menggantung karena tanpa sadar ia sudah mengungkapkan rahasia kecilnya.

“Kamu ketemu Prof Leny? Kapan?” tanya Nizam bingung. Dua hari ini Nirbana terus bersama dengannya.

Nirbana tidak menjawab, “eh mas liburan semester ini aku pengen jalan-jalan deh.”

Nizam mengerutkan keningnya, “kemana?”

Nirbana menunjukkan trip liburan yang di iklankan di instagram. “Banyak pilihannya.”

Nizam mengangguk, “mau pergi?”
Nirbana mengangguk semangat.

“Sendiri?”

Nirbana mengangguk lagi, sebelum mengerucutkan bibirnya, “kalau mas kasih izin.”

“Acara perkenalannya? Lamaran kamu? persiapan nikahan?” tanya Nizam tanpa jeda.

Nirbana mengerutkan kening, “siapa yang mau lamaran sama nikah?”

“Loh, gimana sih?”

Nirbana menghembuskan nafas kesal. “Aku mau putus mas. Sekarang belum, tapi segera.”

“Auriga bilang acara kenalannya masih tetap lanjut gitu?” tanya Nizam bingung.

“Ya biar dia kenalan sendiri.”

Better Together [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang